
Sampai di depan pintu ruangan Calista berada, Darren menarik nafasnya pelan ia harus berusaha sekuat mungkin.
Klek..
Pintu ruangan terbuka. Mama Meysa dan Randy yang berada di sana segera melirik ke arahnya. Dalam ambang pintu Darren terdiam, sejenak ia menatap tubuh istrinya yang masih tergolek lemah di brankar.
Entah kenapa langkah kakinya semakin berat, perasaan sesak kian menyelingkupi di dada. Hatinya sakit, kala harus mencoba menerima kenyataan pahit ini.
"Darren..."panggil Randy, ia menatap sendu keponakan tercintanya itu.
Meysa menundukkan pandangannya, dapat ia rasakan kehabcuran Darren kali ini, membuktikan jika Darren telah mengetahui semuanya. Rasa bersalah kian menyeruak dalam dadanya.
Salahkah aku menyembunyikan semua ini darinya, maafkan mama Darren, mama tak memberitahukanmu sejak awal, karena mama takut Calista membenci mama.
Tidak peduli akan keberadaan paman Randy dan Mama Meysa, Darren terus melangkah mendekati istrinya.
Nyatanya Darren tak sekuat itu, sampai di dekat istrinya tangisnya kembali luruh, tak sanggup lagi ia menahan gejolak yang ia rasa. Darren langsung memeluk erat istrinya dengan air mata berderai.
"Kenapa kau begitu kejam sayang, apa maksudmu sembunyikan ini semua dariku,"lirihnya.
Meysa dan Randy menatap keduanya dengan senyum getir. Tak kuasa menahan pedih keduanya memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
Perlahan, kedua mata Calista mengerjap, menyapu langit-langit ruangan itu, kemudian ia terkejut kala merasakan badan seorang yang terguncang, matanya beralih menatapnya.
"Mas..."panggilnya lemah.
Darren menghentikan tangisnya, "sayang.."sahutnya lirih.
Ia berdiri dari tempatnya, "apa ada yang sakit? katakan sayang...?"sambungnya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kenapa kamu menangis?"tanyanya ia berusaha mengangkat tangannya untuk menggapai wajah sang suami yang kini terlihat sembab, entah berapa lama suaminya itu menangis.
__ADS_1
Darren memalingkan mukanya tak sanggup rasanya untuk melihat tubuh ringkih istrinya kini, "kenapa tak menjawab? kenapa tak menatapku mas?"sambung Calista kembali bertanya, dengan tenaga yang lemah Calista berusaha mengubah posisinya untuk duduk, agar memudahkan ia menatap wajah Darren.
Menarik nafasnya pelan, Darren kembali menatap wajah istrinya, "kenapa kau membohongiku sayang?"tanyanya sendu.
"Maksudnya..?"Calista masih tak memahami situasi yang terjadi.
"Sejak kapan kau tau, bahwa kau sakit mengidap penyakit berbahaya itu.."tanya Darren dengan mata memerah menggambarkan betapa hancurnya ia kini.
Deg, Calista terkejut ia tak menyangka pada akhirnya kondisi tentang dirinya akan terbongkar secepat ini, lidahnya kelu tak mampu menjawab.
"Jawab sayang? kenapa kau hanya diam saja. Kenapa kau begitu kejam, kau anggap aku apa? Aku suamimu tempatmu bersandar, tapi teganya kau menyembunyikan itu semua dariku?"cecar Darren pilu.
Tes, air mata Calista jatuh menetes melihat betapa hancurnya suaminya saat ini, ia menunduk, "maaf.."hanya satu kata yang mampu ia ucapkan saat ini.
"Sejak kapan sayang..?"Darren mengambil tangan ringkih istrinya yang memucat ia menggenggam lalu mengecupnya singkat.
Calista menarik nafasnya pelan, ya pada akhirnya semua memang harus ia ceritakan, "sejak pertama kali aku dinyatakan hamil.."jelasnya.
"Kita berobat saja ya sayang?"pinta Darren.
Calista mengurai pelukannya menatap wajah sang suami lalu menggelengkan kepalanya, "tidak.."
Darren sudah menduga istrinya pasti akan menolak, "aku mohon..."
Calista menggelengkan kepalanya, "aku tidak mau mas, dengan aku melakukan pengobatan itu artinya aku harus membunuh anak kita. Aku tidak mau,"ucap Calista kini ia beralih melingkarkan kedua tangannya di perut buncitnya.
"Sayang, semua di lakukan untuk kebaikanmu. Nanti jika kau sembuh, kau bisa hamil lagi.."tutur Darren lembut.
Calista tetap pada pendiriannya, "kebaikan, kebaikan apa yang kamu maksud mas? jika pun aku sembuh namun sebelumnya aku telah membunuh anakku untuk apa? lebih baik aku mati mas.."
"Calista, kenapa kau tidak juga memikirkan perasaanku? Aku suamimu kenapa kau tidak menuruti perintahku.. Aku tidak mau tau pokoknya kau harus melakukan pengobatan.."bentak Darren lantang. Sedetik kemudian, ia menyesali ucapannya melihat wajah istrinya yang kian menggelap takut.
__ADS_1
Darren mengusap wajahnya frustasi, "maaf.."ucapnya pelan. Tak sepatah katapun lagi Darren berlalu meninggalkan Calista begitu saja.
Calista menduduk takut, ia memeluk perutnya, "tidak nak, Mommy tidak akan membiarkan Daddymu membunuhmu.."
Begitu membuka pintu ia mendapati Mama Meysa, Papa Bram, Paman Randy, Bibi Nancy, berada di sana.
"Darren.."panggil mereka.
Darren berjalan mendekati Meysa, "kenapa ma? kenapa kau tega menyembunyikan semua ini dariku,"tanya Darren.
Meysa mengangkat wajahnya, "maafin mama Darren. Calista mendesak mama untuk terus berjanji."
Darren memalingkan mukanya, "kenapa mama justru menurutinya,"
Bibi Nancy mendekati Darren dan mengelus punggungnya, "Darren..."
Darren terisak, "Bibi aku harus bagaimana bi. Aku tidak mau kehilangan istriku..?"
Bibi Nancy membawa Darren ke dalam pelukannya.
"Apa yang harus ku katakan pada Ibu dan Ayah, Bi? Aku benar-benar tidak becus menjadi suami, berbulan-bulan istriku menahan sakit tapi aku tidak tau.."sambungnya.
••
Like
Komentar
Hadiah
Tbc
__ADS_1