Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
BUKAN PRIA BAIK


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


Melodi melangkah masuk mengikuti langkah Jona. Ia memerhatikan tiap sudut rumah itu, yang begitu sepi, lalu ia bergidik.


"Duduklah.."titah Jona usai keduanya sampai ruang tamu.


Melodi menatap Jona dengan perasaan was-was, entah sejak kejadian itu ia begitu takut berdekatan dengan pria, hatinya terluka, jika saja tidak mengingat kedua orang tuanya, Melodi akan tidak akan menerima perjodohan dengan Jona. Di usianya yang telah menginjak dua puluh tujuh, serta pertanyaan kapan menikah, keresahan kedua orang tuanya akhirnya Melodi mencoba menerima perjodohannya dengan Jona, beruntung keluarga sepakat mengundur pernikahan itu satu bulan lagi, jadi Melodi bisa lebih mengenal Jona lebih dulu.


"Gue gak akan ngapa-ngapain Lo lagi.."ucap Jona kala menyadari wajah Melodi yang begitu tegang, mendengar perkataan Jona, akhirnya Melodi pun mendudukan dirinya lalu menghela nafas lega.


"Kecuali kalau khilaf.."tambah Jona dengan gelak tawa menggoda.


Sontak Melodi mengambil bantal sofa di sisinya lalu melemparkannya pada Jona.


"Mau minum gak..?"tawar Jona.


Melodi menggeleng tanpa suara, "kenapa? takut gue kasih obat perangsang ya.."sambungnya, membuat Melodi mendelik menatap tajam Jona.

__ADS_1


"Gak usah melotot gitu, entar gue cium baru tau rasa.."godanya membuat Melodi mendengkus kesal, gak tau Melodi tengah menahan rasa takutnya, Jona justru semakin gencar menggodanya.


"Kamu tinggal di sini...?"akhirnya setelah sekian lamanya, Melodi mau bertanya.


Jona mengangguk, "kadang, gue mah bebas kemana-mana.."jawabnya jujur.


Melodi mengangguk, entah kenapa pikirannya justru terlintas buruk, ia berpikir jika rumah ini Jona khususkan untuk membawa Angela kala ia membutuhkan wanita itu.


Jona mnegerutkan keningnya, "Lo mau tanya apa Mel, entar gue jawab deh.."ucapnya.


Melodi menunduk, "Jo, sejauh itu hubunganmu dan Angela...?"tanya Melodi dengan serius.


"Iya Mel..."Jona mengangguk, membuat Melodi terdiam kecewa, wanita itu tampak meremas tangannya, entah kenapa itu terdengar seperti dia telah di khianati, padahal dirinya tau Jona dan dirinya baru berkenalan dalam waktu beberapa hari yang lalu.


"Gue brengsek ya Mel..."sambungnya, sentra wanita di depannya itu tetap terdiam menatap Jona dengan tatapan sendu.


Jona mendekati Melodi, ia hanya duduk di sebelahnya sedikit menjaga jarak darinya, "maaf,.."

__ADS_1


"Seberapa banyak..?"tanya Melodi.


"Apanya..?"tanya balik Jona.


"Wanita yang kau tiduri, dia bukan satu-satunya dari sekian wanita itu kan..?"seru Melodi.


Jona terdiam melirik ke arah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu, itupun kalau jadi kalau enggak berarti mantan calon istri. Jona mengangkat telapak tangannya sembari berfikir pria itu mulai memainkan jarinya.


"Aku lupa, Mel. Banyak kayaknya, hanya saja Angela termasuk wanita yang lebih lama dengan aku, biasanya aku hanya sekali bermain dengan wanita lain,.."ujar Jona, Melodi melengos membuang muka dari pandangan Jona.


"Rumah ini kamu khususkan kalau-"


"Enggak Mel, aku gak pernah bawa wanita manapun masuk ke rumah ini kecuali kamu.."Jona beranjak dari tempatnya kini ia berjongkok menatap Melodi.


Kedua mata Melodi berkaca-kaca, menatap Jona sendu, "salah gak sih Jo kalau aku kecewa, aku sedikit terluka.."lirihnya.


Jona mendongak menatap kedua mata kedua mata Melodi yang tengah berembun, "enggak, Lo gak salah gue emang bukan pria yang baik..."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2