Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Tak berguna


__ADS_3

Usai perkelahian Darren dan Leno. Nancy memilih pulang membawa Leno pergi dari sana. Randy pun meminta maaf akan kekacauan yang putranya lakukan. Aeron pun terlihat memakluminya. Setelah itu Randy berpamitan menyusul istri dan putranya.


Calista memeluk suaminya dengan erat, ia masih terlihat shock akan kejadian barusan, ia tak menyangka jika Leno mempunya perasaan lebih padanya, dan lebih parahnya ia mempunyai ambisi yang begitu tinggi.


Meysa dan Bram masih tak menyangka akan kejadian barusan, keduanya memang tak mengenal Leno dengan dekat.


"Maafkan aku ya sayang! kamu pasti sangat shock ya. Aku hanya tidak ingin masalah ingin semakin berlarut-larut, dan aku tak ingin kehilangan dirimu sayang,"seru Darren sembari mengurai pelukannya, dan menatap wajah istrinya.


Calista menganggukan kepalanya, "aku mengerti mas,"


Tiba-tiba ia merasakan sakit pada kepalanya, Calista kembali membenamkan wajahnya di dada suaminya, sambil meringis menahan sakit.


"Kamu kenapa sayang?"tanya Darren.


"Sebentar! biarkan seperti ini dulu mas. Aku masih shock,"dustanya. Ia sengaja membenamkan wajahnya di sana lantaran tak ingin suaminya melihat dirinya kesakitan.


"Calista, apa yang kamu rasakan nak,"Meysa tiba-tiba bertanya dengan raut wajah khawatir, tentu saja hal itu mengundang banyak tanya semuanya.


"Calista hanya masih shock ma,"timpal Darren.


"Benarkah? kamu tidak sakit kepalanya kan, karena-"


"Apa yang mas Darren bilang itu benar ma, aku hanya masih shock saja,"secepat mungkin Calista memotong ucapan Mama Meysa. Calista merasa belum siap memberi tahukan semuanya.


Mesya mendesah kecewa, sejujurnya ia ingin membuat Calista mengakui semuanya. Usai itu Darren kembali membawa Calista masuk ke dalam rumah.


••


Plakkkk,

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Leno dari Randy. Leno meringis saat merasakan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Kau benar-benar membuat papa malu. Papa kecewa padamu Leno. Calista itu istri adikmu, dan kau berniat merebutnya. Benar-benar gila, apa otakmu tak benar-benar sudah tak berfungsi baik Leno?"bentak Randy menatap tajam Leno yang kini tengah menunduk dan terdiam.


Leno hanya terdiam tanpa berniat menjawab ataupun menyela ucapan papanya, bukankah memang tidak ada yang perlu di jelakan. Papanya tak akan mungkin membela dirinya. Dia bukanlah seorang putra yang bisa di banggakan, Leno hanya seorang anak yang terus membangkang dirinya.


Nancy menatap suaminya dengan pandangan kecewa, kenapa Randy selalu menggunakan sebuah kekerasan? tak bisakah ia melihat luka dan wajah putranya yang memar, dan kini ia ia justru menambahnya kembali. Tidak bisakah semua di bicarakan dengan pikiran jernih. Seperti apapun Leno, dia tetap putra kandungnya.


"Jawab! kenapa kau hanya diam? apa kau tidak punya mulut untuk bicara,"bentak Randy dengan suara yang lantang menggema.


"Pa..."Nancy berusaha menenangkan suaminya.


"Biarkan saja ma. Anak ini memang harus di beri pelajaran,"ucap Randy.


Leno memberanikan diri menatap wajah papa kandung di hadapannya. Sejenak Leno tersenyum getir padanya, ia melirik sesaat ke arah mamanya yang saat ini tengah memegang kotak p3k, dapat ia lihat sorot mata mama kandungnya yang menatapnya dengan iba. Leno tersenyum manis padanya, seolah mengatakan 'aku baik-baik saja ma'.


"Benar, aku memang tidak berguna menjadi putramu pa. Maaf pa, ma..."ucap Leno.


"Aku baik-baik saja ma,"lirihnya, Leno tak akan sanggup melihat air mata mamanya, pria itu memilih beranjak meninggalkan semuanya.


"Leno mau kemana kamu,"bentakan Randy kembali menggema.


Leno tak peduli, saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Leno hanya butuh ketenangan, tak peduli kemana kini ia akan melangkah. Dengan wajah babak belur dan memar Leno memacukan mobilnya meninggalkan rumahnya.


••


Dita berjalan menyusuri jalanan dengan menggandeng motor scopy miliknya.


"Yaelah, apes banget sih aku. Sengaja minta ijin keluar berniat malam mingguan malah motor pakai mogok segala, gini amat nasib jomblo. Apa aku telpon kak Wildan aja ya?"gumamnya.

__ADS_1


Sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya, "tidak-tidak. Nanti dia akan mengeluarkan tanduknya."sambungnya.


Citttttttt brakkkkk..


Dita tersungkur saat sebuah mobil mewah menyerempet motornya.


"Aduh,"Dita meringis saat merasakan nyeri pada sikunya. Beruntung motornya tak menimpa dirinya. Dita berusaha bangkit berdiri, tak lama ia melihat sebuah mobil mundur menghampiri dirinya.


Seorang pria keluar dari mobil itu, berjalan menghampiri Dita.


"Sorry, apa kamu terluka."ucapnya


Dita yang merasa tak asing dengan suara itu mengangkat wajahnya, kemudian terkejut melihatnya.


"Kamu...."ucap keduanya.


••


Like


Komentar


Hadiahnya


Vote


Makasih


TBC.

__ADS_1


t


i


__ADS_2