Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Akan lebih baik kau mati


__ADS_3

⚘hay, Ara kembali apa kabar readers ? semoga masih setia menunggu ya...⚘


⚘Jangan lupa tekan like, beri komentar, hadiahnya ya, tolong beri rate bintang limanya ya guys😊⚘⚘


⚘yuk ramaikan cerita ini, makasih..😊⚘


🌺🌺🌺


...ILUSI...


...Kau hanya terobsesi semata karena parasnya....


...Bukan cinta, melainkan hanya sebuah obsesi....


...Demi obsesimu kau telah menyakit hati orang-orang yang menyayangi dirimu dengan setulus hati mereka....


...Kemudian, suatu hari kau akan menyesal akan sebuah kesalahan yang telah kau perbuat, saat kau menyadari itu, semua sudah terlambat....


🌹


🌹


Entah apa yang merasuki jiwa Caren saat ini, hatinya hanya di liputi sebuah kebencian pada seorang wanita bernama Calista. Rasa iri, dengki telah mendarah daging dalam jiwa seorang wanita bernama Caren. Inilah yang di sebut iblis berwujud manusia, meski ia telah menjadi buronan polisi namun tetap saja tak cukup membuat ia jera.


Obsesi untuk memiliki Darren telah membutakan segalanya, ia menyakiti semua orang yang telah menyayanginya, tidak cukup itu ia bahkan telah melenyapkan nyawa sang kakak yaitu Breana. Inilah yang sering pepatah katakan 'Ketika air susu di balas dengan air tuba'. Bahkan seribu kebaikan yang telah keluarga Breana berikan tidak cukup membuat Caren berterimakasih, ia justru hadir membuat boomerang bagi keluarga angkatnya.


Kini, dengan berbagai cara Caren melakukan segala upaya untuk dapat masuk dalam rumah sakit di mana Darren di rawat, tentunya dengan penampilan yang sangat berbeda, ia menyamar dengan semaksimal mungkin, agar tak ada orang curiga padanya.


Jika aku tidak bisa memilikimu, bukankah lebih baik kau mati Darren sayang, ucapnya dengan senyum smirknya.


Dulu, dia menyingkirkan Breana karena berfikir setelah Breana tiada Darren akan dengan mudah jatuh ke dalam pelukannya, nyatanya semua tak segampang expspetasi, Calista seorang wanita yang ia gunakan sebagai kambing hitam atas kecelakaan Breana justru merusak semua rencana. Darren justru menikahinya, meski niat awal untuk membalaskan dendam, tapi semua itu bulshit Caren tau sejak pertemuan pertamanya Darren telah menaruh hati pada wanita itu. Untuk itu ia begitu membenci wanita itu.

__ADS_1


"Aku membunuh Breana bukan untuk membuatmu Calista bahagia bersama Darren. "ucapnya.


•••


"Calista, kita pulang ya. Dokter kan sudah mengatakan jika Darren baik-baik saja, dia hanya mengalami luka luar,.."ujar Mona, ya setengah jam yang lalu dia baru sampai di rumah sakit, ia terus berusaha membujuk Calista untuk pulang, namun putrinya itu tetap kekeh untuk pulang.


Calista menggeleng, "Ibu biarkan aku di sini, aku ingin menjaganya..."pintanya, wanita itu menatap ibunya dengan wajah melas.


"Calista, apa yang ibumu katakan itu benar. Pulanglah biar Bibi yang menjaganya..."timpal Bibi Nancy.


"Tidak Bibi, aku ingin di sini sampai Mas Darren sadar.."kekeh Calista, karena memang saat ini Darren masih belum sadar akibat pengarub obat yang di berikan oleh Dokter.


Menyerah, Mona tidak kuasa untuk memaksa Calista menurut perkataannya. Akhirnya ia pun mengijinkan Calista untuk menjaga suaminya, sementara ia lebih memilih untuk pulang, meski masih terselip rasa kasihan untuk menantunya yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit itu, nyatanya rasa kecewa justru lebih mendominasi hatinya. Ia tidak cukup mempunyai hati yang besar dan lapang seperti putrinya, yang dapat memaafkan kesalahan Darren begitu saja.


"Calista, Bibi akan pergi ke kantin sebentar ya, kau juga belum makan kan. Tidak apa-apa'kan Bibi tinggal sebentar.."seru Bibi Nancy.


Calista yang tengah mendudukan dirinya di sebelah ranjang suaminya, hanya menggeleng dan tersenyum tipis di balik wajah pucatnya, "pergilah Bibi.."


"Aku ingin membencimu mas, akan semua perbuatan yang kau perbuat padaku mas. Tapi nyatanya aku tidak cukup banyak waktu lagi. Nyatanya rasa cintaku jauh lebih besar di bandingkan rasa benciku padamu mas. Aku ingin menikmati setitik bahagiaku di ujung usiaku mas.. Setidaknya sampai anak kita lahir..."lirih Calista, ia membelai lembut perutnya.


Huek.. huek.. tiba-tiba Calista merasa mual, segera ia berlari ke kamar mandi sembari mulutnya.


Krekk... bersamaan dengan itu, pintu ruangan itu kembali terbuka. Sosok wanita misterius masuk, sembari menyunggingkan senyum smirknya. Ia menjetikkan jarinya, merasa saat ini suasana ruangan itu cukup mendukungnya untuk melancarkan aksinya. Ia mengluarkan suntikan yang sudah berisi racun dalam sakunya. Kemudian ia berjalan melangkahkan kakinya mendekati Darren.


Darrenku yang malang, andainya kau memilihku mungkin nasibmu tidak akan seperti ini, kau akan ku jadikan raja, bahkan akan ku layani segenap jiwaku, ucapnya sambil tersenyum smirknya.


Usai mengucapkan kata-kata itu, ia bersiap menyuntikan racun itu ke dalam infus yang terpasang pada tubuh Darren.


Krek..


Calista berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan mata terkejut melihat kehadiran sosok manusia asing yang kini tengah berdiri di samping suaminya, terlihat tangannya sedang menyuntikkan sesuatu pada infus milik suaminya.

__ADS_1


Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Calista berlari lalu mendorong tubuh wanita itu, hingga jarum suntik yang sedang ia pegang jatuh.


Brugh...


"Apa yang akan kau lakukan pada suamiku.."teriak Calista, setelah ia berhasil mendorong wanita itu.


Wanita itu hanya tersenyum smirk tanpa menjawab, Calista ingin beraksi memukulnya namun tenaganya tak cukup kuat, kala wanita justru mendorong dirinya, hingga membuat ia tersungkur jatuh, kemudian wanita itu berlari keluar. Calista meringis sakit memegangi perutnya.


"Rasakan, itu ganjaran untukmu. Kau, anakmu, dan suamimu pantas mati.."gertaknya, sebelum wanita itu berlalu pergi.


Dari nada suaranya Calista pun paham jika wanita itu Caren. Calista berusaha bangkit dari posisinya, sekuat tenaga dengan terburu-buru ia melepas selang infus Darren, karena Calista yakin Caren pasti datang dengan niat buruk.


Tak lama terlihat nafas Darren yang tersengal-sengal, terdengar sesak Calista panika. Segera, Calista menekan tombol di dekat ranjang suaminya untuk memanggil dokter.


Tidak lama kemudian Dokter dan perawat pun tiba, di susul dengan kedatangan Bibi Nancy, yang cukup terkejut melihat keadaan Calista dan keponakannya. Dokter segera memeriksa keadaan Darren.


"Bibi.., tadi Caren kemari."ucap Calista lemah.


Bibi Nancy menghampiri Calista yang terlihat begitu syok, Calista memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Bugh.. tak lama ia jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Bibi Nancy.


"Calista..."jerit Bibi Nancy.


Bibi Nancy segera meminta bantuan dokter untuk memeriksa keadaan Calista, ia merasa takut terjadi sesuatu pada istri keponakannya itu.


•••


Nasibmu Caren, maafkan Ara yang membuatmu menjadi tokoh yang harus terus di hujat pembaca. Salahmu si, gak juga jera..hahha


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2