Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
BOLEH EGOIS


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sejak kejadian beberapa tahun silam, Melodi menutup dirinya dari pria, dia tidak pernah berfikir kapan akan menikah, baginya sembuh dari trauma itu adalah hal yang sangat beruntung, meski terkadang mimpi buruk itu datang.


Hingga pada saatnya kedua orang tuanya mengatakan akan menjodohkan Melodi, anehnya Melodi pun menurutinya. Hampir dua Minggu berjalan dan mencoba dekat dengan Jona, rasa takut berjalan dengan lawan jenis itu pun berangsur hilang. Jona tak pernah marah kala Melodi menolak untuk ia genggam tangannya, pria itu berpelilaku baik padanya, meski terkadang dari segi bicara terdengar ketus dan blak-blakan, dan itu menjadi sebuah warna untuknya.


Jona mencoba meraih tangan Melodi lalu menggenggamnya, "gue punya masa lalu yang buruk Mel, bahkan terdengar brengsek dan bajingan gue. Gue sering gonta-ganti pasangan dalam pertner ***, hanya demi kepuasan. Tapi setelah orang tua gue mengatakan akan menjodohkan gue, gue memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan itu Mel.."


"Dua Minggu gue jalan bareng sama Lo, gue ngerasa nyaman sama Lo, Lo beda dari wanita yang selama ini sering gue kenal. Gue ngerasa beruntung.."Jona menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, pria itu memejamkan matanya sejenak.


"Terlepas dari masa lalu gue, gue juga pengen berubah Mel. Gue juga pengen menjalin rumah tangga, tapi Mel gue gak akan maksa Lo buat Nerima gue. Gue terima keputusan apapun, Lo berhak mendapatkan pria yang lebih baik Mel, gue sadar sih. Tapi kalau boleh egois, gue pengen Lo Nerima gue?"ucapnya.


Hening..


Melodi masih larut dalam diamnya, ia kembali memijat keningnya, entah kenapa kepalanya terasa pusing. Lalu perutnya terasa perih, ia lupa tadi belum makan apapun sebelum berangkat menemani Jona, Melodi pikir ia akan makan di pesta aja. Tapi kedatangan Angel justru merusak segalanya.


"Jo, aku lapar.."ucap Melodi membuat Jona melongo.

__ADS_1


"Lapar, Lo gak niat mau jawab pertanyaan gue sekarang.."desak Jona.


Melodi menggeleng, "lapar Jo. Kamu tega amat bawa anak orang gak di kasih makan..."cetus Melodi.


Astaga! Jona beranjak berdiri lalu mengusap wajahnya dan berdecak kesal, ia menatap wajah Melodi yang kian memucat, "Lo lapar beneran.."tanya Jona lagi.


"Ya ampun Jo, mana ada sih aku pura-pura. Jelek amat sih pikiran calon suamiku..."sahut Melodi.


Calon suami! apa Jona tak salah dengar.


"Enggak, emang aku ngomong apa. Udah Jo, aku mau makan. Kamu pelit amat jadi Tuan rumah tamunya di anggurin gak di jamu sih."cibir Melodi mengejeknya, Jona tak peduli ia tetap tersenyum manis menatap Melodi.


Jona merogoh ponselnya, mencari aplikasi lalu menekannya demi memesankan makanan buat Melodi.


"Jo, aku lapar..."desak Melodi.


"Iya bentar, ini gue lagi pesan makanan, bawel. Gue cium juga Lo ..."sahutnya.

__ADS_1


Melodi memandang tajam ke arah Jona, "berani cium beneran, aku potong juga burung mu..."


Sontak Jona mendelik lalu memegang benda pusakanya yang tepat berada di sela-sela pahanya, "mati dong gue nya Mel..."


Melodi terkikik geli, hal itu tak luput dari tatapan Jona, untuk pertama kalinya ia melihat Melodi tersenyum tulus tanpa beban.


Ting tong...


Bunyi bel pintu membuyarkan lamunannya, bergegas Jona melangkah membuka pintu.


"Makasih pak.."ucap Jona.


Lalu Jona membawa makanan itu masuk, menuju ruang makan di ikuti Melodi. Keduanya mulai makan dalam diam.


•••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2