
"Menikah! Jangan bercanda Calista!” seru Mona tak percaya.
"Aku tidak bercanda, Bu.” Calista beranjak dari pangkuan sang ibu, lalu mendudukan dirinya di sisinya, dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
"Dengan siapa? Ibu tidak pernah melihatmu membawa pria ke rumah,” ujar Mona heran.
"Darren,” jawab Calista, menyembunyikan senyum getirnya.
"Darren, siapa pria itu sayang? Apa dia pria yang baik?” tanya Mona beruntun.
Calista tersenyum kecut, lidahnya kelu tak mampu menjawab. Pria yang baik ? Calista bahkan tidak tau sama sekali watak pria itu, ia baru bertemu sekali dan Darren langsung mengajaknya menikah, ah bukan mengajak lebih tepatnya pria itu sedikit memaksa.
“Calista!” tegur Mona ketika putrinya tak kunjung memberi jawaban, entah kenapa ia merasa Calista menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tentu saja dia pria yang baik,” dustanya, karena tidak ingin Ibu nya mengetahui kebohongannya.
"Ibu bisakah bantu aku untuk mengatakan hal ini pada Ayah,” pintanya kemudian.
Mona menghela nafasnya ragu. Namun, sedetik kemudian ia mengangguk apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan putrinya.
🌹🌹🌹
"Kau serius Calista?” tanya Aeron dengan rasa tak percaya. Setelah Mona mengatakan niat sang putri paginya Aeron memanggil putrinya itu.
"Iya Ayah," sahutnya.
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan? Kau tidak sedang hamil duluan kan?" pungkasnya, pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar.
"Tidak Ayah. Aku ini masih menjaga kehormatan ku dengan baik. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu," ujar Calista
"Siapa pria itu sayang?” tanya Aeron dengan lembut. "Apa ayah mengenalnya?" sambungnya.
Calista menggeleng. “Dia pria yang baik Ayah.” Hanya itu yang bisa Calista katakan untuk saat ini.
"Apa kau bahagia jika menikah dengannya?” tanya Aeron lagi.
Deg!
Bahagia? Calista bahkan tidak yakin. Namun, demi meyakinkan Ayahnya Calista terpaksa membohonginya. Calista menganggukkan kepalanya.
"Calista sebenarnya Ayah masih belum rela melepasmu pada pria lain. Tapi demi kebahagiaanmu apapun akan ayah lakukan dan berikan. Sekalipun ayah harus mempertaruhkan nyawa ayah sendiri,” ujar Aeron, membuat Calista menatap sang Ayah dengan sendu, mendengar segala penuturan Ayahnya dengan penuh cinta. Terbukti Aeron sangat menyayangi putri tunggalnya itu, lalu bagaimana jika ayahnya tau pria yang hendak menikahinya mempunyai maksud tertentu padanya. Akan semarah apa ayahnya nanti.
__ADS_1
"Ayah,” lirih Calista, menghambur ke pelukan Aeron.
"Terimakasih telah menyayangi Calista segenap jiwamu. Aku sangat beruntung memilik ayah seperti dirimu,” sambungnya tersenyum getir.
Aeron tersenyum tipis ia menghapus sudut matanya yang basah, lalu membelai rambut Calista.
"Suruhlah calon suamimu kemari melamarmu secara resmi Calista," ucap Aeron.
Calista mengangguk. "Baik ayah.”
"Ya sudah Ayah ke kantor dulu.”
Calista hanya tersenyum tipis. Sepeninggal Ayahnya Calista menimang kembali keputusannya. Dia ingin menolak menikah dengan pria itu, namun di sisi lain mimpi buruk itu selalu ia alami, tak lupa perasaan bersalahnya juga selalu bermunculan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menerima ajak Darren.
Tuhan, semoga aku tidak salah mengambil keputusan.
Calista mengambil ponsel miliknya lalu mengirimkan pesan pada Darren.
🌹🌹
Darren tersenyum smirk saat membaca pesan yang dikirim Calista.
Darren melajukan mobil miliknya ke rumah kedua orang tua Breana,.
"Pagi pa ma,” sapa Darren saat baru tiba di sana. Karena sudah akrab, kedua orang tua Breana sudah menganggap Darren putranya.
"Pagi nak.."
Darren mendudukan dirinya di sofa bersebrangan dengan mantan calon mertuanya itu. Ia sedikit gelisah menimang-nimang keputusanya.
"Ada yang kau ingin sampaikan Darren.."tanya Bram, ia melihat kecemasan di raut wajah Darren.
"Iya pa.."
"Katakanlah nak,” timpal Meysa.
Darren mengangguk, "Ma Pa, Darren kesini bermaksud menyampaikan jika Darren akan menikah.”
Duarr.. seketika keduanya terlonjak kaget. Bagaimana bisa Darren berkata demikian, bahkan makam mantan calon istrinya masih basah, dan Darren secepat itu move on, sungguh tak dapat di percaya.
"Kau tidak salah, baru seminggu Breana tiada dan kau sudah mendapatkan calon istri. Apa sebelumnya kau memang telah mengkhianati Breana,” tuding Meysa dengan tatapan tajam, ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Bram mengelus pundak Meysa untuk memberikan ketenangan padanya.
"Tidak Pa Ma, selama ini aku selalu setia,” bantah Darren.
"Lalu?” tanya Bram dengan penasaran.
"Wanita yang akan aku nikahi bernama Calista, dialah penyebab nyawa Breana tiada. Aku bermaksud menikah dengannya untuk membalaskan dendamku, aku akan menghancurkan hidupnya. Penjara, adalah hukuman termudah untuknya, dia bisa bebas dengan mudah,” tutur Darren.
Mata Meysa tersenyum cerah seolah ia menyetujui ide dari mantan calon menantunya itu.
Bram menggelengkan kepalanya. "Darren meskipun wanita itu salah. Kau tidak harus mempermainkan pernikahan kan, pernikahan adalah ikatan yang suci. Papa tidak setuju kau menggunakan cara itu, bagaimana jika apa yang kau lakukan justru akan menikam dirimu sendiri,” tutur Bram lembut. Ternyata Breana menuruni sifat dari papanya yang terlihat lemah lembut dalam bertutur kata.
"Tidak akan Pa, aku sudah memikirkannya jauh hari, dan aku tidak mungkin mundur,” sahutnya tegas.
"Terserah kau saja.” Bram beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Meysa dan Darren.
"Kau yakin menikahinya hanya untuk membalas dendam kan, kau tidak jatuh cinta padanya kan?” cecar Meysa sepeninggal suaminya.
"Tentu ma.."
"Baiklah aku mendukungmu.."
"Oh ya Ma, di mana Caren?”anya Darren ia menanyakan adik dari Breana.
"Sedang keluar,” sahut Meysa.
Darren pun mengerti, setelahnya ia pamit untuk kembali ke perusahaan miliknya.
🌹🌹🌹
Selamat hari raya idul adha
Jangan lupa
Like
komentar
hadiahnya ya
Tbc.
__ADS_1