
Darren dan Wildan tengah melakukan meeting di sebuah resto bersama rekan kerjanya. Sejenak, tatapan Darren melihat seorang pria yang tengah duduk di ujung cafe seorang diri.
"Kak Leno,"gumamnya.
Ingatannya kembali melayang akan kejadian tadi pagi, di mana istrinya menangis hanya karena perkara bunga sialan yang Leno kirimkan. Tak sadar tangannya mengepal dengan sempurna, wajahnya tampak memerah.
"Tuan,"tepukan bahu dari Wildan, menyadarkan lamunan Darren. Kini, Darren mengubah kembali fokus, nyatanya semua tak segampang yang ia kira, tangannya terasa gatal ingin memberikan pelajaran pada kakak sepupunya.
Melihat atasannya yang tak fokus, Wildan dengan sigap mengambil alih hingga proses meeting itu berjalan lancar, kliennya berpamitan pergi.
"Sialan, kemana dia?"umpat Darren saat tak menemukan di mana Leno saat ini.
"Tuan, cari siapa?"tanya Wildan.
"Jangan ikut campur, mana kunci mobil?"Darren menengadah tangannya meminta kunci mobil.
"Untuk apa Tuan?"
"Banyak tanya, cepetan! Saya ada urusan, kamu balik kantor pakai taksi!"perintahnya usai menerima kunci mobil dari asistennya bergegas ia pergi.
Drrt..drrtt...drrtt..
Ponsel dalam saku Wildan bergetar menandakan ada telepon masuk.
"Ya Nyonya besar?"seru Wildan sembari menempelkan ponselnya di telinganya.
"...."
"Tadi Tuan sama saya, tapi sekarang dia sudah pergi, dia bilang ada urusan,"
"...."
"Baik Nyonya,"
•••
Darren membanting stir ke sebelah kanan.
Cittt... brak.. dia berhasil menghentikan mobil Leno yang sedari tadi ia kejar, kini keduanya tengah berada di tempat sepi.
"Darren,"ucap Leno yang masih memijat keningnya akibat terpentok stir mobilnya. Sembari meringis ia melihat Darren turun dari mobil berjalan ke arah dirinya dengan tangan yang mengepal.
Tok...tok.. brak..brak
__ADS_1
Leno terkejut saat Darren mengetuk kaca mobilnya dengan keras.
"Apaan sih dia,"seru Leno.
"Kak Leno turun,"bentaknya, bergegas Leno membuka pintu mobilnya.
Bugh.. bugh... Darren langsung menghantam wajah Leno membuat badan Leno terhuyung. Ia tak memberi ruang dan waktu untuk Leno berbicara. Leno meringis saat merasakan sudut bibirnya berdarah.
"Bangun kak, sini hadapi aku,"teriaknya, Darren kembali mencengkram kerah baju Leno.
"Darren ini,"
Bugh, belum sempat Leno melanjutkan ucapannya Darren kembali melayangkan pukulan tepat di perutnya membuat ia kembali terhuyung.
"Darren kau ini apa-apaan,"ucapnya, membuat emosi Darren kian meledak saat mendengar ucapan kakaknya tanpa rasa bersalah.
Darren mendekati Leno, ia berjongkok tepat di hadapan Leno.
"Kau brengsek kak, kau terang-terangan mau menusukku, kau mau merebut Calista dariku,"bentak Darren, Leno tersentak kini ia mengerti mengapa adiknya berbuat demikian.
Bodoh! kenapa ia tak paham bahwa Darren memiliki tempramen yang kuat.
"Sialan! bahkan meski kau kakakku dan aku berutang jasa pada kedua orang tuamu, sampai matipun aku tidak akan rela Calista jatuh ke dalam pelukanmu."sambung Darren.
Leno berusaha bangkit ia menatap Darren smirk, "jadi ini yang membuatmu begitu marah padaku. Kenapa kau harus takut? jika memang Calista benar mencintaimu dia tidak akan terpengaruh akan sejuta rayuanku kan. Kenapa kau setakut itu? aku dengar pernikahan kalian juga berawal dari sebuah kesalah pahaman bukan karena cinta. Kau tidak sebaik yang ku kira, jadi jika memang Calista akan jatuh cinta padaku aku akan sangat senang,"ucapnya.
"Jangan pernah kau dekati istriku, sampai seujung kuku pun kau menyentuhnya aku akan membunuhmu kak,"teriaknya Darren bersiap akan melayangkan pukulannya.
"Tuan,"sebuah suara menghentikan gerakannya, Wildan datang mendekat melerai keduanya.
"Minggir Wildan akan ku beri pelajaran dia,"ucap Darren dengan emosi, saat Wildan justru melerai keduanya.
"Cukup Tuan, ini tidak baik kalian harus berhenti,"seru Wildan.
"Minggir kau,"
"Tidak,"
Leno yang berdiri di belakang Wildan tersenyum tipis.
"Tuan Leno anda pergilah,"perintah Wildan.
"Hei apa yang kau lakukan saya belum selesai pelajaran padanya,"Darren berusaha menjangkau Leno.
__ADS_1
"Tuan anda harus segera kembali ke kantor Nyonya Nancy, Tuan Aeron, dan Nyonya Mona menunggu anda di sana,"seru Wildan.
Darren mengusap wajahnya, ia baru sadar jika siang ini telah ada janji dengan mereka.
••
Dita berjalan keluar dari supermarket usai membelikan mendapatkan pesanan Calista.
Copet..copet.. teriak seorang wanita di depannya. Bergegas Dita menghampirinya.
"Nona ada apa?"tanyanya.
"Saya kecopetan,"serunya dengan panik.
"Mana copetnya?"
"Lari ke arah sana, dia memakai jaket jins berwarna navy celana panjang,"ucap wanita itu.
Usai mendengar ciri-cirinya Dita segera berlari mencari pencopet tadi. Di sudut jalan ia melihat seorang pria seperti yang wanita tadi sebutkan, sekuat tenaga Dita berlari lalu memukulnya menggunakan tas miliknya.
Bugh...bugh.. bugh..
"Hei kau apa-apaan sih,"teriak sang pria.
"Kembalikan dompetnya, kau pencopet kurang ajar, akan ku laporkan kau ke polisi,"seru Dita.
Sontak pria itu berdiri dan mendorong Dita, ketika tatapan keduanya bertemu keduanya saling terkejut.
"Kamu!!"ucap keduanya.
Dita berusaha bangkit, "Tuan pebinor,"tunjuknya.
"Sialan! kurang ajar kau sudah meneriaki ku maling, memukulku, sekarang kau menuduhku pebinor, wanita tak punya sopan santun, bukannya meminta maaf malah makin menjadi,"ucap Leno.
"Maaf saya kira anda pencopet,"ringis Dita kala melihat tatapan tajam Leno ia jadi ngeri.
Sial banget sih aku, udah dihajar Darren sekarang malah diteriaki maling sama wanita pelayan ini, gumamnya.
°••
Like
komentar
__ADS_1
hadiah
Tbc