
"Sebaiknya kau tidur dulu Darren, kau juga perlu istirahat.."tutur Jona.
Darren melirik ke arah Jona sesaat, lalu ia menghela nafasnya, "bagaimana aku bisa tidur, sementara aku sendiri tidak tau keadaan istriku saat ini, Jo.."sahutnya.
"Kita akan kembali mencarinya besok, tenanglah. Ayah mertuamu juga sudah bertindak, aku yakin besok kita akan segera menemukan istrimu.."Jona terus berusaha menenangkan sahabatnya itu. Ia merasa kasihan terhadap Darren, karena pria itu tidak mau makan apapun sebelum istrinya ditemukan, ia merasa khawatir jika Darren justru akan drop sebelum Calista ditemukan.
Darren menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, "apakah dia kesakitan seperti biasanya? apakah dia sudah makan?.."lirihnya dengan pikiran yang berkecamuk kemana-mana ia terus kepikiran soal Calista, "aku takut Jo, jika Caren akan melakukan hal yang kasar pada Calista. Kau tau bagaimana nekatnya wanita iblis itu, harusnya dulu aku langsung saja membunuhnya.."sambungnya.
Jona tetap terdiam membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan isi hatinya, tak lama pancaran kemarahan terlihat jelas di matanya, ia mengepalkan kedua tangannya erat, "jika dia berani menyakiti istriku seujung kuku saja, aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri.."ancamnya.
••
__ADS_1
Meysa terlihat tak berdaya dengan keadaan kedua tangan dan kaki di ikat, wajahnya terlihat memar, bibirnya mengeluarkan darah, ia menatap Caren dengan tatapan tajam.
"Di mana Calista..?"tanya Meysa.
Mendengar pertanyaan Meysa, Caren segera bangkit dari kursinya mendekati Meysa.
"Aku sudah membunuhnya, dan sebentar lagi juga giliranmu Mama tercintaku, hahahaha..."sahutnya, ia terus tertawa mengerikan.
"Brengsekkkkk! Dasar anak tidak tau diri, kau tak tau balas budi, kau kejam, kau hanyalah iblis yang berkedok manusia.."umpat Meysa pada Caren.
Plak... Lagi dan lagi ia kembali menampar Meysa.
__ADS_1
"Cih! Lalu jika aku adalah manusia yang tak diri, apa bedanya denganmu wahai Mama tercintaku. Tentu kau ingat dengan perbuatanmu padaku, saat aku berada di penjara, kau pikir aku tidak tau dengan apa yang kau perbuat.."ucap Caren.
Ia kembali menatap tajam pada Meysa, tak peduli bahwa wanita yang berada di depannya kini adalah wanita yang telah membesarkan dirinya.
"Kau, telah memberiku racun kan. Aku tau benar tujuanmu, yaitu melenyapkan nyawaku. Sayangnya tak semudah itu, kau tidak berhasil membunuhku, tapi kau telah berhasil membunuh bayi dalam kandunganku. Aku perlu berterimakasih padamu, tanpa susah payah aku melenyapkan bayi itu, dia sudah mati, lalu polisi membawaku ke rumah sakit saat aku dalam kondisi pendarahan, dokter mengatakan aku keguguran, kau tau apa yang ku lakukan.." Caren kembali menjauhkan wajahnya dari Meysa.
"Usai itu, aku berpura-pura menjadi orang yang berdepresi berat, hingga harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, beruntung para polisi bodoh itu tak mencurigaiku. Cih! Bagaimana aku bisa depresi hanya karena bayi sialan itu mati, aku justru bisa depresi jika aku tak dapat membalaskan dendam ku padamu dan Calista. Setelah itu, aku menyusun strategi untuk melarikan diri dari sana, selanjutnya kau taulah apa yang ku lakukan. Bagaimana? Aku pintar kan.."kata Caren dengan bangga.
"Kalau gitu lepaskan Calista, karena aku yang berusaha membunuhmu bukan Calista..."teriak Meysa.
Caren mengambil pistol di atas meja lalu menodongkannya tepat di kepala Meysa, "dia adalah pangkal dari permasalahan ku, kau tau, karena dia telah membuat Darren menjebakku dengan di gilir beberapa pria, demi memuaskan naf su bejatnya.."geram Caren, ingatannya kembali melayang bagaimana ia di paksa melayani para pria hidung belang saat itu juga.
__ADS_1
••
Tbc