
🌻JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMENTARNYA🌻
🌻MAKASIH, SAYANG KALIAN🌻
Darren menatap tubuh istrinya dengan pandangan pilu, lagi dan lagi ia kembali membuat Calista terluka. Kenapa, Calista tak membiarkan saja ia mati di tangan Caren tadi, kenapa Calista harus menyelamatkan dirinya dengan mempertaruhkan nyawanya, andainya Calista telat sedikit saja mencabut selang infus pada tubuh Darren, maka dapat di pastikan saat ini tidak akan ada lagi nama Darren di dunia.
Dokter telah memeriksa jenis obat yang di masukan ke dalam infus milik Darren, itu merupakan jenis racun yang sangat mematikan.
Darren menangis pilu sambil menggenggam tangan ringkih istrinya, lalu membawanya ke dekat bibirnya ia mengecupnya dengan penuh kelembutan.
"Maaf sayang..."lirihnya, ia terus terisak bulir air mata jatuh tepat di tangan lembut nan putih istrinya.
"Mas kenapa menangis.."sahut Calista lemah setelah kedua kelopak matanya terbuka. Sebelah tangan kanannya terangkat untuk membelai lembut wajah suaminya, ia menatap haru suaminya, wajah yang penuh dengan luka lebam membiru itu ia belai setiap inci.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja.."sambungnya.
"Kenapa kau tak membiarkan aku mati saja sayang ? kenapa kau harus mempertaruhkan nyawamu, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa memaafkan diriku sayang. Bahkan kesalahanku yang lalu belum sepenuhnya ternaafkan Calista. Aku hanya seorang pria bodoh dan tak tau diri.."tutur Darren ia menatap pilu istrinya.
Calista membalasnya dengan tatapan lembut, entah terbuat dari hati istrinya itu, bahkan Darren tidak dapat melihat aura kebencian apapun pada diri istrinya. Kemanakah hati nuraninya selama ini ? kenapa ia bisa begitu jahat dan kejam pada seorang wanita yang berhati malaikat di depannya kini. Kenapa ia tidak bisa melihat ketulusan hatinya ?
"Karena aku dan anakmu masih membutuhkan dirimu.."jawab Calista, benar selain karena cintanya Calista masih sangat memerlukan kehadiran Darren di sisinya, demi anaknya.
Darren mengusap dan membelai wajah Calsita dengan penuh kelembutan, semakin tak ingi ia kehilangan sosok wanita berhati malaikat di depannya kini.
"Aku sangat mencintaimu sayang.. Maaf atas sebuah goresan luka yang telah ku berikan padamu, ijinkan aku untuk menebus segala kesalahanku..."seru Darren.
Calista mencoba bangun dari tempat tidurnya, "tentu mas, karena ini yang aku harapkan sejak dulu.."lirihnya.
__ADS_1
Darren mendekatkan tubuhnya, ia memeluk tubuh ringkih istrinya mendekapnya erat dengan penuh cinta. Perasaan nyaman dan cinta menyelimuti keduanya. Bibi Nancy yang duduk di sofa menatap haru keduanya.
Drt.. drt.. ponsel Darren di atas nakas berdering. Ia melepas dekapan istrinya, meminta ijin untuk menerima sebuah panggilan.
"Ya Jona, kenapa..?"tanyanya di balik telpon.
"....."
"Lakukan sesuai perintahku, dia harus membayar mahal akan kehancuran yang telah ia perbuat.."jawabnya, terlihat ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, rahangnya mengeras memperlihatkan betapa marahnya ia.
Usai panggilannya berakhir, Darren kembali menetralkan perasaannya, ia tak ingin membuat Calista kembali menatapnya dengan takut.
Tidak lama pintu ruangan itu terbuka Aeron dan Mona masuk. Aeron mengatakan ada andil seorang dokter mengapa Caren dapat masuk dengan mudah ke rumah sakit itu.
•••
Caren terus tersenyum menggoda pada salah satu pria tampan di sebelahnya. Caren tidak menyadari bahhwa pria itu merupakan seseorang yang tengah menyamar, untuk menjebaknya. Pria itu terua menatap Caren, buka karena ***** melainkan karena sebuaj tugas yang telah di berikan oleh sahabat dekatnya.
Seorang dokter pria yang telah membantu Caren dalam melakukan rencana pembunuhan pada Darren dan Calista juga sudah di masukkan ke dalam penjara atas perintah Aeron, dia begitu bodoh mau mengikuti perintah Caren atasa iming-iming tubuh seksinya, lalu mempertaruhkan profesi yang sedang ia jalani. Aeron juga mencabut lisensinya agar ia tidak dapat membuka ijin praktek lagi dan tidak dapat di terima di ruamh sakit manapun saat nanti ia sudah bebas dari penjara. Aeron benar-benar menepati ucapannya, ia akan menghancurkan siapapun yang telah membuat putrinya menderita.
Jona tersenyum ngeri, akan segala tindakan frontal Aeron, apalagi saat melihat wajah sahabatnya Darren yang babak belur akibat ulah Aeron.
"Ckck.. Darren memang benar-benar bodoh,.."decaknya, sementara ia terus menatap Caren dengan intens.
Namun atas bantuan dokter itu pula, kini Jona bisa berada di sana, menjebak seorang buronan polisi atas kasus pembunuhan dan percobaan pembunuhan.
Dia tidak akan langsung menangkap Carren, Darren memintanya untuk memberikan pejaran lebih dulu pada wanita itu.
__ADS_1
Buat wanita itu membayar setiap tetes air mata dan kesakitan istriku rasakan Jona. Aku ingin wanita itu hancur, sehancur-hancurnya akan perbuatan yang telah ia lakukan. Jika kau tidak mampu melakukannya, suruhlah seorang pria hidung belang untuk melakukannya, mereka pasti akan dengan senang hati melakukannya. Begitulah permintaan Darren pada Jona. Apalagi setelah Darren mengetahui ternyata Caren hanyalah seorang anak angkat Bram dan Meysa. Setelah kebenaran itu terungkap pun Bram memgungkap kebenaran asal usul Caren sebenarnya.
Jona seorang pria cassanova penjelajah wanita saja sama sekali tidak tertarik pada tubuh Caren, nafsunya sudah terkalahkah dengan rasa jijik, tapi demi sahabat baiknya ia akan melakukannya, menjebak Caren sebelum masuk ke dalam penjara.
Dentuman musik yang cukup keras terus menghentak, Caren masih betah dengan posisinya, saat merasa tubuhnya sudah lelah segera ia menghampiri meja bertender.
"Beri aku minum..."pintanya pada seorang pelayan club itu. Tak lama segelas minum alkohol sudah tersedia di depannya, bergegas ia meminumnya hingga tanda tandas.
Jona yang berada tidak jauh dari sana menyunggingkam senyum smirknya, Caren tidak menyadari bahwa minuman yang telah ia minum telah tercampur dengan obat perangsang.
Beberapa detik kemudian Caren merasakan tubuhnya terasa panas, merasa ada sesuatu yang harus ia keluarkan, ia menginginginkan sebuah sentuhan dan belaian, tanpa sadar ia meremas tubuhnya sendiri.
Jona memberikan kode pada seorang pria suruhannya untuk melancarkan aksinya. Sementara ia tetap memantaunya dari jauh.
Caren tersentak, saat merasakan tiba-tiba seseorang memeluk dan membelainya secara sensual. Pria itu memutar tubuh Caren lalu membungkam bibir Caren dengan ciuman panasnya, tangannya terus bergelya bergerak secara liyar, meremas dua benda yang terlihat menantang membuat Caren menggeliat bak cacing kepanasan, ia menginginkam sebuah sentuhan yang lebih.
Tak cukup itu, pria itu terus menggerakan tangannya menyingkap pakaian Caren, lalu memasukannya jarinya disana, membuat Caren mendesah frustasi.
"Kau ingin lebih hem..."tanya pria itu di iringi sebuah ******* yang menggoda.
"Iya..."jawab Caren, dengan suara serak khas menahan gairah yang tengah hampir meledak pada tubuhnya. Caren terus menempelkan tubuhnya pada pria itu.
"Jangan di sini okey, ayo kita ke kamar.."serunya.
Sembari membawa Caren pergi, pria itu juga memberi kode pada Jona. Jona membalasnya dengan senyum smirknya lalu mengacungkan jempolnya.
•••
__ADS_1
Tbc.