
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Leno duduk bersandar di ranjang sembari menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Krek, pintu kamar mandi terbuka. Dita keluar dengan pakain haramnya. Leno segera mengalihkan pandangannya menatap wanita yang belum genap dua puluh empat jam menjadi istrinya itu.
Dita yang melihat kemana arah pandang Leno segera tersadar ia menyilangkan tangannya di dada, menutupi kedua asetnya di balik gaun tipis yang membalut tubuhnya.
"Sayang, sini dong..."pinta Leno, ia menepuk sisi tempat tidur, mengisyaratkan sang istri untuk mendekat di sisinya.
Dita meringis, "aku malu.."lirihnya.
"Eh dosa lho nolak suami.."seru Leno. Bisa aja ni ngancamnya.
Menghela nafasnya, Dita pun mulai melangkah mendekat merangkak naik ke ranjang tepat di sisi sang suami, ia sedikit menjaga jarak, entah kenapa jantungnya berdegup kencang seakan ada sesuatu yang akan terjadi.
Ck, Leno berdecak, sebagai pria normal tentu saja melihat istrinya berpakaian yang seksi tentu saja jiwa kelelakiannya bangkit.
Sret.. Leno menarik tubuh istrinya, hingga kini Dita tepat menempel di tubuhnya.
"Eh.."Dita terlonjak.
"Takut ya...? Mukanya kok tegang..."tanya Leno sembari menatap wajah istrinya. Dita hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.
__ADS_1
"Rileks sayang, gak seseram yang kamu bayangkan kok.."ucap Leno yang kini wajahnya sudah tepat berhadapan di depan istrinya. Pandangannya tertuju pada bibir ranum istrinya yang terlihat menggoda.
Leno mencondongkan wajahnya bersiap untuk mema ngut bibir kenyal itu, "mas kita mau apa?"tanya Dita polos, membuat niat Leno terhenti.
"Main-main sayang.."jawab Jona.
"Main apa?"
Duh, dia sebenarnya emang gak tau apa pura-pura gak tau sih, pikir Leno.
"Main enak lah. Naik-naik puncak gunung, terus bercocok tanam.."
"T-tapi..."
Leno meletakkan jari telunjuknya di bibir ranum istrinya, mengisyaratkan istrinya untuk diam, "kau hanya perlu diam, ikuti saja permainanku.."seru Leno.
"I love you sayang.."
Pernyataan cinta yang mampu membuat wajah Dita merona, menghilangkan rasa gugup yang hinggap dalam dirinya.
Cup, kini Leno memberanikan diri mengecup bibir ranum istrinya. Berawal dari sebuah kecupan lama-lama menjadi ciuman dan lu matan yang kian menuntut lebih dalam, Leno memaksakan diri dengan sedikit menggi git bibir bawah istrinya agar terbuka, membuat lidahnya bebas dengan leluasa menjelajahi isi dari bibir yang menggoda itu.
Dita yang baru pertama kali merasakan hal itu, membuat aliran darahnya mendesir, ia mencoba mengikuti naluri dalam dirinya.
__ADS_1
Dita meremat kaos putih yang di kenakan suaminya, perlahan dengan pasti gadis yang baru menginjak usia dua puluh tiga tahun itu menikmati sensasi yang di ciptakan oleh kekasih halalnya kini. Sebuah sensasi yang tak akan ia dapatkan dari siapapun, kecuali Leno suami tercinta. Tangan Leno terus bergelya membelai punggung Dita dengan lembut di balik pakain tipisnya itu.
Merasa sang istri semakin menikmati sentuhannya, tentu Leno tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kedua tangan yang kini tepat merengkuh pinggang sang istri pun secara perlahan merebahkan tubuh Dita ke ranjang besar dan empuk, dengan balutan sprei putih tanpa noda.
Masih saling menyesap satu sama lain, dengan tangan Leno yang tak tinggal diam. Tiap inci tubuh Dita tak lepas dari sentuhan lembut Leno, tangannya terus merayap dan bergelya, tak hanya itu, sentuhan Leno semakin menggila dan nakal saat singgah di bukit kembar sang istri, tangannya yang sudah masuk ke dalam pakain istrinya mulai mere mas apa yang kini tengah ia genggam.
"Pelan-pelan..."pintanya, sesaat setelah pangutan bibir itu terlepas, Dita yang merasakan sang suami melakukannya dengan sedikit nakal pun mencoba menawar, mengingat ini merupakan baru pengalam pertama baginya.
"Sakit ya..?"tanyanya tersenyum gemas, Dita yang tengah di bawah kung kungannya hanya menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.
Leno menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, menikmati sensasi aroma menggoda, ia menyesapnya di sana secara lembut.
Puas bermain di ceruk leher sang istri, tangannya kini mulai menarik gaun tipis yang di kenakan istrinya.
Srett.. dengan satu tarikan gaun itu berhasil lolos alias robek, Leno terkekeh melihat pemandangan imut di depannya, dua bukit yang begitu menggemaskan baginya, yang akan selalu menjadi miliknya, ia merasakan akan sangat betah untuk bermain-main di sana, naik-naik ke puncak gunung.
Dita yang merasa malu kemana arah pandang sang suami mencoba menyilangkan tangannya di dada, pun dengan tubuhnya yang kini hanya tersisa kain segitiga berwarna merah itu, namun Leno segera menyingkirkan tangannya. Leno pun menarik kaos miliknya, lalu membuangnya secara asal.
Kini keduanya saling pandang,..
•••
Bentar ya iklan dulu mau beli es cendol..hahhaha hareudang oe..
__ADS_1
Gak nyangka aku, tumben otak kok lancar nulis begituan ya..hahha.
Tbc