
Oek... oek...
Suara tangisan bayi dari ruang operasi terdengar melengking, Darren masih terdiam di tempat dengan sekujur tubuh lemas, perasaan cemas memikirkan Calista.
Jika putrinya selamat bagaimana dengan istrinya, pikirnya.
"Cucuku..."ucap semua orang yang berada di sana, ada Aeron, Mona, Nancy, Randy, Bram juga Meysa yang baru tiba.
Nancy mendekati keponakannya itu, "putrimu sudah lahir, apa kau tak bahagia...?"tanya Nancy.
Darren tersenyum kecut, "A-aku takut.. Calista.."lirihnya dalam hati ia merasa takut.
Krek..
Pintu ruangan operasi terbuka, Dokter keluar segera semua keluarga mendekati dan mencecar pertanyaannya.
"Dokter, bagaimana..."
"Selamat putri anda sudah lahir dengan selamat, berhubung ia lahir secara pramatur kami harus membawanya ke inkubator lebih dulu.."jelas Dokter.
"Istriku...?"tanya Darren cemas.
Dokter menatap ke arah Darren, "Tuan, maaf istri anda-"
"Tidakkk...."
Brugh....
__ADS_1
•••
Tit.. tit.. suara alat pendeteksi jantung terus terdengar. Darren menatap sedih ke arah tubuh istrinya yang terbaring lemah di ranjang, dengan kondisi tak sadarkan diri, usai melahirkan.
Segala jenis peralatan medis terpasang di tubuh istrinya, ia melihatnya miris, tak kuasa lagi ia memendung air matanya. Ia melangkah mendekatinya istrinya, memegang tangannya yang tampak ringkih dan memucat, lalu menggenggamnya mengecup secara perlahan.
"Ku mohon bangun sayang, aku tak kan sanggup untuk kehilanganmu.."pinta Darren sambil terisak, air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya. Dadanya terasa begitu sesak melihat kondisi istrinya kini.
"Jangan hukum aku dengan cara seperti ini sayang, bukankah kau sudah berjanji akan terus berada di sisiku. Ku mohon bangun.."seru Darren.
Tak lama Darren merasakan pergerakan jari-jari Calista, sementara kedua matanya masih terpejam.
Tut.. Tut.. Tut.. kemudian nafas Calista terlihat sesak, ia pun kejang-kejang.
"Sayang.."panggil Darren khawatir.
Dengan perasaan cemas dan khawatir, ia menekan tombol di dekat ranjang guna memanggil Dokter. Tak berselang lama dokter tiba.
Dokter mengambil alih sisi Darren, mulai memeriksa keadaan Calista.
Tut.. tutttttttttttttttt.... suara alat pendeteksi jantung itu berhenti, kedua mata Darren melotot.
"Suster, tolong ambilkan Defribrilator (alat pacu jantung).."pinta dokter.
Suster dengan segera mengambil alat itu lalu memberikannya pada dokter.
Darren mengawasi setiap kinerja dokter itu dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya, di mana kini terpejam sempurna, ia melihat monitor pendeteksi jantung itu yang berhenti berbunyi, artinya? tidak, Darren menggelengkan kepalanya tak percaya.
__ADS_1
Berkali-kali Dokter melakukan aksi pacu jantung itu namun sama sekali tak membuahkan hasil.
Menghentikan aktivitasnya dokter menatap seidh ke arah Darren, "Tuan, maaf nyonya sudah tiada..."ujar Dokter sedih.
"Bohong, itu tidak mungkin. Istriku tidak mungkin mati..."sangkal Darren.
"Tapi Tuan, kami..."
"Minggir kalian semua..."bentak Darren sambil mendorong dokter dan suster di sana, ia melangkahkan kakinya mendekati istrinya.
"Sayang, ayo buka matamu. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu masih hidup, mereka bohong kan .."Darren terus mengguncang tubuh istrinya.
"Tuan, bersabarlah.."
"Minggir kalian semua, karena kalian istriku begini, bukankah sudah ku katakan selamatkan istriku, kenapa kalian tak mendengarkan ucapanku.."sentak Darren.
Ia kembali mengguncang tubuh istrinya, kali ini ia memberanikan diri memberi nafas buatan istrinya.
Satu detik
Dua detik
hingga bermenit-menit tak juga membuahkan hasil.
Dokter tertunduk lesu di sebelahnya, "tuan kami tidak mungkin bohong, maafkan kami istri anda tidak dapat selamat, penyakit yang di derita nyonya sudah parah.."seru Dokter
Darren menatap tajam ke arahnya, "Tidakkkkkkkkkkkkkkkk...."teriak Darren.
__ADS_1
••
Tbc