
🌹🌹Alur cerita ini memang lambat ya readers tercinta, maaf kalau buat bosan😊🌹🌹
🌹🌹Telat up, sorry badan lagi gak enak banget sumpah😭😭🌹🌹
🌹🌹Selamat membaca🌹🌹
Malam semakin larut, Calista merasakan gelisah, hingga pukul dua belas malam ia tak kunjung memejamkan matanya.
"Kenapa aku merasa gelisah seperti ini ya.."gumam Calista.
Calista memutuskan untuk keluar dari kamar miliknya.
Dan di sinilah Calista berada, di depan kamar milik Darren.
"Kenapa aku bisa kesini, jika Mas Darren tau dia pasti akan marah."ucapnya, ia kembali memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar.
Tapi...
Kata hatinya menolak, seolah menyuruhnya untuk tetap memasuki kamar suaminya.
Perlahan Calista kembali bergerak mendekati kamar suaminya, menarik handle pintu.
Ceklek.. tidak terkunci.
Calista berjalan mendekati ranjang, terlihat di sana suaminya tengah terlelap, bulir-bulir keringat terlihat membasahi keningnya.
"Mamaa.. Papa.. Breee.. ku mohon jangan tinggalkan aku.."gumam Darren dalam tidurnya.
Kepalanya terlihat bergerak kesana dan kemari, memperlihatkan begitu gelisahnya ia dalam tidurnya.
"Apa dia bermimpi buruk.."ucap Calista.
"Bree jangan pergi ku mohon..."lirih Darren lagi.
Deg...
Tanpa sadar Calista memegang dadanya yang berdenyut nyeri, matanya tampak berkaca-kaca. Entah karena kini ia merasa bersalah ataukah ia merasa cemburu, Calista masih belum memahami perasaannya.
Menghapus sudut matanya yang basah, perlahan Calista mendekati suaminya lalu memegang pipi dan dahi Darren.
"Panas sekali, dia demam...."ucap Calista.
Calista keluar ke dapur mengambil sebaskom air untuk mengkrompes, tidak lupa ia juga mengambil obat penurun panas.
Sampai di kamar Darren ,Calista segera mencelupkan handuk kecil pada baskom yang berisi air lalu memerasnya dan menempelkannya pada dahi suaminya.
__ADS_1
"Bre.. jangan pergi ku mohon..."sejak tadi Darren terus memanggil nama mantan calon istrinya itu.
Hiks.. hiks.. Calista menangis, "Dia begitu mencintai Breana. Dan aku telah melenyapkan segala kebahagiaannya.."
"Maafkan aku mas.."sambungnya.
Calista menepuk pipi Darren, "Mas bangun sebentar, minum obat dulu.."
Darren tetap terlelap tak membuka matanya, tapi pria itu kini sudah tak merancau menyebut nama Breana lagi.
"Bagaimana caranya agar dia tetap meminum obatnya.."pikir Calista, ia mencoba mencari ide.
Glekk.. Calista menelan salivanya dengan susah.
"Maafin aku mas, jika kau tau aku melakukan ini kau pasti akan sangat marah.."ucap Calista.
Calista memasukan obat itu ke dalam mulutnya, perlahan ia mencondongkan wajahnya pada wajah suaminya.
Cup.. Calista mencium bibir suaminya, memaksa Darren membuka mulutnya lalu memberikan obat itu.
Lalu Calista kembali mengambil air di atas nakas, meminumnya dan kembali mencium bibir Darren memberikan minuman itu lewat bibirnya.
Setelah selesai Calista kembali menegakkan tubuhnya, lalu ia mengusap bibirnya.
Memegang bibirnya, pipi Calista bersemu merah ketika kembali teringat betapa kenyal dan hangatnya bibir suaminya.
Mengambil kursi di depan meja rias, Calista berniat menunggu hingga panas di tubuh suaminya turun. Sampai pada akhirnya ia merasa ngantuk dan tertidur dengan posisi tangan di atas perut suaminya.
🌹🌹
Matahari mulai merangkak naik, perlahan Darren membuka matanya, ia terkejut ketika mendapati ada sesuatu barang di atas keningnya.
"Apa ini.."ucapnya, ia mengambil handuk yang di atas dahinya.
"Handuk, siapa yang melakukan ini.."sambungnya,
Darren hendak bergerak duduk, tapi ia merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya, perlahan ia melirik ke samping.
"Calista.."ucapnya terkejut, mendapati istrinya tertidur dengan posisi duduk.
Ekor matanya kembali bergerak melirik di atas nakas di mana di situ ada sebaskom air, juga botol obat demam.
Perlahan tangannya bergerak hendak menyentuh istrinya, namun ia mengurungkan niatnya, saat menyadari Calista menggeliat.
"Emm..."
__ADS_1
"Mas kau sudah bangun, apa masih panas, coba aku cek..."Calista bangkit dari tempat duduknya, lalu menempelkan telapak tangannya di dahi suaminya.
Senyum mengembang di bibirnya, "syukurlah panasnya sudah turun,"sambung Calista.
"Memangnya apa yang terjadi padaku.."tanya Darren
"Kau demam semalam panasnya terlalu tinggi."Sahut Calista, setelah itu hendak melangkahkan kakinya keluar.
"Mau kemana..?"tanya Darren yang kini telah bersandar di ranjang.
"Balik kamar.."sahutnya tanpa kembali menatap wajah Darren.
Darren menepuk sisi tempat tidurnya, "Kemarilah.."
Calista terkejut, "Mas mau apa...?"
"Temani aku istirahat sebentar, nanti akan ku beri hadiah.."
"Tapi, aku harus menyiapkan sarapan..."
"Biar Bi Nah yang masak, kau tidak ingin menjadi istri yang durhaka bukan dengan menolak permintaan suamimu.."ucap Darren, bisa banget maksanya.
Calista menggeleng, "Baiklah.."
Calista memutar tubuhnya menuju sisi ranjang sebelah kiri, lalu mulai merangkak naik ke tempat tidur. Calista berbaring di sisi Darren dengan jarak di ujung sedikit menjauh dari Darren.
"Ck.."decak Darren.
Ia mendekati Calista, lalu meraih pinggang istrinya.
"Mas..."pekiknya terkejut.
🌹🌹🌹
Ada yang penasaran gak, hadiahnya apa..?
Jangan lupa
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc.
__ADS_1