
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Note \= Masih tentang Jona dan Melodi, boleh skip bagi yang gak suka😔, aku males kalau harus bikin buku pisah soalnya.
.
.
.
.
Suara dentuman garpu dan sendok saiing beradu, Melodi makan dengan lahap, Jona sesekali melirik ke arahnya.
"Lapar banget ya Mel..? Gue kira bercanda,"tanya Jona di sela-sela makannya.
"Aku kan belum makan. Niatnya mau makan di pesta tadi, makanannya kan pasti enak-enak, tapi kedatangan hama darimu membuat moodku buruk..."jawab Melodi menghentikan makannya sejenak.
"Hama? Maksudnya..?"
"Kenapa? Gak terima banget kayaknya partner ranjangmu, aku bilang hama..."cebik Melodi.
Jona terkekeh, "gak peduli gue, Lo mau bilang dia hama, ulet keket, bahkan Mak lampir sekalipun. Gue udah gak ada hubungan apa-apa sama dia.."jelas Jona.
Melodi meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya tanda makannya telah usai, "aku kamu Jo, masa Gue Lo sih..."serunya, ia merasa kurang suka cara bicara Jona.
"Iya sayangnya aku,.."goda Jona.
Uwek.. Melodi melengos mendengar godaan Jona, "sayang-sayang pala Lo peang..."umpatnya sembari berdiri mengambil piring kotor membawanya masuk ke dalam dapur.
"Gak mempan godaaan gue, setan!"umpatnya pada diri sendiri.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Mel..?"panggil Jona menyusul Melodi ke dapur yang sedang mencuci piring kotor bekas makan mereka tadi.
"Hem..."sahutnya, tanpa melirik ke arah Jona.
"Harusnya mah gak usah di cuci Mel, besok kan ada orang yang datang membersihkan rumah ini.."tutur Jona.
"Orang cuman sedikit kok..."sahutnya.
"Mel.."panggilnya lagi.
"Apa sih Jo, dari tadi mal mel Mulu...."cetusnya kesal mengeringkan tangannya menggunakan kain lap yang tersedia di sana.
Jona terkekeh, "gue, eh aku penasaran sebenarnya, dulu dua kali aku bertemu kamu di rumah sakit itu, kamu ng hiapain di sana...?"tanyanya.
Melodi terdiam mengingat kembali rangkaian pertemuan yang tak sengaja itu, tanpa menjawab wanita itu memilih berjalan keluar dari dapur menuju ruang tamu, ia mendudukan dirinya di sana. Jona senantiasa mengikutinya di belakang.
"Gak usah di jawab deh kalau emang-"
"Pertemuan pertama itu aku cuma jenguk teman kerjaku yang kecelakaan, kalau yang kedua..."jawabnya sambil menghela nafas berat, seolah ada beban berat yang ia rasakan.
Jona mengangguk paham, "lalu yang kedua? Pacar mu yang kecelakaan gitu..hahaha,"Jona berusaha mencairkan suasana melihat wajah Melodi yang mulai menggelap.
"Aku habis menemui psikiater..."jawabnya yang membuat wajah Jona terkejut.
__ADS_1
"Psikiater? Kamu....?"
Melodi mengangguk, "aku punya trauma kecil Jo! Pacar? Aku udah lama gak punya pacar Jo, sejak...."Melodi menghentikan ucapannya sejenak ia memegang kepalanya yang terasa pusing, ketika kembali mengingat kenangan silam beberapa tahun yang lalu, yang membuat hatinya terluka.
"Udah Mel, gak usah di paksa. Aku gak maksa kamu cerita sekarang, kalau emang itu terasa berat."tutur Jona, ia melangkah mendekati Melodi, lalu memberanikan diri menarik wanita itu ke dalam dekapannya, badannya tampak bergetar, Melodi hendak melepaskan dekapan itu, namun Jona menariknya.
"Tenanglah Mel, aku gak akan melakukan apapun pada mu, aku hanya meminjamkan bahumu untuk bersandar, lepaskan bebanmu Mel, kau boleh menangis..."ujar Jona sambil membelai lembut punggung wanita itu, Melodi terisak dalam dekapannya, "gue takut Jo..."isaknya.
Tak sadar Jona mengepalkan tangannya, hatinya terasa tercubit mendengar isakan kecil dari bibir wanita itu. Takut? Apa yang wanita itu takutkan? Banyak pertanyaan bersarang dalam otaknya, namun Jona memilih diam, ia tak kan mungkin memaksa Melodi untuk bercerita saat ini.
Tiga puluh menit berlalu, Jona tak lagi mendengar isakan Melodi, ia pun mengurai dekapannya, ternyata Melodi tertidur.
Ponsel dalam tas Melodi berdering, dengan susah payah Jona memberanikan diri membuka tas wanita itu mengambil ponselnya, ternyata ayahnya Melodi yang menelpon.
"Aku lupa bawa anak orang, pasti orang tuanya khawatir.."gumamnya.
Jona memberanikan diri mengambil mengangkat ponsel Melodi, ia mengatakan dengan sejujurnya. Ayahnya Melodi pun paham.
Usai menutup telponnya, Jona menggendong melodi menuju kamarnya, lalu membaringkannya di ranjang secara perlahan, menarik selimut tebalnya lalu menutupi tubuh Melodi, menatap wajah wanita itu sejenak, Jona menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
Jona tersenyum, satu kata yang mampu ia ucapkan, cantik pujinya. Jona mencondongkan wajahnya memberanikan diri mengecup kening Melodi singkat.
"Nyicil ya Mel..."ucapnya.
Usai itu Jona beranjak dari sana, buru-buru ia keluar dari sana sebelum setan-setan membisikkannya untuk berbuat terlalu jauh.
Jona mengelus dadanya, "bahaya dekat-dekat dengannya. Masa begitu doang bisa tegang sih! Anjir! Gue harus mandi air dingin ni..."
•••
Baru up maaf ada kendala jaringan di tempat aku..
Tbc
__ADS_1