
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tiga hari usai Leno memberitahukan bahwa dirinya akan menikah, Dita berusaha untuk menjauhinya, namun pria itu selalu saja datang mengganggunya.
"Ngapain sih masih nemuin saya terus.."cetus Dita saat ini ia sedang berada di bengkel, motor Scoopy miliknya kembali bermasalah, beruntung hari ini Calista tak pergi ke rumah sakit, jadi Dita menyempatkan membawa motornya ke bengkel.
"Nemenin kamu doang kok,..."
"Kamu kan udah mau menikah, ya udah dari pada gangguin saya terus mendingan temuin calon istrinya aja.."ujar Dita.
Leno memicingkan matanya, "udah tiap hari kok ketemu calon istri saya mah. Kamu cemburu ya Dit.."
"Cemburu? memangnya apa hak aku. Ngaco ya.."Dita memalingkan mukanya.
Leno mengerutkan keningnya, berusaha membaca gelagat wajah gadis di depannya itu. Tak lam ponsel miliknya berdering.
"Ya ma.."
"...."
"Oke.."
Leno menutup telponnya, "aku balik dulu ya. Aku lupa kalau di suruh nganterin mama beli perlengkapan lamaran.."pamitnya, Dita hanya menganggukkan kepalanya, sembari menatap punggung Leno yang perlahan menghilang meninggalkan dirinya.
Gadi itu tersenyum kecut sembari memegang dadanya yang terasa nyeri. Perlahan ia kembali menepisnya.
Apaan sih? bodoh, kau hanya pelayan lalu kau berharap apa Dita. Jangan mengharapkan dirimu yang berubah menjadi Cinderella.
"Neng, motornya udah beres ni.."ucapan seorang pria pegawai bengkel itu menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
β’
β’
"Kak Wildan.."seru Dita saat mendapati Wildan tengah duduk di ruang tamu bersama Darren juga Calista.
Tatapan ketiganya mengarah pada Dita, "Eh nyonya ."
Wanita cantik yang sedikit kurus itu hanya membalasnya dengan senyuman, "sudah beres Dita motormu..?"tanya Darren.
"Sudah Tuan."sahutnya.
"Duduklah, ada yang ingin kakakmu bicarakan..."perintah Darren.
Sedikit ragu namun pada akhirnya Dita pun mendudukan dirinya di sana, "bereskan pakaianmu kita pulang.."perintah Wildan.
Deg, Dita mengangkat wajahnya yang semula menunduk menatap Wildan dengan tatapan bingung.
Wildan menghela nafasnya, "ayahmu masuk rumah sakit Dita..."pada akhirnya Wildan terpaksa mengatakan kejujurannya. Dita terkejut.
"Dia sangat merindukanmu, kakak merasa bersalah telah membawamu pergi demi menghindari perjodohan itu.."sambungnya.
β’
β’
β’
Jona memijat kepalanya yang terasa pening saat kembali mengingat rencana perjodohan itu. Terus berpikir mencari jalan keluar namun tak juga menemukan jalan.
__ADS_1
Brakk..
Meremas frustasi, Jona melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya. Ia terus keluar menuju di mana mobilnya terparkir.
"Sayang..." Angela menyapa begitu mendapati Jona masuk ke dalam apertemen miliknya, tanpa tau malu wanita itu langsung mencium, mendekap, mengelus tubuh Jona. Ia menggiring pria itu untuk duduk di sofa.
Jona memejamkan matanya sesaat merasakan sensasi-sensasi yang di ciptakan oleh Angela, yang kini tengah berada dalam pangkuannya.
"Hentikan Angela..."perintah Jona, namun Angela tak mengindahkan ucapannya, wanita itu semakin bergerak liar dalam pangkuannya
Dengan geram Jona mendorong tubuh wanita itu membuat ia terjatuh di lantai.
"Kok dorong aku sih..?"teriak Angela kesal.
Jona tak peduli, dia kesini ingin menyampaikan maksud tujuannya, bukan untuk melepaskan hasratnya, ancaman-ancaman sang papa terus bersarang dalam otaknya.
"Aku mau kita putus. Mulai sekarang kita tidak ada hubungan apa-apa.."ucap Jona yang kini kembali menegakkan tubuhnya.
Angela langsung terlonjak kaget, ia beridiri, "aku tidak mau-.."
Angela berusaha untuk menolak mendekati Jona. Kehilangan Jona berarti ia juga harus kehilangan segala kemewahannya
"Kamu tega Jo, kamu bahkan udah ngerasain tubuh aku, segalanya buat aku sekarang kamu mau putus gitu aja..."sentak Angela.
Jona tersenyum sinis, "kamu lupa segalanya ya. Aku bukan orang pertama yang menyentuh tubuhmu,.."ucapnya sembari melangkah keluar dari apartemen Angela, tak peduli wanita itu terus meneriaki namanya.
Jona kurang ajar, lihat saja apa yang bisa aku perbuat untukmu.
β’
__ADS_1
β’
Tbc