
Lima tahun kemudian
Di sebuah taman depan rumah samping, dua orang anak kecil tengah bermain lari-lari, sementara dia atas kursi seorang wanita tengah duduk menatap putra dan putrinya yang tengah bermain.
"Sayang!"seorang pria datang menegurnya dengan stelan jas yang membalut rapi di tubuhnya, wanita itu menoleh.
"Daddy sudah pulang,"sahutnya sambil beranjak mendekati suaminya.
"Ya dan kau terlalu asyik memandangi putra dan putrimu itu, sampai tak mendengar mobilku aku datang,"sahut Daniel dengan cemberut.
"Jangan marah sayang, dia anak-anak kita, dan kau masih saja cemburu,"sahut Senja gemas.
Cup.. cup.. Demi mengembalikan senyum suaminya, Senja terus memberikan kecupan di kedua pipinya.
"Sayang, kerja itu tak boleh setengah-setengah,"ujarnya saat istrinya menyudahi kecupannya.
"Lalu?"
"Sini belum?"tunjuknya pada bibirnya.
"Tidak! kalau di situ nanti kamu nginep,"jawabnya membuat Daniel tergelak, istrinya memang selalu pandai membaca gelagatnya.
Senja melengos, Daniel menarik Senja ke dalam pelukannya, "aku mencintaimu,"bisiknya, sambil membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, menghirup aromanya dengan pelan.
"Aku juga mencintaimu,"sahutnya.
__ADS_1
"Daddy, Mommy!"tegur keduanya.
Empat tahun yang lalu Senja melahirkan buah hatinya yang kembar, keduanya sepakat memberi nama Calista dan Darren.
"Daddy minggir, jangan peluk-peluk Mommy-ku,"cebik keduanya, sambil berusaha menarik jas Daddy-nya, berusaha menjauhkannya dari Senja.
Daniel semakin mengeratkan pelukannya, ia sengaja menggoda kedua putranya.
Huwwa.... "Daddy nakal"jeritnya dengan tangisan yang menggelar.
Sontak Senja mendorong tubuh suaminya, "kebiasaan selalu membuatnya nangis,"decak Senja.
Daniel hanya tersenyum tanpa rasa bersalah, menggoda kedua anaknya dengan memeluk Senja adalah kebiasannya, kedua anaknya itu terlalu posesif pada istrinya, hingga ketika dia harus bermesraan dengannya, ia harus pandai-pandai mencuri waktu.
"Mereka memang cengeng,"ucap Daniel makin menjadi, sontak Senja melototinya.
"Apa kamu bilang,"tepukan pelan di lengan Daniel dari Senja mendarat dengan sempurna, hingga membuat ia mengasuh kesakitan.
Aww
"Sakit sayang! kamu galak banget kaya macan,"seru Daniel.
Senja berdecak pinggang menatap suaminya, "Darren, Calista ayo kita serang Daddy, dia sudah jahat dengan Mommy..."ucap Senja pada kedua anaknya.
"Serang..."
__ADS_1
Bugh.. Daniel terjatuh, lalu Kedua putranya mulai memberi pelajaran padanya, dengan memukulnya dengan tangan kecilnya. Sementara Senja sendiri justru menggelitik tubuh suaminya.
"Ampun sayang! ampun, aduh geli sayang. Hentikan Daddy nyerah, Daddy hanya bercanda,"ucap Daniel dengan pakain dan keadaaj yang sudah berantakan akibat ulah ketiga orang yang ia sayangi.
"Daddy harus minta maaf dulu sama Mommy,"ucap sang putri.
"Iya benar kata Caca,"sahut Darren.
Daniel menggaruk tengkuknya, lalu mengubah posisinya kembali duduk, "sayang, maaf ya aku cuma bercanda,"ucapnya pada Senja ia menari tangan istrinya lalu mengecupnya pelan.
"Aku tau kok,"sahutnya sambil tersenyum.
Daniel membalasnya dengan senyuman, lalu menariknya kembali ke dalam pelukannya, "Daddy tidak memeluk kami,"seru kedua buah hatinya itu.
"Kemarilah sayang,"pinta Daniel.
Lalu keduanya menghambur memeluk, kedua orang tuanya, Daniel tersenyum bahagia, "Daddy mencintai kalian,"ucapnya.
"Kami juga mencintai Daddy,"sahut ketiganya.
Mengurai pelukannya, Senja mengajak ketiganya untuk masuk.
"Ayo masuk, Daddy juga harus mandi, dan Mom juga harus masak sayang,"ajaknya.
"Ayo Mommy, Caca bantuin ya,"seru putrinya.
__ADS_1
"Boleh sayang,"balas Senja.
Setelah itu mereka beranjak masuk ke dalam rumah. Ya rumah yang mereka tempat merupakan rumah kedua orang tau Senja, berhubung Senja adalah anak tunggal harta warisannya jatuh ke tangan Senja sendiri.