Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Jangan menggodaku lagi


__ADS_3

Melirik kanan dan kiri juga ke arah Leno sekilas, Dita tengah memasang kuda-kuda hendak melarikan diri.


Satu


Dua


Tiga


Srett...


Leno berhasil menarik baju Dita, "kau mau kemana hem, gadis pelayan kurang ajar,"geramnya.


Dita meringis, "Tuan pebinor lepaskan baju saya,"


" Sialan! kau masih saja mengatakan aku pebinor? Enak saja, tak segampang itu lepas dari saya,"


"Memangnya aku harus manggil anda apa? Tuan tampan begitu, cih tampan dari mana anda bahkan sangat jelek,"ejek Dita sontak membuat Leno geram.


"Banyak bicara,"umpat Leno, kini pria itu berpindah posisi menghempaskan dan mendorong tubuh Dita hingga tubuh wanita itu terpentok mobil. Dengan tatapan tajam Leno berhasil mengunci tubuh Dita menggunakan tangannya.


Jarak yang kian menipis membuat nafas keduanya saling beradu, membuat Dita terkejut jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, sementara matanya tak lepas menatap Leno yang kini tengah menatap smirk dirinya.


"Tuan pebinor anda mau apa? lepas atau saya teriak,"ancamnya dengan bergetar, tentu saja ia takut melihat tatapan Leno padanya membuatnya nyalinya menciut. Dita memutar otaknya mencari cara agar dapat terlepas dari kungkungan tubuh Leno.


Sial! kenapa otakku begitu lemot, aku tidak bisa berfikir, ayo Dita gunakan otakmu,gumamnya.


Leno menatap wajah Dita yang kini tampak memucat, tak sadar pria itu menyunggingkan senyumnya. Pria itu mencondongkan wajahnya mendekati Dita.


Bugh...


Leno jatuh tersungkur saat Dita berhasil menendang benda pusakanya.


"Awww! Sial, gadis pelayan kurang ajar,"umpatnya sembari meringis menahan ngilu.


"Dan anda Tuan pebinor mesum, itu pelajaran untuk anda. Beruntung saya hanya menendangnya bukan mengkibirinya,"seru Dita membuat Leno bergidik ngeri.


Usai itu, Dita bergegas pergi dari sana dengan senyum bahagia karena berhasil memberi pelajaran pada Leno.


•••


Sementara itu Darren baru tiba di kantornya sudah di tunggu oleh Ayah Aeron, Ibu Mona, juga Bibi Nancy


"Maaf lama,"ucapnya usai dirinya menyalami mereka.


Melihat kondisi Darren yang berantakan membuat ketiga mengernyit bingung, "kau dari mana Darren? kenapa tampilannya begitu berantakan?"tanya Ayah Aeron.


"Habis ngasah kemampuan tonjok menonjok yah,"sahutnya sambil terkekeh, ia berusaha sesantai mungkin.


Namun Bibi Nancy menangkap sesuatu yang berbeda, ia tau ada sesuatu yang Darren sembunyikan darinya.

__ADS_1


"ehem"


Darren berdehem membuat suasana menjadi santai mungkin. Kemudian mereka berlanjut membicarakan tujuan kedatangannya.


••


"Dita kemana sih?"ucap Calista yang saat ini tengah duduk santai di kursi yang berada taman samping rumah. Ia melirik kanan kiri mencari Dita. Tak lama ia melihat Dita berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa. Ia meletakkan kantong kresek di atas meja.


Hush.. hush.. ia menetralkan degup jantungnya.


"Ini pesanan anda nyonya,"ucap Dita.


"Kamu kenapa? kok kaya habis lari maraton gitu,"


"Saya habis bertemu orang gila nyonya,"sahut Dita.


Aku sudah berdoa untuk tak lagi bertemu dengannya, tapi kenapa nasib membawaku bertemu dengannya lagi, dasar Tuan pebinor.


Calista melihat mimik wajah Dita yang berubah-ubah seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Dita,"Calista menepuk pundak Dita.


"Eh apa Tuan pebinor,"latahnya sontak ia menutup mulutnya saat menyadari ia salam bicara.


"Tuan pebinor,"ulang Calista.


"Kamu habis bertemu dengan Kak Leno ya, pantas lama pasti kamu berantem dengannya ya,"sambung Calista sambil tergelak tertawa.


"Jangan-jangan kalian jodoh lagi,"celetuk Calista.


Dita terkejut ia menggelengkan kepalanya.


••


Pukul sembilan malam Darren baru tiba di rumahnya, ia melihat istrinya sudah telelap dengan pulas.


Darren mendekat mengecup kening istrinya sekilas, lalu membelai lembut perut istrinya dengan senyum bahagia.


"Maaf ya pulang telat,"ucapnya.


Ya Tuhan, semoga besok dia suka dengan kejutannya.gumamnya.


Lalu Darren berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Darren merangkak naik ke ranjang menyusul istrinya. Ia merapatkan tubuhnya pada istrinya tak lupa memeluk dan memberikan kecupan di wajahnya bertubi-tubi. Membuat Calista mengerjapkan matanya.


"Mas, kamu sudah pulang,"tanya Calista dengan suara serak.


"Maaf mengganggumu ya, ayo tidur lagi,"Darren mengelus punggung istrinya menyuruhnya kembali tidur.

__ADS_1


"Maaf ya ketiduran, kamu sudah makan?"


"Sudah sayang, ayo kembali tidur lagi,"


"Aku sudah tidak ngantuk,"


"Terus sekarang mau apa?"tanya Darren sembil mengecup bibir istrinya lagi.


"Lagi,"


"Apanya?"


"Ciumannya,"kata Calista membuat Darren terkekeh. Dengan senang hati Darren kembali mencium bibir istrinya, semakin memperdalam ciumannya, keduanya saling *******-*****, sementara satu tangan Calista meremas rambut suaminya dan menekannya. Melepaskan pangutannya bibirnya Darren menatap istrinya ia menatap istrinya penuh damba, secepat itu ia menggelengkan kepalanya dengan kuat saat merasakan aliran darahnya mendesir hebat, ia merasakan sesuatu di bawah sana mengeras. Darren memejamkan matanya saat tangan halus istrinya kini justru bermain-main di dada bidangnya dari balik baju tidurnya.


"Sayang, hentikan. Aku bisa gila jika begini,"Darren mengusap wajahnya frustasi.


"Kenapa?"


"Aku takut tidak bisa menghentikannya lalu menerkammu,"ucapnya dengan suara serak.


Calista terkekeh,"kalau gitu lakukanlah,"


"Tapi aku takut menyakitimu dan bayinya sayang, kamu sedang hamil lho,"


"Tidak apa-apa. Asal pelan-pelan,"sahut Calista.


"Jadi boleh?"tanya Darren, Calista mengangguk.


Dengan binar bahagia, Darren kembali membungkam bibir istrinya, ia menyusuri tubuh istrinya dengan lembut dan penuh cinta. Ia membenamkan bibirnya di ceruk leher istrinya, memberikan sensasi-sensasi yang menggelitik gairahnya. Darren menarik cepat gaun pakain istrinya, juga melucuti pakian dirinya. Hingga kini keduanya sama-sama polos.


Darren menatap lembut arah perut istrinya yang tampak sedikit membuncit, ia mengecupnya sekilas, "sayang, kerja sama sebentar ya. Daddy akan menjengukmu sebentar,"bisiknya.


Calista tersentak saat merasakan sesuatu yang keras memasuki dirinya di bawah sana. Tak lama kemudian ia terbuai akan permainan suaminya. Kini dalam ruangan itu hanya terdengar suara erangan.


Beberapa saat kemudian Darren menggulingkan tubuhnya ke samping istrinya dan mengecup kening istrinya, usai aktivitas panas yang keduanya ciptakan.


"Makasih ya,"ucapnya.


"Tidurlah, jangan menggodaku lagi. Itu sangat berbahaya,"seru Darren sambil merengkuh tubuh polos istrinya. Calista memijat kepalanya yang merasa sedikit pusing.



••


Like


komentar


hadiah

__ADS_1


vote


Tbc


__ADS_2