
"Tidakkkk......"jerit Darren.
Dorr...
Bunyi tembakan yang di sertai jeritan keras memekikkan telinga dengan tubuh di depannya yang ambruk dengan bersimbah darah.
Suara letusan pistol itu sungguh membuah Darren takut ia menatap sang istri dengan pias, otaknnya seakaj buntu, sungguh jika memang benar Calista tiada akan lebih baik dirinya pun mati saat itu juga. Namun kejadian di depannya sungguh tak terduga, Darren menangis haru tak hentinya ia mengucap kata syukur. Ketika melihat istrinya selamat, sedangkan Caren, wanita itu mati dengan tembakan yang tepat di kepala Caren. Calista meras syok akan kejadian barusan, ia hampir jatuh jika saja Darren tak sigap menarik dan memeluknya.
Mario turun dari tangga dengan badan gemetaran membawa pistol di tangannya. Ya, dialah orang yang sudah menembak mati Caren, wanita yang selama ini menjadi teman tidurnya. Matanya menatap sendu pada jasad Caren, seperti apapun Caren bersikap, ia pernah menjadi bagian dari hidupnya. Detik berikutnya ia tersenyum puas, melihat wanita itu kini sudah dalam keadaan tak bernyawa.
"Mario..."panggil Diko pada putranya, ia tak menyangka jika putranya sanggup melakukan hal nekat itu.
Mario menatap sang ayah dengan tetap membawa pistol di tangannya, "ayah kau di sini .."tanyanya terkejut.
Diko mengangguk, "lepaskan pistolmu nak, berikan pada ayah..."pinta Diko.
__ADS_1
Mario tersenyum menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "tidak ayah, pertunjukkan ini belum selesai.."ucapnya yang membuat semua orang di situ terkejut.
Belum selesai? apa maksudnya, apakah Mario akan tetap membunuh Calista, pikir mereka.
"Jangan berani macam-macam Mario, hentikan niat burukmu untuk membunuhnya, dia Calista teman masa kecilmu, putri dari Paman Aeron dan Bibi Mona, apakah kau ingat..."sentak Diko berusaha menyadarkan sang putra.
Mario mengangguk, "aku ingat ayah. Aku ingat sekali..."lirihnya.
"Ayah tolong katakan pada Mama, aku minta maaf telah menjadi anak pembangkang untuk kalian..."sambung Mario.
"Apa maksudmu? Mama pasti memaafkan mu sayang, ayo pulanglah.."ajak Diko.
Kini tatapan Mario beralih menatap Calista dengan lembut, ada senyum ketulusan dan cinta di sana, "Calista, ini aku Rio..."ucap Mario pada Calista.
Calista hanya terdiam menatap sendu Mario, ya dia ingat sekali siapa Rio baginya dulu.
__ADS_1
"Aku telah menepati janjiku untuk membebaskanmu Calista, meski sedikit terlambat. Tolong, setelah ini berbahagialah dengan pria yang kau cintai, karena tak akan ada lagi yang mengusik hidupmu..."ucap Mario tersenyum pada Calista. Mario mengangkat pistol dan tangannya meletakkannya tepat di kepalanya sendiri.
Dorrr ....
"Mario ...."
"Kak Rio...."
Bunyi tembakan kedua berasal dari Mario yang menembak kepalanya sendiri, membuat semua orang terkejut. Calista menjerit memanggil namanya, ia berteriak histeris sebelum kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
Begitupun dengan Diko yang terkejut, ia menghambur memeluk tubuh sang putra, yang di kepalanya terus mengeluarkan darah, "kenapa kau senekat ini, apa kau terlalu mencintainya, hingga kau harus menyusulnya mati.."ucap Diko lirih, ada perasaa sesal yang mendalam, mengingat bagaimana ia begitu mengekang putranya itu.
Darren dengan sigap membawa Calista ke mobil menuju rumah sakit. Aeron menatap iba pada temannya itu, ia mendekatinya lalu menepuk pundaknya, "maaf.."ucapnya.
Diko menggeleng, "tidak, ini bukan salahmu.."sahutnya.
__ADS_1
••
Tbc.