
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah olahraga lima jari, Jona keluar dengan keadaan yang sudah fresh. Ia berlalu membuka lemari, untuk mengganti pakaiannya.
"Gue gak pernah kaya gini, tanganku sampai pegal gini. Setan!.."umpatnya.
Usai pakaiannya rapi Jona merangkak ke ranjang bersiap untuk memejamkan matanya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering, Jona melirik ke atas nakas, ternyata persediaan air minumnya habis.
Jona ingin beranjak ke dapur, namun ponsel miliknya yang berada di atas kasur berdering, di sana tertera nama Mama sebagai penelepon.
Jona mengangkatnya lebih dulu,.
"Ya ma..?"ucapnya.
"Di mana Jo?"tanya mama Liliana di balik telepon.
"Rumah akulah.."jawabnya jujur.
"Kamu bawa Melodi kesana...?"sentak Mama terdengar begitu melengking.
"Iyalah mamaku sayang, emang siapa lagi? Eh ngomong-ngomong mama tau dari mana?"
Terdengar helaan nafas panjang dari mama Liliana, "dari orang tua Melodi, beraninya kamu bawa anak orang nginep, awas kalau kamu macam-macam ya, mama sunatin kamu..."ancamnya.
Jona bergidik ngeri, "gak mungkin lah ma macam-macam, paling cuma satu macam..."
"Jonaaaaaaaaa..."teriak Mama Liliana begitu memekik telinganya. Membuat Jona segera menjauhkan ponselnya.
"Awas kalau kamu berani menyentuh calon menantu mama, kamu mama coret dari ahli waris.."ancamnya kembali.
"Tega banget sih ma! Anak mama itu sebenarnya siapa sih.."dengusnya.
"Karena mama tau banget kamu, gak bisa liat wanita bening dikit, tuh ekor kamu pasti langsung bangun, awas aja kalau kamu berbuat demikian.."
__ADS_1
"Gak ma, ya elah. Ya udah lah aku ngantuk ma mau tidur sekalian peluk Melodi..."godanya.
"Jonaaaaa... "teriak Mama Liliana kembali sebelum akhirnya Jona memilih mematikan ponselnya, membiarkan sang mama di sana pasti mengumpat dirinya tak jelas.
Tau aku ma, Melodi itu bukan kaya wanita yang aku kenal, susah banget buat deketin, kayaknya bakal susah juga nyentuh dia nanti, gumamnya.
Jona berjalan menuju dapur, ia megambil air putih dalam lemari pendingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas kosong miliknya. Matanya kembali melirik ke arah jendela, di mana hujan deras masih berlangsung di sertai petir yang menggelegar. Jona berniat kembali menuju kamarnya, melewati kamar yang di tempati Melodi.
Jleb.. tiba-tiba lampu itu padam, keadaan menjadi gelap gulita. Beruntung Jona membawa ponsel miliknya, segera ia menyalakan flash dalam ponselnya, untuk menerangi jalannya.
"Jangan....."teriaknya.
"Jangan... ku mohon jangan .......,"
Suara teriakan itu membuat langkah Jona terhenti.
"Ayah ibu tolong Mel....huhuhuhu...."teriakan histeris dan tangisan itu begitu mengusik Jona.
Ceklek.... begitu pintu terbuka, kedua mata Jona membelalak dengan sempurna, ia melihat Melodi tengah meringkuk di bawah ranjang. Wanita itu menelungkup kan badannya memeluk kedua lututnya, dengan badan yang bergelar.
Duar....
"Ibu ayah, Mel takut ......"teriaknya kembali histeris.
"Apa yang terjadi..?"gumam Jona, pria itu memberanikan melangkah, sembari membawa alat penerang yang berasal dari ponselnya.
Mendengar suara derap langkah seseorang yang mendekat Melodi mengangkat kepalanya,
"Jangan mendekat... Ku mohon jangan..."teriak Melodi histeris.
"Mel ini aku Jona, Mel..."seru Jona.
"Berhenti ku mohon berhenti, kau brengsek Do, aku membencimu, sangat membencimu. Jangan berani menyentuhku, kau menjijikan..''Melodi terus berteriak histeris.
__ADS_1
Do? siapa yang di maksud Melodi, dalam benak nya tentu itu menjadi sebuah pertanyaan yang besar.
"Kau jahat Do? Ayah ibu tolong Mel, Mel takut Bu, ini gelap Bu..Mel takut...."sebuah rintihan yang terdengar pilu, dan Jona tak mengerti kenapa.
Grepp... Jona berhasil membawa Melodi ke dalam dekapannya.
"Lepas, lepaskan aku. Aku membencimu..."teriaknya, wanita itu terus meronta dalam dekapannya, memukul-mukul dada bidang Jona.
"Ini aku Mel, Jona.."seru Jona berusaha menyadarkan Melodi.
Melodi terus berontak, membuat Jona semakin mempererat pelukannya.
"Lepaskan aku,... Aku tak Sudi untuk kau sentuh..."ucapnya kembali.
Entah mengapa jeritan dan tangisan Melodi terdengar pilu dan menyesakkan dadanya, ia menduga sesuatu pasti pernah terjadi sebelumnya.
"Mel tenanglah. Ini aku Jona .."teriak Jona, hilang sudah batas kesabarannya. Jona mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, ia memang tak pernah pandai jika harus menahan emosinya.
Hiks... hiks... Melodi kembali menangis.
"Maaf,.."ucap Jona dengan sesal.
"Ini aku Jona, Mel. Tenanglah. Tidak ada yang perlu kau takutkan di sini.."seru Jona.
"Jo aku takut....."lirih Melodi, wanita itu kembali mempererat pelukannya, saat menyadari bahwa pria yang bersamanya kini Jona.
Jona terus mengelus punggung Melodi dengan lembut setelah ia berhasil membawa wanita itu naik ke ranjang, tak lama Melodi pun terlelap. Dengan tangan yang masih menggenggam tangan Jona.
Tak lama lampu kembali menyala, Jona melihat Melodi sudah kembali terlelap dalam keadaan tenang. Ia ingin beranjak, namun genggaman tangan Melodi terlalu kuat.
"Aduh gimana lepasinnya ya. Gue takut kalau nanti pagi dia bangun, liat gue di sini, di malah berteriak histeris.."gumamnya.
Tbc
__ADS_1