
"Sudah tidak usah dandan cantik-cantik, orang cuma mau ketemu Kak Leno doang juga,"cetus Darren menatap istrinya kesal.
Calista mencebik, apanya yang dandan cantik dia bahkan sama sekali tidak dandan, Calista hanya sedang menyisir rambutnya dengan hati-hati, karena saat ini rambutnya mudah rontok.
"Apaan sih mas, orang cuman nyisir doang!"sahut Calista enteng.
Ck
"Bisa gak sih kita gak usah pergi aja,"Darren beranjak memeluk istrinya dadi belakang, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Calista mendorong tubuh Darren, "gak bisa gitu. Ini harus segera di selesaikan, aku gak mau semuanya makin berlarut-larut. Kasihan, Kak Leno pasti sudah menunggu,"ujar Calista.
"Baiklah,"
●●●
Mobil Mercy tiba di depan restoran temlat janji temu dengan Leno. Calista membuka pintu mobilnya lalu ia keluar berjalan masuk ke dalam restoran. Sementara Darren memilih untuk memarkirkan mobilnya lebih dulu, ia akan memberikan sedikit waktu untuk keduanya.
"Sudah lama menunggu kak?"tanya Calista usai berdiri tepat di depan Leno.
Leno tersenyum tipis, "belum kok. Silahkan duduk,"
Calista mendudukan dirinya, sementara Leno terus menatap Calista secara intens, seolah ada kerinduan dan cinta yang besar. Hal itu tidak luput dari penglihatan Darren, yang kini memilih duduk tak jauh dari keduanya. Dimana sang kakak tengah menatap istrinya penuh cinta. Ingin sekali ia beranjak dan menegur kakaknya, tapi tidak ia sudah berjanji pada Calista bahwa akan bersikap tenang.
"Kak..."panggil Calista membuat Leno tersentak dalam lamunannya.
"I-iya. Oh ya kau mau pesan apa? Apakah minuman kesukaanmu masih sama seperti dulu?"tanya Leno lembut.
"Nanti saja,"sahut Calista, jujur saja ia mulai merasa tak nyaman. Leno tersenyum getir menyadari kegelisahan Calista.
Setakut itukah kamu berhadapan padaku. Aku memang tidak tau diri, gumam Leno.
__ADS_1
Menarik nafasnya Calista berusaha mungkin kembali rileks, "kak soal ucapan kakak yang kemarin, tentang perasaan kakak padaku, apa itu semua benar?"tanya Calista hati-hati.
"Ya, itu benar. Sejak dulu hingga sekarang aku masih mencintaimu,"jawab Leno, membuat Darren yang mendengarnya geram.
Calista tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan ucapannya, "sejak dulu hingga sekarang perasaanku pada kakak itu juga masih sama,"
Deg, baik Darren dan Leno sama terkejutnya.
"Maksudnya..?"
Calista menatap Leno sendu, "sejak dulu hingga sekarang, aku hanya menganggap Kak Leno itu sosok kakak untukku. Sedari dulu aku memang sangat ingin mempunyai seorang kakak, dan ternyata Tuhan begitu adil, ia mengabulkan doaku, memberikan sosok seorang kakak seperti dirimu. Meski hanya seorang kakak ipar,"ujar Calista.
Darren mengangguk sembari tersenyum getir.
"Aku harap Kak Leno mau mengerti, dan menanggapi permasalahan ini dengan bijak. Sampai kapanpun perasaanku padamu takkan berubah, cintaku tetap untuk Mas Darren. Meski dulu, Mas Darren tidak memperlakukanku dengan baik, tapi aku tetap mencintainya, hanya dia yang mampu membuatku mengerti apa itu cinta. Ku mohon kak, jangan rubah perasaan kakak itu menjadi obsesi. Ku mohon urungkan niat kakak untuk merebutku dari Mas Darren, jika itu terjadi aku lebih baik mati,"seru Calista. Darren yang mendengarnya pun merasa terharu.
Leno terdia mencerna dan menatap Calista dengan sedih, "apa kamu bahagia Calista..?"tanya Leno.
Rangkaian ucapan Calista seakan menjadi pukulan telak untuk Leno, tak sadar pria itu menitikkan air matanya, Darren menatap kakaknya dengan pandangan tak percaya, itu untuk pertama kalinya dirinya melihat sang kakak menangis.
Leno menghapus sudut matanya yang basah, sebisa mungkin ia kembali menetralkan perasaannya, ia memberanikan diri berjalan mendekati Calista lalu menggenggam tangannya.
"Maaf. Maafkan aku yang telah lancang mengharapkan dirimu. Bahkan dengan lancangnya aku menantang adikku. Hampir saja aku melukai perasaanmu. Tapi kini aku sadar, aku berjanji tidak akan lagi mengganggu rumah tanggamu. Aku akan pergi jauh,"ujar Leno.
"Kak..."
Leno menggeleng, "aku berjanji tidak akan mengganggumu.."
"Terimakasih, kau pria yang baik. Kau pasti akan menemukan wanita yang baik pula,"tutur Calista.
Leno tersenyum getir, "Benarkah...?"
__ADS_1
Calista mengangguk antusias.
"Semoga ya..?" sambungnya, meski aku tak yakin, gumamnya.
Leno mengangkat wajahnya, "sebelum aku pergi, bolehkan aku memelukmu yang terakhir kali?"pinta Leno.
"Pergi? tapi kenapa?"tanya Calista.
Leno tersenyum tipis, "ya aku harus pergi Calista, aku harus kembali ke Amerika untuk bekerja. Jika aku di sini aku tak yakin dapat melupakanmu,"ucapnya.
"Baiklah, kakak boleh memelukku.."
Leno tersenyum tipis, lalu segera membawa Calista ke dalam pelukannya, "semoga kau selalu bahagia adik ipar. Aku yakin Darren akan menjagamu dengan baik,"bisiknya sembari mengurai pelukannya.
Leno kembali menghapus sudut matanya yang basah, kini ia berjongkok dan mengelu perut Calista, "baik-baik ya ponakan uncle, sampai jumpa"bisiknya.
Usai itu Leno berpamitan pergi, meninggalkan Calista. Darren menatap kepergian Leno dengan sedih.
"Terimakasig kak,"gumamnya.
●●
Like
Komentar
Hadiahnya
Vote
Tbc
__ADS_1