
Hari berlalu dua minggu usai pesta ulang tahun Calista, keadaan masih sama seperti sebelumnya. Sampai detik ini Meysa masih menepati janjinya untuk tak memberi tahu soal Calista pada siapapun, termasuk Darren. Hanya saja ia menjadi sering mendatangi rumah Calista dan Darren, demi melihat keadaan Calista sesungguhnya.
"Mama sakit? Kok terlihat begitu pucat?"tanya Calista saat melihat wajah Mama Meysa yang nampak begitu pucat, kantung matanya terlihat menghitam.
Mesya tersenyum, "tidak sayang,"jawabnya. Usai mengetahui keadaan Calista sesungguhnya Meysa merasa begitu terpukul, ***** makan mendadak hilang, pun ia menjadi sering bergadang.
Meysa berusaha mencari tahu tentang dokter yang terbaik untuk mengobati penyakit Calista, nyatanya sampai detik ini tetap saja informasi yang dapatkan tetap sama, karena Calista sedang hamil, pengobatan yang di lakukan akan sangat beresiko bagi kehamilannya, hal itu dapat memicu janin dalam kandungannya terlahir cacat. Meysa juga mencari informasi seputar ramuan pengobatan China, hasilnya tetap sama.
Ini merupakan titik lemahnya, perasaan tak berdaya menggrogoti dirinya, Calista baru merasakan setitik bahagia, namun kenapa dia harus menderita penyakit itu, kenapa tidak dirinya saja, bukankah Meysa lah dulu penyebab Calista tak bahagia, kenapa Tuhan harus menghukum Calista? kenapa tidak dirinya saja. Ia takkan mungkin sanggup kehilangan seorang anak lagi.
••
Leno tetaplah Leno pria yang nekat selalu menggunakan segala cara, tak peduli sekalipun Calista adalah istri dari adik sepupunya ia bertekad akan merebut Calista darinya. Nyatanya cinta telah membuat seseorang berubah menjadi egois.
Terlihat aneh memang, Leno tidak pernah benar-benar jatuh cinta seorang wanita, hanya dengan Calista ia dapat merasakan hal itu. Bisakah untuk hal ini ia menjadi lebih egois, ia tidak ingin mengalah. Selama ini apapun yang ia punya telah ia berikan pada Darren, bahkan kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak sedikitpun Leno merasa iri akan kasih sayang yang kedua orang tuanya berikan pada Darren, ya Leno menyayangi Darren layaknya seorang adik kandung.
Hampir tiap hari Leno mengirimkan barang-barang untuk Calista, hal itu sukses membuat Calista merasa risih. Darren merasa geram lantaran pukulan yang pernah ia berikan pada kakak sepupunya tak juga membuat ia jera. Harus dengan cara apa? Jika saja bukan Calista yang Leno inginkan tentu apapun itu akan ia berikan padanya. Sekalipun ia harus undur diri dari jabatannya di perusahaan miliknya, apapun itu akan ia berikan. Tapi untuk Calista, Darren tidak akan sanggup kehilangannya. Calista adalah hidupnya saat ini. Tak peduli apapun yang terjadi Darren akan tetap mempertahankan Calista di sisinya.
__ADS_1
Malam ini, semua anggota keluarga tengah berkumpul makan malam di rumah Mama Meysa. Bram merayakannya, karena perusaahnnya kini berkembang pesat. Sejak tadi Darren begitu gelisah lantaran melihat tatapan Leno yang begitu intens pada istrinya, rasa cemburu, kesal telah bersatu.
"Ikut aku kak, aku perlu bicara denganmu,"ajak Darren, tanpa menunggu jawaban Leno, Darren beranjak dari tempat duduknya, Leno mengikuti kemana Darren berjalan.
"Apa maumu?"tanya Darren to the point saat keduanya kini tengah sampai di gazebo.
"Aku hanya ingin Calista,"jawab Leno santai.
Darren mengepalkan kedua tangannya, tak sanggup lagi ia menahan gejolak emosi yang ia rasa. Memutar tubuhnya, ia segera mencengkram erat kerah baju Leno. Calista yang berdiri tidak jauh daro keduanya, segera berlari kecil berusaha melerai keduanya, sebelumnya Calista sudah menduga akan ada sesuatu yang terjadi saat suaminya membawa Leno keluar.
"Brengsek! Aku sudah memperingatimu sejak awal, jauhi Calista. Dia istriku,"bentak Darren.
Bugh, sekuat tenaga Darren memukul Leno hingga membuat pria itu jatuh terhuyung ke belakang. Leno hanya terdiam menatap Darren dengan senyuman santai, tak sedikitpun pria itu berniat memukul adik sepupunya, hal itu membuat Darren merasa geram, ia kemali melayangkan pukulan di perut Leno, hingga membuat Leno merintih kesakitan.
Aeron dan yang lainnya, hanua terdiam. Aeron ingin menyimak baik ucapan dan perrengkaran keduanya, ia ingin tau apa yang terjadi antara mereka.
"Aku mencintai Calista, Darren. Tak peduli sekalipun kau memukuli diriku, itu tak akan dapat mengubah perasaanku padanya. Aku akan berusaha merebutnya darimu,"sahut Leno dengan nada lemah.
__ADS_1
Calista yang masih dalam dekapan Ibu Mona pun terlihat shock mendengar pengakuan Leno. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, lalu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Setan! dia istriku Leno sialan! Dia istri dari adikmu,"lagi dan lagi Darren memukuli Leno secara brutal dan membabi buta. Randy dengan sigap melerai keduanya.
"Ba**ngan kau Leno! Kakak macam apa dirimu. Jika kau benar melakukannya, aku akan benar-benar membunuhmu, sialan." teriak Darren dengan mata memerah ia menatap tajam kaka sepupunya yang sudah babak belur akibat ulahnya, hatinya benar sakit lantaran tak percaya kakaknya akan melakukan hal itu padanya. Leno telah kehilangan akal sehatnya.
••
Like
Komentar
Hadiah
Vote
Tbc.
__ADS_1