Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
DIAM


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Ada apa mas?"tanya Calista yang samar-samar mendengar bunyi pecahan gelas.


Darren menggenggam tangan istrinya, "lho mas itu bukannya Jona kenapa dia lari-lari.."sambung Calista kembali bertanya.


"Calon istrinya ngambek. Mereka sedang ada masalah sayang. Kita pulang aja ya,..?"seru Darren.


"Tapi mas aku kan..."


"Kapan-kapan aku ajak kamu ketemu mereka deh, tapi gak sekarang. Keadaannya lagi tak memungkinkan sayang.."bujuknya.


"Baiklah, ayo pulang. Aku sudah kangen Senja..."sahutnya.


Sebelum keluar, Darren dan Calista berpamitan pada Leno dan Dita, juga bibi Nancy.


"Maaf ya Bibi, aku tidak bisa sampai selesai.."ucap Calista.


Bibi Nancy tersenyum manis, "kamu udah mau datang aja udah makasih banget Calista. Bagi bibi yang penting kamu sehat dulu.."tutur Bibi Nancy.






Melodi membasuh wajahnya demi menjernihkan otaknya. Teman ranjang? ia mengingat kembali perkataan wanita yang bernama Angela tadi. Paham! Melodi sangat paham artinya. Artinya adalah Jona itu...


Aaaaa, tak sanggup Melodi membayangkannya. Entah kenapa dadanya kian terasa sesak, tak ada air mata yang keluar, tapi kenyataan itu mampu membuat nafasnya berhenti sesaat.


Bayangan kisah masa lalu suram kembali terlintas. Apakah Jona juga sama seperti pria yang pernah singgah di hatinya dulu.


Lama berperang dalam pemikirannya, Melodi kembali berusaha menguasai diri, ia tak ingin gegabah dalam bersikap.


__ADS_1




"Mel.."panggil Jona, wajahnya menyiratkan aura kekhawatiran. Jona sengaja menunggu Melodi keluar dari toilet.


Melodi melirik ke arah Jona sembari tersenyum tipis, "kenapa? kamu kok di sini mau di toilet juga.."tanyanya.


Jona menggeleng, "gue nunggu Lo.."sahutanya.


Melodi mengangguk paham, "ya udah kita balik lagi ke pesta ya. Kita kan belum kasih ucapan selamat buat teman kamu, habis itu aku mau pulang kepalaku pusing.."ujar Melodi.


"Kamu sakit..?"Jona memegang tangan Melodi perlahan ia meletakkan telapak tangannya di kening Melodi, "kita ke rumah sakit ya...?"tawarnya.


Melodi menggeleng, "aku gak papa..."sahutnya sambil menepis tangan Jona, lalu melenggang pergi dengan sedikit tertatih-tatih jemari kakinya yang belum di obati akibat pecahan gelas tadi tentu terasa perih.


Jona mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, kata enggak apa-apa dari Melodi justru seakan menyiratkan sebuah arti yang berbeda.


"Gue gak pernah tau cara bersikap lembut dengan perempuan, kecuali di ranjang. Eh setan! semua ini gara-gara Angela, wanita sialan.."umpatnya.


Akan lebih baik bagi Jona jika Melodi langsung marah-marah padanya melampiaskan kekesalannya, tapi pemilihan gadis itu yang memilih diam, justru membuat ia serba salah.






"Mel biar gue obati dulu luka Lo, duduk dulu," pinta Jona ia meminta Melodi untuk duduk di kursi setelah ia meminta kotak p3k pada seorang petugas pelayan hotel.


"Aku bisa sendiri kok .."sahut Melodi, menolak halus bantuan Jona.


Jona memejamkan matanya, menggeram kesal, "Lo itu keras kepala banget sih! gue cuman bantu doang, gak bakal bunting cuman gue gini doang! Lo jijik banget kayaknya sama gue ya.."sentak Jona, mengingat beberapa kali pertemuannya dengannya, Melodi memang tak pernah mau untuk ia sentuh, sekedar untuk berpegangan tangan pun.


"Jo .."panggil Melodi, menatap pria yang berjongkok mengobati lukanya itu.

__ADS_1


"Hem..."


"Angela itu-"


Deg.. Jona menghentikan tangannya menatap Melodi sejenak.


"Dia ngomong apa ke Lo?" tanya Jona.


"Teman...... dia bilang teman ranjang mu.."jelas Melodi, tangannya nampak mengepal berkeringat dingin. Kata ranjang itu seolah kembali membuka luka lama.


"Mau jawaban jujur apa bohong?"tawar Jona sembari menyelesaikan mengobati luka Melodi


"Jujurlah...!"


"Yakin?"


Melodi mengangguk.









"apa yang di katakan Angela itu benar.."


••••


Siapkan mentalmu Melodi, babang Jo emang kebanyakan nyelup sih,🤣🤣🤣 gak kasihan tuk ma calon bini, kalau aku jadi bininya sandal langsung melayang .🤣🤣

__ADS_1


Tbc


__ADS_2