Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Pembawa sial


__ADS_3

Darren maupun Aeron mengalihkan pandangannya ke ambang pintu, di sana mereka dapat melihat Mona yang menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca, badan gemetar. Tadinya Mona berniat pergi ke dapur, namun sesaat ia melihat suaminya berjalan menuju ruangan kerja Darren, merasa penasaran ia membuntutinya. Pada akhirnya ia harus mendengar kenyataan pahit tentang putri kita.


"Ibu..."lirih Darren.


Mona menggelengkan kepalanya, berjalan mendekati keduanya, "katakan apa yang ibu dengar tadi bohong..."pintanya.


"Sayang tenanglah..."Aeron berusaha menenangkan istrinya.


"Tidak,.."Mona menepis tangan suaminya, "Aku takkan bisa tenang sebelum kalian mengatakan bahwa apa yang ku dengar tadi bohong, Calista putriku tak mungkin mengidap penyakit itu..."sambungnya, kali ini di iringi isakan kecil.


Darren menatap Ibu mertuanya dengan iba, "Ibu maafkan aku, aku tak becus menjadi suami.."ucap Darren.


Mona menatap wajah menantunya, "jadi semua itu benar?"kembali lagi bertanya berharap jawabannya tidak benar.


Darren mengangguk lemah, "i-iya bu.."lirihnya.


"Tidak.. aku tidak mau putriku sakit. Tidak.."teiakan histeris Mona terdengar melengking di ruang kerja Darren. Aeron berusaha menenangkan istrinya, namun berkali-kali Mona menepis tangannya.


Menghapus air matanya Mona berjalan mendekati Darren.


Plak..


Sebuah tamparan mendarat di pipi menantunya itu, membuat Darren meringis, Aeron terkejut.


"Ibu.."


"Ini semua karena kamu.."bentak Mona, saat akal pikirannya sedang tak sejalan.


Deg..


Darren menatap pilu ibu mertunya, rasanya tamparan itu bahkan tak sesakit ucapan ibu mertuanya.


"Bu tenanglah.."Aeron kembali berusaha menenangkan gejolak emosi yang di landa istrinya.

__ADS_1


"Tidak, lepas. Biarkan aku memberi pelajaran padanya Yah. Ini semua karena dia, karena dia putri kita menderita. Aku tidak terima, kenapa tidak dia saja yang sakit? kenapa harus putri kita. Bukankah sudah banyak luka yang ia torehkan pada Calista.."Mona terus berteriak histeris.


Darren menatapnya dengan senyum kecut, karena dirinya? Calista menderita karena dirinya.


"Dia memang pembawa sial kan Yah. Pantas saja dia dulu di tinggal mati Breana. Karena pria seperti dirinya tak pantas mempunyai pendamping hidup.."Mona terus teriak meronta dalam genggaman Aeron.


Deg, Darren kembali terhenyak. Kata-kata ibu mertuanya seakan menjadi belati yang sangat tajam menusuk ulu hatinya. Benarkah demikian? pikirnya. Ia hanya menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ibu..."teriak Aeron habis sudah kesabarannya. Ia menarik tangan istrinya membawanya keluar dari sana.


"Jika terjadi sesuatu pada Calista, aku tak akan memaafkanmu Darren, camkan kata-kataku ini.."ancamnya sesudah ia keluar dari sana.


Darren mendudukan dirinya kembali ke kursi, ia menunduk meremas kepalanya.


Dia pembawa sial.


Pria seperti dirinya tak pantas mempunyai pendamping hidup.


Sudah banyak luka yang ia torehkan pada Calista.


Benar! Memang telah banyak luka yang ia torehkan. Terhitung banyaknya sebuah kata cinta dan kebahagiaan yang ia berikan untuk Calista, itu belum seberapa. Luka yang ia torehkan itu memang terasa berat. Hal itu akan terus di ingat untuk mertuanya.


Pembawa sial! Darren kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Benarkah demikian, apa karena dirinya Calista jatuh sakit, Calista menderita. Entah terbuat dari apa hati istrinya.


•••


Darren menatap wajah istrinya yang terlelap dengan sendu, tangannya bergerak menyingkap sehelai rambut yang menutupi wajahnya, perlahan ia mendaratkan kecupan singkat di sana.


Darren menggenggam erat tangan ringkih istrinya, "maaf sayang! maafkan aku.."lirihnya.


"Maaf, karena telah mengantarkanmu pada jurang derita.."sambungnya, entah kenapa setelah mendengar kecaman ibu mertuanya, Darren merasa sangat bersalah pada istrinya.


"Mas.."panggil Calista usai membuka kedua matanya. Darren tersentak, secepat kilat ia memalingkan mukanya lalu menghapus air matanya.

__ADS_1


"Iya sayang, kenapa bangun? Apa aku mengganggumu hem.."tanyanya.


Bukannya menjawab Calista justru mengangkat tangannya membelai wajah suaminya, "kamu nangis..?"tanyanya heran.


"Tidak.."dustanya, "sudahlah kau tidur lagi ya, aku ingin keluar sebentar.."


Belum juga Darren beranjak, Calista lebih dulu menarik tangan suaminya,"mau kemana? temani aku tidur ya.."pintanya.


Darren pun mengurungkan niatnya untuk pergi, lalu merangkak naik menemani istrinya tidur.


Calista tersenyum tipis melihat suaminya kini berbaring di sampingnya. Ia mengambil tangan suaminya lalu meletakkannya di atas perutnya yang terlihat sedikit membuncit.


"Kenapa?"tanya Darren.


"Di elus ya, kamu rasakan deh pergerakannya, anak kita itu aktif banget.."ucap Calista.


Darren merasa haru, saat merasakan ada kehidupan baru di dalam rahim istrinya, andainya tak ada penyakit itu sungguh Darren akan menjadi pria yang paling bahagia saat ini.


"Mas kau ingin anak perempuan apa laki-laki..?"tanya Calista.


"Apapun itu, aku hanya minta satu, kau tetap berada di sisiku.."jawab Darren.


Calista mengangguk, "aku mengerti mas,"


•••


Like


Komentar


Hadiah


Vote

__ADS_1


Tbc


__ADS_2