
Dua hari usai hilangnya Calista, membuat Darren terasa tersiksa, ia seperti kehilangan nyawanya, tak pernah tidur, juga makan, Darren teramat mengkhawatirkan istri tercintanya itu. Ia telah mengulang kembali menyusuri tempat, namun belum menghasilkan apa-apa.
Seperti Darren, Aeron pun melakukan hal yang sama, ia merasa khawatir pada putrinya, belum lagi Mona, sang istri yang terus menangis histeris mengkhawatirkan keadaan Calista.
Lewat rekaman cctv jalanan tempat di mana Calista di culik, Aeron akhirnya menemukan titik terang tentang mobil yang membawa putrinya itu pergi.
Kini keduanya bersama Jona, sedang dalam perjalanan.
"Ayah kita mau kemana?"tanya Darren.
"Ke tempat teman lama ku.."
"Bukankah ayah bilang kita mau menyelamatkan Calista..?"tanya Darren.
Aeron mengangguk, "ya, ini juga ada hubungannya dengan istrimu.."jawabnya.
Jona hanya terdiam menyimak obrolan keduanya.
••
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah berlantai tiga itu, seorang penjaga menghampiri mobil mereka.
"Maaf, kalian siapa?"tanya penjaga.
Dari yang mereka duga tak sembarang orang bisa masuk ke sana.
__ADS_1
"Apa Tuan mu ada?"bukannya menjawab Aeron justru berbalik tanya.
"Ada t-tapi..."
"Katakan padanya, jika Aeron Adidarma datang, dan ingin bertemu dengannya.."sahut Aeron cepat.
Penjaga itu segera mengangguk, kembali ke posko menelpon majikannya. Usai itu ia kembali menghampiri mereka.
"Tuan, sudah menunggu di dalam. Silakan masuk saja Tuan.."serunya, ia mempersilahkan mobil Aeron masuk setelah membuka gerbang yang menjulang tinggi itu.
••
Ketiganya masuk ke dalam rumah mewah itu dengan di antar oleh pelayan. Di ruang tamu sudah terlihat sang tuan rumah sudah menunggu kedatangan mereka.
"Wah, ada angin apa seorang Tuan Aeron tiba-tiba berkunjung rumah ku, itu merupakan suatu kehormatan bagi ku"sambut Diko.
Diko tersenyum tipis, "baiklah, silakan duduk..."ia mempersilahkan duduk, lalu meminta pelayan untuk membawakan minuman dan cemilan.
Lama tak jumpa Tuan Diko berbincang-bincang sebentar. Tak lama seorang pelayan datang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Melihat raut wajahmu, aku kira ada sesuatu yang tidak beres, apa yang terjadi..?"tanya Diko usai melihat raut wajah cemas teman lamanya itu.
"Ya, di mana putramu yang bernama Mario..?"tanya Aeron to the point.
Diko mengerutkan keningnya bingung, "putraku? Dia bilang, dia sedang berada di luar kota, dan tidak akan kembali dalam waktu beberapa hari ini.."jawab Diko jujur.
__ADS_1
Aeron terkekeh, "putramu itu sedang membohongimu Dik, saat ini dia sedang bersembunyi, membantu Caren yang menculik putriku Calista.."tutur Aeron, membuat Diko tersentak kaget, ada rasa tak percaya saat ia mendengar putra yang selama ini ia banggakan melakukan hal keji seperti itu.
"Putrimu, Calista di culik. Tapi aku mendengar berita apapun.."seru Diko.
Kini Aeron menatap Diko dengan tatapan dingin, "ya, putriku di culik dan entah di sembunyikan di mana. Semua ini karena putramu, jika saja ia tidak membantu Caren, ini tak akan mungkin terjadi. Kau tau Caren kabur dari penjara demi menghabisi putriku..."ujar Aeron.
Wajah Diko mengeras tangannya mengepal, "aku sudah memperingati Mario, untuk menjauhi wanita ****** itu, kenapa ia tak mendengarkan ku. Dia sungguh membuatku kecewa.. Maafkan putraku Aeron. Katakan padaku, apa yang dapat ku lakukan, agar bisa membantumu...?"tanya Diko.
"Telpon Mario saat ini juga, di hadapan kami. Tanyakan saat ini ia di mana? Dan jangan katakan jika ada kami di sini.."pinta Aeron.
Diko mengangguk, usai itu ia mengambil ponsel nya menghubungi putranya, ia berbasa-basi, demi mencari informasi.
Usai mendapatkan apa yang mereka cari, ketiganya berpamitan untuk pergi.
"Tunggu..."cegah Diko.
"Kenapa?"sahut Aeron.
"Aku akan ikut dengan kalian untuk menyelamatkan putrimu.."
"T-tapi..."
"Anggaplah sebagai permintaan maaf ku, atas kelakuan putraku, aku akan menjamin putrimu akan kembali dalam keadaan baik-baik saja.."ujar Diko.
Aeron pun mengangguk, mengijinkan Diko unti ikut dengannya.
__ADS_1
••
Tbc