
Calista mengerjapkan kedua matanya, tangannya bergerak meraba sisi tempat tidurnya terasa kosong, sontak ia langsung mengubah posisi tempat duduknya. Mengucek kedua matanya, Calista mencoba menyusuri tiap sudut kamar, seperti tengah mencari seseorang.
"Dimana Mas Darren,"gumamnya.
Calista menyingkap selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya, perlahan ia menjuntaikan kakinya ke lantai, sembari memegang perutnya Calista berjalan dengan perlahan mencari suaminya.
Ia membuka pintu kamar mandi, namun ia tak menemukan suaminya di sana. Calista mendesah kecewa, biasanya setiap pagi hari Darren akan selalu menunggunya sampai dirinya membuka kedua matanya, tapi untuk hari ini tidak.
Tidak menyerah, Calista berfikir suaminya mungkin sedang di luar, ia pun melangkahkan kakinya ke luar kamar. Mendengar suara bising dari dapur, ia pun melangkahkan kakinya kesana.
"Mas.. Mas Darren,"panggilnya namun tak ada sahutan apapun.
"Nyonya sudah bangun?"tanya Bi Nah.
"ya Bi,"Calista menjawabnya dengan lemah, entah kenapa ia merasa kecewa lantaran tak mendapati suaminya di sana.
"Apa nyonya menginginkan sesuatu?"tanya Bi Nah.
Calista menggeleng, "apa bibi melihat Mas Darren?"tanya Calista balik.
"Tuan sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali nyonya, ia bilang pekerjaannya cukup banyak. Tuan tidak tega membangunkan nyonya yang masih tidur nyenyak,"tutur Bi Nah.
Calista tersenyum kecut, "ya sudah saya mau membersihkan diri, bibi tolong buatkan saya susu ya.."pintanya.
"Baik nyonya,"
__ADS_1
Calista kembali ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, baru saja membuka pintu ia mendengar ponselnya berdering. Tertera nama Darren yang meminta panggilan video call.
"Pagi sayang,"sapa Darren dengan senyum manisnya.
"Pagi,"Calista menjawab dengan wajah cemberut.
"Kok lemes gitu jawabnya, kenapa?"tanya Darren.
Calista mencebikan bibirnya kesal,"kenapa gak bangunin aku sih, main tinggal aja, gak pamit lagi."
Darren terkekeh, "gak tega aku, tidur kamu lelap begitu. Maaf ya?"ujar Darren lembut.
Calista menghela nafasnya, "aku ingin berkunjung ke cafe bolehkan mas?"ucap Calista.
Darren berfikir sejenak, "boleh,"
"Tapi.."
Kata tapi ini membuat Calista lemas, kenapa harus ada tapi.
"Kamu pergi bawa sopir dan pelayan ya?"sambungnya, membuat Calista langsung melemas.
"Mas aku kan..."
"Pakai sopir dan pelayan, atau tidak pergi sama sekali."tegasnya tak ingin di bantah. Calista mencebikan bibirnya.
__ADS_1
"Dengar sayang, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku ingin menjagamu, jadi ku mohon menurutlah,"ujar Darren dengan nada lembut dan memohon, Calista mengangguk. Usai itu, Darren berpamitan untuk kembali bekerja.
•
•
Dua hari lagi adalah hari ulang tahun Calista, Darren berniat untuk memberi kejutan untuk istri tercintanya. Ayah Aeron, Ibu Mona, dan Bibi Nancy terlihat antusias untuk membantu Darren dalam melaksanakan kejutan itu. Darren mempercayakan semuanya pada Bibinya.
Siang ini Aeron, Mona dan Bibi Nancy janjian untuk bertemu di sebuah cafe, yang tak jauh dari perusahaan milik Aeron. Akhir-akhir ini Bibi Nancy terlihat begitu gelisah, usai dirinya membawa putranya bertemu dengan Calista. Yang membuat ia terkejut Leno mengatakan pada dirinya, akan lebih lama tinggal di Indonesia. Bibi Nancy bukan orang yang buta dalam membaca gelagat putranya itu, sebelumnya Leno tidak pernah bersikap demikian, apalagi ketika melihat tatapan Leno pada Calista yang terlihat begitu memuja. Ya dia tau, Calista adalah wanita yang dicintai Leno sampai detik ini. Ia takut jika Leno akan bertindak nekat merebut Calista dari Darren, dan itu membuatnya tidak tenang.
Ya Tuhan, aku harus apa? Aku tidak ingin ada pertikaian antara kedua putraku, keduanya sama berarti untukku, gumamnya.
"Ada apa? Kau melamunkan sesuatu?"Mona menepuk pundak Nancy yang tengah terdiam melamun dengan gelisah.
Nancy menggelengkan kepalanya dengan gugup, "tidak ada apa-apa,"
"Kau yakin?"timpa Aeron ia menatap Nancy penuh selidik, Nancy hanya menganggukan kepalanya.
"Apa terjadi sesuatu dengan Calista? Apa Darren kembali melukainya?"Aeron kembali mencecar Nancy dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan putrinya, bagaimanapun perlakuan Darren dulu takkan mudah ia lupakan, luka itu masih membekas hingga kini.
•
•
Jangan lupa like, komentar, ya
__ADS_1
Tbc.