
Sorry sedikit lama Hiatus, kemarin ada halangan hingga membuat aku memang tak ada kesempatan untuk menulis. Sesuai janji aku akan tetap membuat cerita ini tamat. Jadi ini akan aku up sampai tamat. Cerita Jona dan Melodi aku skip ya, jika nanti waktu senggang akan ku buat buku sendiri, dan entah akan di terbitin di pf mana? dan sebelnya aku mohon maaf jika endingnya tak sesuai dengan harapan kalian,🙇.
🌺🌺🌺🌺🌺*
Dua puluh tahun kemudian
Seorang pria berusia lima puluh tahun tengah duduk di kursi roda, matanya tampak sendu, kedua tangannya sibuk membelai bingkai foto yang berisikan wanita cantik.
Ia terus bergumam kan kata-kata cinta, seolah tengah berbicara pada yang bersangkutan.
Tok.. tok.. ceklek, pintu kamar terbuka namun tak juga membuat ia bergeming dari tempatnya.
"Darren, kau masih di sini? Aku mencarimu, ayo semua sudah menunggu, kau harus mengantarkan putrimu ke altar,"tegur Leno di ambang pintu.
Darren menghela nafasnya, "aku tau kak. Sebentar saja!"sahutnya tanpa berniat memutar tubuhnya.
Leno berdecak, lalu melangkahkan kakinya mendekati adik sepupunya, "apa yang kau tunggu. Bukankah ini yang selama ini kau nantikan, hari bahagia putrimu,"ia berucap pelan.
Darren mengangguk, lalu meletakkan bingkai foto itu kembali ke atas meja, "baiklah kak. Ayo antarkan aku kesana,"serunya.
***
Suasana taman rumah Darren telah di sulap dengan sedemikian rupa, demi menyelenggarakan pesta pernikahan Senja, putri satu-satunya yang teramat ia sayangi.
"Mami Dita di mana Daddy? Kenapa ia tak juga datang, bukankah sebentar lagi acara akan di mulai,"tanya seorang gadis yang tampak cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih itu.
Dita tersenyum menenangkannya, "sabarlah. Papi Ansel sedang mencarinya!"sahut istri Leno.
__ADS_1
Seorang anak laki-laki remaja melirik arahnya mengalihkan pandangannya dari tablet di tangannya sejenak, "ayolah kak tenang saja. Papi ku pasti akan membawamu Daddy kemari, ku jamin pernikahanmu tak akan gagal,"timpal Ansel putra Dita dan Leno.
Senja mendesah lalu tertunduk sebelum berucap, "aku pikir mungkin Daddy memikirkan-"
"Sayang,"
Panggilan itu membuat Senja kembali mengangkat wajahnya, di ambang pintu ia melihat Daddy-nya tengah menatap dirinya dengan senyum di bibirnya. Ia segera mempercepat langkahnya sembari mengangkat sedikit gaun pengantinnya menghampiri Daddy-nya.
"Dad, aku pikir-"
"Hei apa yang kau pikirkan. Jangan berburuk sangka, ini hari bahagiamu. Daddy sudah berjanji, Daddy sendiri yang akan mengantarkanmu berjalan ke altar. Kau sudah siap sayang?"tanya Darren lembut.
Senja mengangguk antusias, "terimakasih Daddy,"
***
"Tunggu sayang, Daddy punya hadiah untukmu,"ucapnya sambil memegang pelan lengan putrinya.
Senja menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Daddy-nya, "apa itu Dad?"
Dengan gerakan pelan, dan berpegangan dengan sisi kursi roda itu, Darren mencoba berdiri, membuat Senja terpengaruh, "Dad ini-"ia seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat, kedua matanya tampak berkaca-kaca, dengan cepat ia menghambur memeluk Daddy-nya, sejenak ia menumpahkan tangisan harunya. Dokter telah memvonisnya bahwa Daddy-nya akan lumpuh secara permanen, dan hari ini Tuhan menunjukkan kuasanya, Senja merasa bahagia, ini sebuah hadiah yang sangat istimewa baginya.
Momen itu juga membuat seluruh tamu yang berada merasa terharu, kebanyakan dari mereka mengetahui jelas apa yang terjadi pada Darren.
Mengurai pelukannya, Darren membingkai wajah putrinya menatapnya sejenak, lalu menghapus air matanya, "Kau sudah cantik, jangan menangis sayang! Berjanjilah setelah ini kau tidak boleh menangis, jadilah wanita yang kuat, ceria, sayang."pintanya.
Senja mengangguk, "aku janji! Karena aku mempunyai Daddy yang hebat, aku bangga mempunyai dirimu,"
__ADS_1
Setelah menetralkan perasaanya, kini Darren kembali tersenyum lalu menggandeng lengan putrinya, berjalan pelan menuju altar mengantarkan sang putri pada pengerannya Daniel Artya Satya, seorang pembisnis muda yang hebat dan sangat mencintai putrinya.
Setelah sampai di sana, tak lama keduanya pun mengikrarkan janji suci pernikahan. Darren menatapnya haru, tak sadar air matanya menetes saat itu juga.
Sayang! lihatlah aku menepati janjiku untuk menjaga putri kita dengan baik, aku juga menyerahkannya pada pria baik-baik. Lihatlah dia memakai gaun pernikahan itu, dia teramat cantik seperti dirimu, gumam Darren sambil menghapus sudut air matanya yang basah.
Seseorang menyodorkan sapu tangan di depannya, "kau membutuhkan ini,?"tanyanya.
Darren mengerutkan keningnya merasa tak asing dengan suara itu, ia menoleh ke sumber suara, "Jo-"pekiknya.
Jona terkekeh, "lama tak jumpa, kenapa kau semakin cengeng,"ejeknya.
"Ku pikir kau tak datang,"tanyanya.
"Aku pasti datang! Ini acara yang sangat penting bagimu,"
"Di mana istri dan putramu?"tanya Darren.
"Mereka ada, nanti aku akan membawanya bertemu denganmu,"sahutnya.
Darren mengangguk paham.
***
scrol lagi tap jangan lupa tekan jempolnya ya☺️
Tbc
__ADS_1