
Sebuah alunan lagu dari Shane Filan dengan judul Beutiful In White, mengalun dengan indah. Usai makan, semua keluarga yang berada memberikan mengucapkan selamat untuk Calista.
Kini Darren tengah mengajak istrinya untuk berdansa, senyum kebahagiaan terus terpancar di wajah Calista. Calista terus mengikuti gerakan dansa suaminya.
"Kamu cantik banget malam ini,"bisiknya membuat wajah Calista merona.
So as long as i live i love you
(maka selama aku masih hidup, aku kan mencintaimu)
Will have and hold you
(Aku kan miliki dan mendekapmu)
You look so beutiful in white
(Kau nampak sangat cantik dengan berpakaian putih)
Alunan lagu yang terus berputar membuat Calista merasa terharu, seolah lagu itu memang di tujukan untuk dirinya.
And from now to my very last breath
(Dan mulai kini hingga hembusan nafas terakhirku)
This day i'ill cherish
(Hari ini kan ku kenang)
You look so beutifiul in white
(Kau nampak cantik dengan berpakaian putih)
*Tonigh*t
(Malam ini)
Entah kenapa lagu itu berhasil menyentuh relung hatinya yang paling dalam, menatap wajah suaminya penuh cinta, tiba-tiba kepalanya mendadak sangat sakit. Sekuat tenaga ia menahannya, Calista menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, ia berusaha sekuat mungkin untuk memyembunyikan rasa sakitnya.
__ADS_1
Ya Tuhan, ku mohon jangan sakit sekarang,gumamnya
"Aww,"ringis Calista membuat Darren tersentak.
"Ada apa? kau sakit, bagian mana sayang ayo katakan,"tanya Darren penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja mas,"elaknya.
"Tidak kau pasti bohong, jelas aku mendengarmu merintih kesakitan,"cecar Darren, ia membawa Calista untuk kembali duduk.
"Aku hanya ingin buang air kecil, mas aku ke toilet ya,"seru Calista.
"Aku antar ya,"Darren dengan sigap berdiri.
"Tidak perlu, aku hanya sebentar,"Calista berusaha menolak.
"Darren kemarilah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu,"kata Jona.
Pada akhirnya Calista pergi ke kemar mandi seorang diri, sepanjang jalan ia terus memijat kepalanya yang mulai terasa begitu sakit.
Brugh, tak sengaja ia menabrak seseorang.
Sementara Meysa yang empat bertabrakan dengan Calista merasa heran, lantaran melihat jalan Calista yang terburu-buru.
"Calista, kenapa dia begitu terburu-buru,"gumamnya. Tidak mau banyak menduga, Meysa lebih memilih untuk mengurungkan niatnya kembali ke tempat acara, wanita setengah baya itu akhirnya memutar tubuhnya ke toilet.
Saat berada di depan toilet Meysa mendengar suara orang muntah-muntah, seketika pikiran buruk menghampiri, bergegas Meysa membuka pintu secara perlahan. Ia melirik ke setiap sudut toilet dalam keadaan sepi. Melangkah masuk, Meysa tersentak saat melihat Calista sedang muntah-muntah, bergegas ia menghampirinya, dan memijat tengkuknya.
"Sayang! mama bantu ya, kamu merasa mual?"Meysa memijat tengkuknya.
Calista tersentak wajahnya kian memucat, buru-buru ia menyalakan krannya dan mengguyur bekas muntahannya tadi.
"Mama, aku baik-baik saja ma,"ucapnya, Calista mengangkat wajahnya menatap Meysa. Namun sepertinya ia melupakan sesuatu, hingga membuat Meysa terkejut melihat kondisi dirinya.
"Sayang! apa yang terjadi?"desak Meysa kini tubuhnya gemetar.
"Ma, aku baik-baik saja,"Calista berusaha menyangkal.
__ADS_1
Meysa menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca, wanita itu mengangkat tangannya, "darah! Bagaimana bisa ada darah,"ucap Meysa saat ia berhasil memegang hidung Calista yang masih menyisakan noda darah.
Calista tersentak, sangking paniknya ia lupa membersihkan hidungnya dengan benar.
"Ma jangan khawatir, aku baik-baik saja,"
Meysa menggeleng, "bagaimana mungkin kamu mengatakan baik-baik saja sayang. Sedangkan mama melihat dengan mata kepala sendiri kamu mimisan. Katakan pada mama sayang apa yang terjadi,"dengan badan yang gemetar Meysa terus mendesak Calista, rasa takut hinggap pada hatinya, ia baru kehilangan putri kandungnya, ia tidak akan mau kehilangan Calista.
"Kita ke dokter ya sayang ya? Mama akan telpon Darren, dia harus tau kondisimu,"sambungnya dengan tangan gemetar Meysa mengambil ponsel di tasnya.
"Jangan! ma ku mohon jangan katakan apapun pada mas Darren dan semuanya, percayalah ma aku baik-baik saja tidak ada hal yang buruk padaku,"tutur Calista, usia kehamilannnya masih terlalu dini, Calista tidak mau Darren tau kondii tubuhnya dan membuat pria itu bersedih.
Meysa menggeleng, ia bersikeras memberi tahu Darren, Calista berlutut di depan Meysa sambil menangis.
"Ma ku mohon, jangan ma. Aku baik-baik saja."isaknya.
"Bangunlah nak, kenapa kau seperti ini."Meysa berusaha membuat Calista bangun.
Calista justru semakin terisak, tak tega Meysa membawa Calista ke dalam dekapannya, "ku mohon jangan ma, jangan memberi tahu apapun pada mas Darren aku baik-baik saja,"
"Calista, meski mama bukan seorang dokter tapi mama tau ada sesuatu yang tidak beres padamu. Kita dokter ya nak ya? kita periksa keadaan kamu,"tutur Meysa membelai lembut punggung Calista.
Calista menggeleng,"aku tidak mau"
"Mama hanya punya dirimu dan Darren sayang, mama sudah tidak mempunyai anak lagi. Mama tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu,"lirih Meysa.
"Aku sehat ma, mama jangan khawatir,"
••
Like
Komentar
Hadiah
Vote
__ADS_1
Tbc