
Keheningan tercipta, selama dalam perjalanan. Usai perdebatan itu, Leno membawa Dita masuk ke dalam mobilnya.
"Hei Tuan pebinor kau mau bawa aku kemana?"teriak Dita dalam mobil.
"Rumah sakit! kau bilang aku harus bertanggung jawab kan."jelas Leno.
What? Tentu saja Dita terkejut, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tidak ia tidak akan mau menginjakkan kakinya di rumah sakit. Bayangan sebuah suntikan akan menebus kulitnya membuat ia bergidik ngeri.
"Aku tidak mau. Berhenti! turunkan aku di sini saja,"teriaknya, ia menghentak-hentakkan kakinya. Entah kesalahan apa yang ia buat hingga harus bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan baginya.
"Berisik! Apa dalam mulutmu itu terdapat toa, suaramu benar-benar menggelenggar membuat telingaku sakit,"sarkas Leno kesal.
Bertemu Dita membuat ia bertambah sial, niatnya keluar untuk mencari ketenangan justru berujung pada kesialan. Jika tidak mengingat Dita seorang wanita tentu ia akan dengan senang hati meninggalkannya di jalanan tadi.
Leno tidak sekejam itu, sebrengsek apapun ia, tetap saja ia mempunyai hati nurani.
"Aku tidak mau ke rumah sakit,"lirihnya, usai itu di susul sebuah isakan kecil, membuat Leno terkejut. Leno pun menepikan mobilnya tepat di sebuah taman kota.
Ia menghela nafasnya sejenak, "lalu kau mau apa?"tanyanya geram, Dasar gadis pelayan sialan, merepotkan saja, gumamnya dalam hati.
"Antar aku pulang,"sahutnya.
Sambil menggeretakkan giginya, Leno melirik Dita kesal, "keluar.."titahnya.
"Tidak mau, kau harus antar aku pulang,"bantah Dita.
"Keluar, saya bilang keluar apa kamu tuli, hah.."Leno kembali menaikan volume suaranya membuat Dita tersentak, mengapa ia lupa sampai kapanpun Leno tetaplah seorang pria yang sombong.
Brakkk...
Dita keluar menutup pintu mobil itu dengan kencang.
"Dasar Tuan pebinor sombong, jika tau mau menurunkanku di tengah jalan ngapain nyeret aku masuk dalam mobilnya,"gerutunya.
Srettt..
Dita tersentak saat merasakan tangannya di tarik seseorang, lalu membawanya ke kursi yang berada dalam taman itu.
__ADS_1
"Ish kamu nga-"
"Diam dan duduk yang tenang, aku akan mengobati lukamu,"titah Leno sembari mengambil tangan Dita lalu mengobatinya, beruntunglah dalam mobil dirinya juga menyediakan kotak p3k.
Dita terdiam mengamati tiap inci wajah Leno dengan jarak yang dekat, wajahnya tampak memar, ujung bibirnya juga masih menyisakan noda darah yang kering. Ingin bertanya tapi apa urusannya.
"Sudah selesai, masuklah aku akan mengantarmu pulang,"titahnya datar.
Dita melihat sikunya yang tampak sudah di perban, "makasih, tapi motor saya,"
"Aku sudah menelpon pihak bengkel untuk memperbaiki motormu."sahutnya cepat Leno kini sudah berdiri.
Dita mengangguk tak sadar ia pun tersenyum tipis. Ternyata tuan pebinor ini tak sesombong yang ku kira.
"Sebelum pulang Tuan duduklah,"perintah Dita.
"Mau apa???"sentaknya, hem tak bisakah ia bertanya dengan lembut.
Srett, Dita menarik paksa Leno untuk duduk di kursi.
"Aku akan mengobati luka anda."seru Dita yang kini mulai membuka kotak p3k yang sempat Leno tutup.
"Anggap saja saya hanya seorang pelayan yang memang berkewajiban menolong majikannya. Tuan Darren adalah adik anda, dan saya pelayan di rumahnya. Biarkan saya mengobati luka anda."tutur Dita.
•••
Darren menuntun istrinya ke tempat tidur dengan hati-hati, sementara Calista masih merasakan pusing. Usai perkelahian itu Darren juga langsung membawa Calista pulang.
"Tidurlah sayang,"titahnya lembut usai membaringkan Calista di tempat tidur lalu menyelimutinya.
Darren berniat untuk meninggalkan Calista, jujur saja hatinya sedang tak baik-baik saja, mengingat betapa brutalnya ia memukuli kakak sepupunya itu. Dalam hati kecilnya ia pun mengkhawatirkannya. Selama ini Leno selalu mengalah untuk dirinya. Bahkan berkali-kali memukulnya tak sekalipub Leno membalas dirinya.
"Mas, jangan pergi. Temani aku tidur."pinta Calista yang membuat Darren mengurungkan niatnya.
Darren merangkak naik ke tempat tidur,"kenapa hem?"tanya Darren lembut sembari mengecup pipi istrinya.
Calista meringis memijat kepalanya, "pusing"lirihnya.
__ADS_1
"Besok kita ke dokter ya sayang ya? sekalian aku ingin lihat anak kita,"seru Darren.
"Tidak perlu,"sahut Calista cepat.
"Kenapa?"
"Aku hanya pusing biasa. Lagian baru kemarin kan aku periksa sama Mama Meysa,"ujar Calista.
Darren terdiam pikirannya berkelana entah kemana, dia merasa ada sesuatu yang Calista tutupi darinya, berkali-kali saat Darren mengajaknya untuk memeriksa kandungannya Calista selalu menolak.
"Peluk aku,"pintanya.
Darren tersenyum hangat lalu memeluk istrinya.
"Mas.."
"Hem.."
"Kalau aku gak ada kamu akan baik-baik saja kan mas,"tanya Calista membuat Darren tersentak, ia menatap istrinya dengan raut wahag yang tak dapat ia baca.
"Jangan bicara begitu. Kamu akan selalu ada bersamaku,"
"Ya kan kita tidak tau akan apa yang terjadi depannya mas,"
"Besok, lusa dan seterusnya, gak akan ada yang bisa misahin kita sayang. Kamu harus selalu ada untukku,"ucap Darren.
Calista tersenyum lalu mengecup pipi suaminya, ia semakin mempererat pelukannya, tak lama Darren mendengar bunyi nafas teratur, tanda istrinya sudah tidur.
Apa yang kamu sembunyikan dariku sayang?
••
Like
Komentar
Hadiah
__ADS_1
Tbc