Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Nasehat sahabat


__ADS_3

"Di mana..?"tanya Darren di balik telpon.


"...."


"Aku kesana.."


Memutar stirnya, Darren mengemudikan mobilnya ke arah kantor sahabatnya Jona. Lima belas menit kemudian ia sampai di sana, membuka pintu Darren bergegas masuk, tak perlu bertanya pada recepsionis tentang Jona.


"Lilian, Jonanya ada kan..?"tanya Darren pada sekretaris Jona.


Wanita yang sedang sibuk dengan berkas itu pun mengalihkan pandangannya, "em ada pak, cuman..."


Belum sempat Liliana melanjutkan ucapannya, Darren sudah berlalu begitu saja.


Ceklek...


Begitu membuka pintu Darren terkejut melihat pemandangan di depannya.


"Setan!"umpatnya.


Bugh.. "Aww.."ringis suara seorang wanita begitu terjatuh.


"Ih sayang, kamu kok main dorong aku gitu aja sih.."cebik wanita itu usai berhasil kembali berdiri.


"Refleks, udah sana pergi.."usirnya sambil merapikan pakaiannya yang nampak berantakan.


Darren menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah berhenti mempermainkan wanita.


"Tapi kan aku..."


Jona mengambil dompetnya mengambil beberapa lembar uang, lalu memberikannya, "pergilah..."usirnya usai wanita itu menerima uangnya.


"Ok.."


Darren henya diam mengamati aktvitas akhir keduanya itu, ia melirik sekilas penampilan wanita itu, tak sadar ia bergidik geli.


"Kenapa lo? Naksir sama dia, ingat bini di rumah lagi bunting.."ejek Jona.

__ADS_1


Darren melengos berjalan menuju sofa panjang,"cantikan Bini gue di mana-mana, tapi gue heran sama lo, seleramu benar-benar, membuatku ingin muntah, gak ada yang bener.."seru Darren.


Jona berlalu menuju lemari pendingin miliknya lalu mengambil minuman berjalan mendekati Darren, "mumpung masih muda..."jawabnya membuat Darren tergelak.


Masih muda? yang benar saja, "sadar umur woy. Udah kepala tiga, berhenti mempermainkan wanita. Lo gak takut pedang lho itu kelelahan karena terus di asah, takutnya pas lo nikah, dia malah udah letoy dan gak bisa berdiri.."ejek Darren.


"Setan! lo nyumpahi gue.."


"Jadi ada perlu apa lo kesini?"sambung Jona kembali bertanya.


Darren menghela nafasnya meletakkan kembali minuman yang tadi ia pegang, wajahnya berubah sendu, "istri gue kena penyakit kanker otak.."


Prull... uhuk-uhuk... Jona yang sedang minum pun tersedak.


"Jorok ih.."seru Darren.


"Sorry-sorry. Gue kaget sumpah.."Jona mengambil tisu di depannya lalu membersihkan wajahnya.


"Lo bercanda kan..."tanya Jona kini dengan pandangannya serius.


Jon mencebik, "cih ya sekarang, dulu pas awa nikah niatnya main-main.."


Darren menatap tajam Jona, "setan di ingetin lagi."


Usai itu kedua terus berbicara, Darren tengah mengeluarkan keluh kesah permasalahan dirinya.


"Gue harus apa Jona,"Darren mengusap wajahnya, "bagaimana bisa aku memilih antara anakku dan ibunya.."


Jona tersenyum getir, ia hanya menepuk-nepuk pundak Darren, "Calista itu wanita yang kuat, gue yakin istri lo akan baik-baik saja.."


"Apa gue ajakin dia kemoterapi aja secara diam-diam ya.."


"Gila! Kalau lo lakuian itu lo akan membuat bayi dalam kandungan istrimu berbahaya, dan beresiko cacat atau kelahiran dini."


"Yang gue inginkan Calista tetap sehat Jon,"


Jona menggeleng, "itu gak benar. Kalau sampai Calista tau, aku pikir dia akan sulit memaafkanmu."

__ADS_1


"Lalu gue harus apa..?"


"Berikan dia semangat dan kekuatan, buat lah hari-hari dia terus berwarna dan bahagia, aku yakin Calista akan terus semangat menjalani hidupnya, ia akan berjuang melawan penyakitnya, demi dirimu juga anakmu.."tutur Jona.


Jona menatap sahabatnya itu dengan perasaan iba, ia tau bahwa saat ini Darren tengah merasa kalut.


Sebenarnya ada sesuatu yang ingin gue bicarakan pada lo tentang Caren, tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat, gue gak mau menambah beban mu.


••


"Yah, kita ke rumah Calista lagi yuk.."ajak Mona pada suaminya.


Meletakkan secangkir kopi miliknya, Aeron menatap istrinya sejenak, "tidak, aku tidak akan mengajakmu kesana. Selama emosimu belum stabil.."


"Emosi apa sih yah..?"


"Aku gak mau kamu berbicara yang macam-macam pada Darren bu.."jawab Aeron.


Mona mendesah kecewa, "bukankah semua yang ku katakan itu fakta.."


Aeron menggelengkan kepalanya, memgingat kembali luapan emosi istrinya kemarin tentu membuat ia kesal, "dengarkan aku bu.."


Mona menatap ke arah suaminya, "aku tau perasaaanmu mendengar putrimu sakit keras. Kau pasti merasa hancur, tapi di sini bukan hanya kau yang merasa demikian, Darren pun sama seperti dirimu. Lihatlah betapa kacaunya ia. Calista sakit atas kuasa Tuhan bukan karena Darren. Apa kau tidak berfikir bagaimana jika Calista mendengarnya, dia pasti kecewa bu. Jangan ungkit hal-hal yang sudah berlalu bu.."sambung Aeron.


"maaf.."lirih Mona.


••


Like


Komentar


Hadiah


Vote


Tbc

__ADS_1


__ADS_2