
Di suatu tempat seorang wanita dengan pakain minim dengan belahan dada terbuka sedang menyunggingkan senyum smirknya dengan memegang gelas wine di tangannya.
Kamu harus mati Calista. Aku tidak akan menyerah begitu saja, kamu harus menyusul Breana, kakakku yang malang.
"Sayang..."ucap seorang pria lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Caren. Wanita itu hanya terdiam, membiarkan sang pria melakukan apa maunya pada tubuhnya. Ketika jemarinya perlahan bergerak meremas kedua bukit kembar milik Caren, membuat sang empunya mendesah nikmat, tak lupa pria itu juga mengecup punggung Caren yang terbuka, menghisap hingga meninggalkan jejak di sana. Jemari tangannya kembali turun menyingkap gaun mini Caren, lalu meraih membelai sesuatu di balik dari kain segitiga berenda itu, dengan satu tarikan ia berhasil menarik kain itu dan membuangnya secara asal. Caren masih terdiam menikmati permainan pria itu, tak lama ia merasakan sebuah jari yang menusuk-nusuk pada pusat intinya. Caren menggelijang hebat bak cacing kepanasan, ia sontak membalikkan tubuhnya langsung lalu melingkarkan kedua tanganya di kedua bahu pria itu.
"Ayo, aku akan memberikan servis padamu dengan hebat dan tak akan terlupakan, anggap saja sebagai rasa terimakasih atas bantuanmu.."ucapnya sensual bibirnya bergerak mengecup bibir pria itu, lalu sebelah tangannya bergerak untuk meremas sesuatu yang keras di balik celana sang pria, membuat sang empunya mendesah merem melek nikmat.
"Ayo aku sudah tidak tahan lagi.."ucapnya segera ia mengangkat tubuh Caren, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, untuk menuntaskan hasrat gairah ***** yang menggebu-gebu.
•••
Meysa menangis terisak, penuh penyesalan. Kini ia merasa sangat berdosa pada Calista, andainya ia tidak bertindak dengan gegabah mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini.
Bram menatap istrinya dengan pandangan melas.
"Ma, jangan seperti ini. Semua sudah terjadi, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kita meminta maaf pada Calista, juga mencari Caren untuk memasukan ia ke dalam penjara.."ujar Bram dengan tatapan melas, entah harus dengan cara apa lagi ia menasehati istrinya itu.
"tapi sekarang aku harus apa mas.."isaknya.
"Perbaiki semua pelan-pelan, karena semua tidak ada yang instan... Percayalah semua itu belum terlambat..."
Meysa mengangguk, "Aku harus mencari Caren, anak tidak tidak tau diri itu. Aku harus memberi pelajaran padanya, dia harus mendekam di penjara sampai mati. Dialah akar dari semua kesalahpahaman ini.."
•••
Darren menatap Aeron dengan terjejut menampilkan wajah pucatnya, namun ia tidak akan mundur begitu saja.
Aeron melangkahkan kakinya mendekati Darren,
__ADS_1
Plakk.... tamparan keras langsung mendarat di pipi Darren, hingga membuat semua yang di dana terpekik kaget. Bibi Nancy menatap Darren dengan miris dalam diam.
"Setelah apa yang kau lakukan pada putriku, kau masih berani menemuinya..."bentak Aeron dengan emosi yang menggebu-gebu. Aeron kembali mengangkat tangannya.
"Hentikan Ayah, aku mohon.."pinta Calista lemah. Aeron menatap Darren dengan tajam.
"Kau lihat, bahkan setelah apa yang kau perbuat padanya. Putriku masih membelamu, dia masih selalu menangisi dirimu.."ucapnya tegas, membuat Darren menyesal. Benar bahkan kesalahan yang ia perbuat pada istrinya, tetap saja Calista membelanya.
"Pukul saya sampai ayah puas, atau bunuh saya jika memang itu syarat yang harus saya terima. Tapi aku mohon jangan pisahkan kami, Calista sedang menandung, ayah.."Darren menjatuhkan dirinya di kedua kaki ayah mertuanya, ia bersujud memohon.
Aeron menggeram kesal lalu menarik krah baju Darren, "Berdirilah sialan.."ucapnya,
Bugh... ia kembali memukul rahang Darren dengan keras menbuat Darren terhuyung ke belakang. Darren kembali bangkit mendekati Aeron namun lagi-lagi Aeron kembali memukulnya.
Calista bergegas mencabut selang infus di tangannya, ia bergegas bangkit dan berjalan ke arah ayahnya memegang lengan ayahnya, "hentikan ayah, Calista mohon. Hatiku sakit melihat ia seperti ini Ayah, ku mohon..."pinta Calista memohon, wanita itu terus menggerak-gerakan lengan ayahnya, mencoba untuk meredam kemarahan ayah tercintanya. Namun hal itu, tidak dapat menyurutkan kemarahan Aeron. Di dunia ini siapapun pasti tidak akan terima bila melihat putrinya menderita akibat perbuatan yang tak ia buat.
Bibi Nancy berniat untuk menghentikan Daren, namun Mona langsung mencegahnya, "Biarkan, suamiku hanya sedang memberinya pelajaran padanya.."ucapnya, akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Calista menatap suaminya dengan iba, "Ayah ku mohon jangan lagi siksa dirinya.."pintanya lagi, namun lagi-lagi Aeron tak menggubris permintaan putrinya.
"Johan, Toni, Aldi, Eldan cepat kemari.."teriak Aeron kencang memanggil para bodyguard rumahnya.
"Ya Tuan..."jawab mereka serempak.
"Seret pria ini ke ruang tamu, dan hajar dia sampai mati..."tegas Aeron, membuat Calista, Mona, Bibi Nancy terhenyak kaget.
Segera keempatnya menyeret Darren keluar, menuju ruang tamu dan memukulnya secara membabi buta. Calista berlari menjadi tameng untuk suaminya.
"Jangan berani memukulnya.."tegas Calista dengan badan yang bergetar, ia menatap tajam ke empatnya, mengabaikan rasa sakit perutnya serta sakit di kepalanya.
__ADS_1
Aeron segera mendekati Calista, dan membawanya sedikit menjauh dari sana. Ia memberikan instrusi pada keempat bodyguardnya lewat kedua matanya.
Mengerti, kini keempatnya kembali memukuli Darren secara membabi buat dan brutal. Calista ingin berlari mendekati suaminya, namun cekalan tangan Aeon terlalu kencang ia menatap miris suaminya yang terdiam pasrah saat menerima pukulan itu.
"Calista mohon ayah, hentikan. Jika dia sakit aku juga sakit ayah. Tolong jangan lagi buat Calista menderita.."pintanya dengan nada pilu. Ia menatap ayahnya sendu dengan air mata mengalir, tak sadar Aeron pun terhenyak ia pun juga meneteskan air matanya lalu memalingkan mukanya.
"Maafin ayah sayang.."lirih Aeron. Calista memeluk papanya dengan erat.
Uhuk.. uhuk.. Calista segera menyadari sesuatu, melepas pelukan ayahnya ia segera berlari ke arah Darren yang sudah terkapar tak berdaya, wajahnya babak belur, sampai ia muntah darah.
"Mas.. mas.. bangun.."Calista menepuk kedua pipi suaminya, lalu menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala suaminya, "Maafin aku mas..."Calista mulai terisak, air matanya jatuh tepat di wajah Darren.
"Ja.. nga.. na..ngis.. sa..yang..."lirih Darren sebelum kemudian matanya lansung terpejam.
"Mas.. ku mohon bangun. Aku sudah memaafkanmu mas, aku mohon jangan tinggalin aku. Anak kita butuh dirimu mas..."isak Calista.
Aeron yang melihat putrinya begitu sedih pun tak tega, ia segera menyuruh para bodyguardnya untuk mengangkat Darren dan membawanya ke rumah sakit.
Aeron berlalu pergi ke ruang kerjanya, lalu ia menatap terisak, "Ya Tuhan, apakah aku terlalu kejam padanya. Aku hanya ingin melindungi putriku, aku tidak terima dia memperlakukan putriku begitu buruk.."lirih Aeron, melihat wajah sendu Calista membuat ia merasa bersalah.
"Kamu tidak salah sayang,,"ucap Mona menenangkan Aeron.
Aeron bangkit lalu memeluk istrinya dengan erat, ia terisak dengan pelan.
•••
Aku up doble lho, setelah beberap hari gak update.
Jangan lupa like, komentar, hadiahnya.
__ADS_1
Tetap berikan komentar dalam setiap bab oke, makasih 😊
Tbc.