
Senyum mengembang terlihat di raut wajah pucat Calista, usai menghabiskan sarapannya, Darren berjanji akan membawanya bertemu Senja.
"Ayo mas..."seru Calista.
Darren menghela nafasnya lemah, meletakkan piring dan gelas kosong di atas nakas, "sebentar sayang, kamu tak sabaran banget..."
Calista mencebik, "aku benar-benar ingin melihatnya mas, aku rindu ingin memeluk putri kita.."
Darren mengangguk, ia berjalan mengambil kursi roda. Kemudian ia membantu istrinya untuk turun dari ranjang menuju kursi roda yang sudah ia siapkan.
Ia mengambil infus lalu memberikannya pada Calista, sementara kedua tangannya mulai mendorong kursi roda Calista keluar menuju ruangan bayinya.
Terus tersenyum bahagia Calista selama dalam perjalanan, ia membayangkan akan membawa sang putri ke dalam dekapannya.
Sampai depan ruangan itu, Darren menghentikan langkahnya sejenak, dari balik kaca Darren menunjukkan bayi mereka.
"Dia, putri kita...?"tunjuk Darren.
Calista tersenyum haru, "Senja kita.."
"Iya sayang,.."sahut Darren ia memutar tubuhnya lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya pada Calista, menatap haru pada wajah istrinya.
Seorang suster datang menghampiri keduanya, "Tuan, nyonya ..."sapanya.
Baik Calista maupun Darren keduanya sama-sama menengok ke arahnya.
"Apakah anda ingin melihat bayi anda.."ucap perawat itu.
Keduanya mengangguk, usai itu perawat membimbing Calista dan Darren masuk mendekati Senja.
"Ini Mommy sayang..."ucap Calista begitu sampai di dekat putrinya. Calista melihat begitu kecil tubuh putrinya itu.
"Maaf sayang, Mommy tak dapat memberimu asi..."sambungnya dengan gemetar sejuta perasaan bersalah, karena memang ASI-nya tak dapat keluar sama sekali.
"Maaf sayang..."
"Sssst.. ini bukan salahmu sayang.."Darren berjongkok menatap wajah istrinya, "perjuanganmu melahirkan dia ke dunia ini bahkan sangat luar biasa sayang.."tutur Darren menenangkan.
__ADS_1
"T-tapi..."
Darren meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya, "lihatlah dia sayang. Dia juga sedang berjuang. Jadi bisakah kau juga berjuang untuk kesembuhan mu..?"tanya Darren.
Calista mengangguk, "iya mas aku akan berjuang.."
"Aku ingin menggendongnya mas bolehkah.."pinta Calista.
Darren menanyakannya pada suster, dan suster itu pun mengijinkannya. Perlahan ia mengeluarkan Senja dari tempat kotak transparan itu, lalu memberikannya pada Calista.
Calista menitikkan air matanya haru, ia mencium pipi putrinya, "ini Mommy sayang. Kita berjuang sama-sama ya, kamu harus segera sehat lalu kita pulang.." Darren pun melakukan hal yang sama mencium pipi putrinya.
Dari luar ruangan itu, Mona dan Aeron menatapnya ketiganya haru.
"Aku tak kuat mas melihatnya, kenapa mereka harus melalui cobaan seperti ini.."seru Mona, ia menutup wajahnya menahan tangis yang mendera. Aeron menarik tubuh istrinya membawanya ke dalam dekapannya.
Hanya beberapa menit momen itu berlangsung, karena Senja haru kembali di masukan ke inkubator, pun juga kondisi Calista yang lemah harus mendapatkan perawatan.
••
"Tuan masuk dulu ya.."ijin Dita pada Jona, pria itu hanya menjawab lewat anggukan kepalanya.
"Iya.."sahutnya.
Tring.. tring.. ponsel dalam saku Jona berbunyi. Jona merogohnya, "sana masuk, Calista pasti sudah menunggumu.."titahnya, sebelum kemudian ia menjauh dari sana guna mengangkat ponsel miliknya. Sementara Dita pun berlalu masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Ya sayang..."
"...."
"nanti malam aku datang, pakai pakaian yang seksi ya..."
"...."
"Oke emuuachh..."
Jona mengakhiri panggilannya lalu sambil berjalan ia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya lagi.
__ADS_1
Bugh.. brakkkk...
"Damn it! Sialan!"umpat Jona begitu menabrak seseorang dan ponsel miliknya terjatuh.
"Hei jalan tuh pakai mata bukan pakai lutut..."sentak Jona kesal.
Seorang gadis berkaca mata itu sontak meradang, "punya otak gak di pakai, jalan tuh pakai kaki bukan pakai mata.."bela gadis itu.
Gadis itu bangun dari posisinya menatap tajam ke arah Jona, "kamu..."ucap keduanya.
"Dasar gadis kutu-" ejek Jona setelah melihat penampilan gadis itu dengan kaca mata, beserta buku-buku yang ia bawa kini telah berserakan di lantai.
••
Dengan perasaan kesal yang melanda, Jona melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Calista.
"Kenapa muka mu...?"tanya Darren.
"Aku ketemu orang gila dan sinting barusan.."jawabnya kesal.
"Cewek apa cowok..?"tanya Darren tanpa mengalihkan tatapannya dari istrinya.
"Cewek.."jawabnya melengos, ia berjalan mendudukan dirinya di sofa.
"Jodoh mu kali ya.."
"Sembarangan..."sangkal Jona berteriak kesal.
"Sttttt diam, Napa istriku lagi tidur. Ayo kita keluar, kamu kesini pasti ada yang mau disampaikan kan?"ajak Darren.
Jona mengangguk, berdiri mengikuti Darren keluar, setelah sebelumnya Darren memberi perintah Dita untuk menjaganya.
"Gimana? Apa kamu udah konsultasi lagi dengan dokter..."tanya Jona, usai keduanya mendaratkan pantatnya di kursi yang berada di kantin. Sembari memanggil pelayan untuk menyiapkan pesanannya.
••
Rencananya mau namatin novel ini di bulan ini, doain ya😀.
__ADS_1
Tbc