Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Ucapkan selamat tinggal


__ADS_3

Calista menatap sedih ke arah Mama Meysa yang terbaring lemah usai mendapatkan pukulan dari Caren. Malam tadi Caren berniat menembak Calista mati, lagi dan lagi Mario mencegahnya, pria itu menendang pistol yang di genggam Caren, kemudian menampar wajahnya. Caren merasa tak terima, merasa tak dapat melampiaskan amarahnya pada Calista, akhirnya ia melampiaskannya pada Mama Meysa.


Calista sendiri juga mengalami memar di wajahnya, saat ia tengah berusaha melindungi Mama Meysa, beruntung perutnya tak terkena pukulan.


Mario menatap pilu ke arah Calista, melihat wajah wanita itu memar entah kenapa membuat sudut hatinya terasa sakit. Ia merasa geram pada Caren, sungguh ia merasa muak pada wanita itu.


"Bersabarlah Calista, kau pasti akan bebas dari sini, aku janji itu.."gumam Mario.


Calista menggenggam erat tangan Mama Meysa, "bersabarlah Ma, tunggu sebentar. Darren pasti akan menemukan kita.."lirih Calista.


Ia mengelus lembut perut buncitnya, dalam hati ia terasa bersyukur bayi dan kondisi fisiknya mau di ajak kerja sama, Calista dapat bertahan tanpa rasa sakit hingga harus menyebabkan ia hilang kesadarannya.


Dorr.. dorr..


Brugh... Brak...


Dorr .. dorr ..


Suara bisik dari luar membuat Calista penasaran apa yang terjadi di luar, suara tembakan serta jeritan orang keskitan yang terus terdengar.


Calista merasa takut, "Mama itu siapa?"


"Tenanglah sayang, kita tunggu di sini saja.."ujar Meysa.


Ketika suara pukulan itu semakin dekat, di susul suara teriakan Caren berteriak marah, Calista merasa ada sesuatu yang baik yang akan terjadi.

__ADS_1


"Calista, sayang kamu di mana...?"teriakan Darren dari luar terdengar melengking.


Calista yang samar-samar mendengar suara pria yang ia kenali pun merasa mendapatkan angin segar, "itu Mas Darren kan ma..?"tanya Calista.


"i-iya sayang.."jawab Meysa lemah.


"Aku di sini mas..."sahut Calista dengan suara yang cukup keras.


Darren masih sibuk baki hantam dengan para penjaga di luar, "kau pergilah ke tempat Calista, selamatkan istri juga mamamu, biar di sini kami yang menanganinya.."titah Jona sembari terus menembak ke arah lawan, ia hanya menembak ke bagian sisi yang dapat melumpuhkan lawan. Darren terus berlari mencari Calista dengan sejuta perasaan rindu yang hinggap. Saat jarak kian mendekat Darren melihat kini istrinya tengah menangis menatapnya dengan penuh kerinduan.


Srett...


Darren tersentak saat tiba-tiba Caren sudah lebih dulu menarik kedua tangan Calista dengan kasar, juga menodongkan pistol tepat di kepala Calista.


Caren tertawa jahat, "lepaskan dia, itu sama saja aku membiarkan dia bahagia. Tidak akan, aku akan melepaskannya saat ia berubah menjadi mayat..."


Aeron dan Diko yang baru saja masuk wajahnya langsung memucat begitu melihat apa yang tengah terjadi pada Calista, "dasar ****** sialan.."umpat Diko.


Bak seorang psikopat, Caren justru memukul-mukul kening Calista dengan pistolnya, membuat Darren meringis sakit, kala melihat air mata istrinya turun.


Meysa yang melihatnya hanya terdiam pasrah dalam keadaan lemah, sementara Diko berusaha mencari di mana putranya, kenapa tak terlihat.


"Lepaskan dia Caren, kau menginginkan aku bukan. Jadi biarkan aku yang menggantikan posisinya.."ujar Darren.


"Tidak, aku hanya ingin dia mati seperti aku membunuh Breana,..."seru Caren.

__ADS_1


Acar tawar menawar itu pun terus terjadi, meski tak membuahkan hasil, setidaknya mampu mengulur waktu, hingga polisi yang bergerak mencari posisi yang aman dalam menyelamatkan Calista.


"Katakan selamat tinggal untuk suamimu Calista. Ayo katakan cepat...."perintah Caren, dengan menodongkan pistol miliknya tepat di kepala Calista.


Calista menggelengkan kepalanya, sembari memejamkan kedua matanya.


"Baiklah, ini keinginanku. Membunuhmu tepat di mata kepala suami, ayahmu, juga Mama angkatku..."


"Tidakkkk....."


.


.


.


.


Dorrr... dorrr...


Bugh...


••


Tbc

__ADS_1


__ADS_2