Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Di mana sayang?


__ADS_3

"Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkk....."


Teriakan Darren begitu mengejutkan.


"Darren, kenapa?"tanya Nancy mennghampiri keponakannya yang kini terduduk lemah di ranjang rumah sakit, dengan nafas yang tak beraturan, keringat dingin membasahi keningnya.


Darren terdiam tak menjawab pertanyaan bibinya, ia mengedarkan tempat setiap sudut di mana kini ia berada, rumah sakit ya dia berada dalam satu ruangan rumah sakit, tampak satu buah jarum infus menancap pergelangan tangannya.


Apa yang terjadi? pikirnya.


"Darren, apa kau mendengar kata Bibi..,,?"bibi Nancy kembali bertanya padanya.


Darren masih terdiam membisu, berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan yang terjadi sebelumnya.


Calista! satu nama yang menempati ruang hatinya, di mana istrinya kini berada.


"Calista..?"panggil Darren.


"Darren dengarkan bibi, Calista-"


"Tidakkkk...." teriak Darren, bergegas ia mencabut jarum infus di tangannya sembari menutup kedua telinganya, tak ingin mendengarkan berita buruk apapun.


"Darren...'bibi Nancy berusaha memanggil Darren, ia berniat mencegah keponakannya itu pergi.

__ADS_1


"Tidak Bibi, aku tak kan mau mendengarkan apapun darimu. Aku harus memastikan semuanya sendiri.."teriak Darren.


Dengan wajah pucat Darren berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan di mana istrinya berada.


"Darren..." bibi Nancy berlari berusaha mengejar Darren.


Tak peduli tatapan mata orang-orang padanya, Darren terus berlari layaknya orang tak waras, dengan derai air mata.


Brak... Darren membuka pintu ruangan di mana sebelumnya Calista berada, namun di situ tak ada siapapun ia temukan. Kini, pikirannya kembali panik dan takut, ia memegang kepalanya meremas rambutnya frustasi.


Kamar mayat, tidak Calista tak mungkin berada di sana. Layaknya orang tak waras Darren terus berteriak memanggil nama istrinya.


"Calista, kamu di mana sayang..????"panggilnya ia terduduk lemah di depan pintu ruangan itu, dengan terus meraung-raung.


"Darren..."Jona datang mendekat menghampiri sahabatnya itu, ia membantunya untuk berdiri. Tak lama Bibi Nancy juga datang mendekat.


Kedua mata Jona berkaca-kaca , melihat betapa hancur sahabatnya itu, "tenanglah, Calista baik-baik saja,.."


"Ikutlah denganku, aku akan membawamu padanya..."sambung Jona.


Ia membawa Darren menuju suatu ruangan, dengan langkah lemah Darren menurutinya, di belakangnya tampak Bibi Nancy terus mengikutinya dengan tatapan sedih.


"Jadi-" Darren tak melanjutkan ucapannya saat kini Jona membawanya dalam ruangan VVIP.

__ADS_1


Jona tersenyum tipis mengangguk, "masuklah Calista menunggumu..."perintahnya.


Dengan ragu, Darren membuka pintu ruangan itu.


"Darren kau sudah sadar nak..."tanya Bram begitu melihat Darren muncul di ruangan itu.


Sadar! memangnya sebelumnya ia kenapa? pikirnya. Tanpa berucap Darren melangkah mendekati ranjang, di mana kini ia dapat melihat istrinya masih terbaring kondisi pucat.


"Calista, jadi dia-"tak sanggup ia menahan air matanya, rasa haru bercampur syukur terus terucap.


"Ya, Calista tadi sempat kritis. Belum sempat dokter menyelesaikan ucapannya kamu sudah pingsan, Darren.."tutur Meysa.


Darren masih terisak memandangi wajah istrinya, " Jadi tadi itu cuma mimpi. Ya aku harap itu cuma mimpi sayang, terimakasih masih tetap di sini.."lirihnya. Darren menggenggam tangan istrinya, lalu mencondongkan wajahnya mengecup singkat kening istrinya sedikit lama di sana, "terimakasih masih bertahan. Ku mohon bangun sayang..."bisiknya, tes satu tetes air mata jatuh membasahi kening istrinya.


Tak lama Darren merasakan pergerakan jemari istrinya yang kini ia genggam, perlahan kedua mata cantik itu terbuka.


"M-mas.."lirih Calista.


"Iya sayang, ini aku.."sahutnya dengan senyum pilu.


Semua yang berada di sana menatap pilu ke arah mereka.


••

__ADS_1


Meski pembacanya enggak banyak aku tetap semangat lho nulis novel ini, ya ini memang sedikit berbeda dari novel sayang selumnya ku buat, di sini banyak bawangnya guys.


Tbc


__ADS_2