Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Apa kabar mama?


__ADS_3

Siang itu Meysa mendatangi kantor polisi, ia berniat untuk menjenguk Caren, ralat bukan menjenguk melainkan untuk memakinya. Ia datang dengan segenap jiwa yang emosi dan amarah yang melanda.


Ya usai, Caren berhasil di jebloskan dalam penjara, Meysa menggebu-gebu ingin segera menemuinya, wanita itu ingin sekali memberikan pelajaran beserta sumpah serapah pada anak angkatnya itu. Meysa berharap Caren akan menetap selamanya di sel tahanan itu, bahkan bila perlu dihukum mati.


Dengan langkah pelan Meysa melangkah masuk ke ruang besuk tahanan dibimbing oleh petugas penjara. Wanita itu meremas tangannya.


"Silahkan masuk bu. Maaf saya hanya bisa mengantar sampai sini. Tolong berhati-hati karena kondisi kejiwaan tahanan bermasalah, panggil saya jika terjadi sesuatu,"ujar petugas itu setelah mengantar Meysa sampai di ruang besuk, ia berpamitan untuk menunggunya di depan pintu.


Meysa mendudukan dirinya di kursi ruang besuk itu dengan perasaan gelisah, ingatannya kembali melayang akan ucapan petugas tadi tentang kondisi Caren yang kejiwaannya terganggu, apakah Caren benar-benar sudah gila, pikirnya.


Beberapa menit kemudian, Caren datang dengan dibimbing oleh petugas di kedua sisinya, ia menunduk dengan kedua tangannya diborgol.


Meysa tersenyum senang bagaimana melijat Caren yang saat ini terlihat begitu mendetita dan menyedihkan. Tidak ada lagi rasa cinta ataupun sayang untuknya sebagai seorang ibu pada anaknya, kini hanya ada rasa benci yang meliputinya, menyesal mengapa dulu ia menuruti keinginan Breana untuk membawa Caren ke dalam rumahnya, andai ia tau jika Caren akan mengakibatan kehancuran keluarganya tentulah ia akan menolaknya mentah-mentah.


Usai mendudukan Caren di kursi, dua petugas itu pun meninggalkan keduanya, mereka akan menunggu di depan pintu. Caren mengangkat wajahnya menatap Meysa sekilas, sedtik kemudian matanya terbelalak ia terkejut.

__ADS_1


Entah karena merasa malu atau apa, Caren memalingkan mukanya tak ingin melihat ke arah Meysa. Sedangkan Meysa masih terdiam menatap Caren dengan tatapan geram, sekuat tenaga ia mengontrol emosinya agar tak meledak saat itu juga.


"Aku kira siapa yang datang, ternyata mama tercintaku. Apa kabar mama sayang?"seru Caren. Meysa tersenyum miris, melihat bagaimana watak asli Caren sekarang, sangat berbeda.


"Mama! Aku tidak pernah mempunyai anak pembunuh seperti dirimu. Hal yang paling aku sesali membawamu masuk ke dalam rumahku, kau bahkan lebih dari seorang iblis Caren. Teganya kau menghabisi Breana, apa salahnya?"tanya Meysa dengan geram.


Caren melirik Meysa lalu tertawa mengejek, "kenapa? karena dia terlalu sempurna, aku tidak terima dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Aku membencinya, sangat membencinya. Bahkan ia mendapatkan pria yang begitu sempurna dan sangat mencintainya, saat itu aku berniat untuk merebut Darren darinya, tapi ternyata Darren pria yang angkuh dan sombong dia bahkan tak melirikku sedikitpun, maka aku mengubah rencanaku untuk membunuhnya,"sahut Caren.


Meysa mengepalkan kedua tangannya ia mencengkram meja di depanya dengan cengkraman yang begitu kuat hingga kukunya berubah memutih, tak lupa matanya kinu menatap tajam Caran.


"Kau tau ma? Aku fikir setelah aku berhasil membunuh Breana kakak tercintaku itu, Darren akan langsung jatuh ke dalam pelukanku, nyatanya semua tak semudah yang ku kira. Calista, wanita munafik itu telah merebut Darren dariku. Awalnya aku merasa senang saat tau alasan Darren menikahinya karena dendam, dan kau mama tercintaku ini justru mendukungnya saat itu aku merasa bahagia dan di atas angin, namun makin lama aku makin geram saat aku menyadari Darren telah berubah mencintainya. Aku berniat untuk melakukan hal yang sama pada Calista, sayangnya semua tak semudah itu, aku gagal, dan itu membuatku sangat menyesal kenapa aku bisa terlambat dan gagal membunuhnya.."ujar Caren dengan tawa yang mengerikan.


"Dasar perempuan jahanam! Jangan berani-berani kau menyakiti Calista lagi. Jika kau berani melakukannya, maka aku sendiri yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri,"ancam Meysa.


Plakk... Meysa melayangkan tamparan tepat di pipi kiri Caren dengan kencang membuat Caren meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aku pasti aka keluar dari sini secepatnya, dan kembali melancarkan rencanaku. Aku pasti akan membunuh Calista. Aku tidak akan mau mati sendiri, aku akan membawanya mati bersamaku juga!"ujar Caren dengan serigai jahat, tak lupa wanita itu tertawa mengerikan, membuat Meysa mengigil ketakutan lantaran wanita itu kembali merasa cemas.


Sejak kunjungan Mario yang terakhir Caren terlihat begitu depresi, ia begitu menderita. Berkali-kali ia mencoba bunuh diri, namun selalu gagal.


Caren terlihat mendekati Meysa dan ingin membalas tamparan itu, namun dengan sigap petugas tahanan langsung datang menghalanginya.


Meysa memilih pergi, ia harus melakukan seuatu agar Calista akan selalu aman.


Meysa menggelengkn kepalanya, "aku tidak akan pernah membuat rencanamu itu berhasil Caren. Kau harus membayar maha akan kematian putriku, Breana.."gumam Meysa.


β€’β€’


kemarin gak up, gak punya kuotaπŸ˜‚πŸ˜‚


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2