
Brakkk.
Darren membuka daun pintu kamarnya dengan kencang, membuat Calista berjengkit kaget. Kedua tangannya mengepal dengan sempurna, perasaannya kian mengesal. Ingatannya kembali melayang akan pembicaraan bersama kakaknya saat tadi ia hendak mengantar mereka pulang.
Flashback on.
"Calista wanita yang cantik, baik, jangan lupakan hatinya yang selembut salju. Siapapun pria yang berada di dekatnya, pasti akan dengan mudah jatuh cinta padanya,"ucap Leno sambil mengingat kedekatannya dengan Calista dulu.
Darren mengepalkan tangannya, rasa tak terima mulai muncul dalam benaknya, tak ada siapapun yang boleh memuja istrinya, "termasuk dirimu, begitukan kak?"tanyanya dengan seringai tajam.
Leno melirik ke arah Darren yang tengah menatap dirinya dengan tajam, terlihat rahangnya kian mengeras, setelah mengangkat kedua alisnya Leno pun menganggukan kepalanya.
"Brengsek,"umpat Darren, ia langsung mencengkram erat krah baju kakaknya.
"Darren lepaskan tanganmu, aku belum selesai bicara,"ucap Leno dengan terbatuk-batuk saat cengkraman tangan Darren kian mengeras.
"Kau benar-benar brengsek kak, aku tau bagaimana dirimu. Tidak ada siapapun yang boleh merebut Calista dariku, meski itu dirimu,"sarkas Darren.
Uhuk.. uhuk... cengkraman Darren yang kian menguat membuat Leno terbatuk.
"Darren, Leno.. kalian,"teriakan Bibi Nancy yang baru tiba di ambang pintu membuat Darren segera melepaskan tangan cengkramannya. Leno terbatuk-batuk menetralkan perasaannya.
"Kalian ini kenapa harus berantem, ada apa?"sambung Bibi Nancy bingung.
__ADS_1
Darren keparat, sialan leherku sakit sekali.
"Bibi lebih baik, bibi bawa pulang saja putramu ini, jangan sampai dia benar-benar pembinor dalam rumah tanggaku,"sahut Darren yang membuat Leno dan Nancy bingung.
Flashback off.
"Ada apa sih mas?"tanya Calista bingung.
"Seberapa dekat dulu kamu dengan kakakku?" bukannya menjawab Darren justru balik bertanya, tanpa berani menatap istrinya.
Calista yang saat itu tengah berbaring pun mengubah posisinya menjadi duduk, "biasa aja, ya sebatas teman aja, kakak kamu itu kan dulu senior aku. Kamu ini kenapa sih aneh? datang-datang buka pintu kencang banget, aku kaget tau,"tutur Calista.
Darren mendengkus ia melirik istrinya menatap wajah cantiknya, "maaf ya, udah buat kamu kaget,"ucapnya ia membelai lembut perut istrinya, "maaf ya Daddy udah buat kamu kaget, lagi kesal banget aku tuh,"sambungnya.
"Kenapa?"
"Dia kakakmu, kok manggil Leno aja gak sopan,"tuturnya membuat Darren mencebik, "emangnya dia bilangs sendiri kaya gitu?"sambungnya.
"Enggak, pas aku tanya dia cuma mengangguk, ya udahlah langsung aku cekik dia,"ucapnya tanpa dosa, kini bibirnya sudah beralih mencium perut istrinya.
Calista menggelengkan kepalanya, ia memang tidak tau lantaran tubuhnya yang merasa lelah belum sempat Leno dan Bibi Nancy pulang Calista memilih tiduran di kamar, "harusnya kamu dengerin dulu penjelasannya, barangkali dia cuman bercanda,"
"Udahlah jangan bahas dia, enek aku,"jawabnya.
__ADS_1
Darren mengajaknya istrinya untuk berbaring, lantas ia mendekapnya memberinya kecupan-kecupan lembut di wajahnya, "sayang, kenapa tubuhmu semakin kurus, rambutmu juga sering rontok,"tanya Darren.
Calista terdiam, "masa sih? perasaan kamu aja kali mas. Aku biasa aja kok,"sahutnya.
"Calista kamu tidak menyembunyikan apapun dariku kan? Kamu beneran sehat kan?"tanya menatap istrinya dalam-dalam.
Calista tersenyum, "aku sehat mas, kamu kenapa sih?"
"Akhir-akhir ini aku suka bermimpi buruk,"tuturnya.
"Tentang Breana?"
Darren menggeleng, "bukan, tapi tentang dirimu. Aku melihat kau memakai pakain yang serba putih, wajahmu semakin bersinar cantik. Sementara dari jauh aku berjalan mendekat menggandeng seorang gadis kecil cantik, kami berdua memanggil-manggil dirimu, tapi kau tidak mendengar, kau justru berlari kian menjauhi kami,"ucapnya dengan mata berka-kaca.
Calista terhenyak, ia mengamati wajah suaminya yang berubah sendu dan matanya berkaca-kaca, "sayang itu hanya mimpi kan? bukan pertanda buruk. Kau benar sehat kan, kau akan selalu baik-baik saja kan, kau akan selalu bersamaku menemani aku hingga ujung suaiku kan?"cecar Darren.
Calista tersenyum getir, "iya mas itu hanya mimpi."
"Benar, itu pasti hanya mimpi. Kamu tidak akan mungkin meninggalkan aku sendiri. Aku takut sayang, aki tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan dirimu,"ucap Darren dengan setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Dia belum tau yang sebenarnya saja sudah terlihat hancur begini, bagaimana kalau dia tau kenyaataan tentang diriku, beri aku waktu mas, setidaknya sampai usia kandunganku tujuh bulan. Aku akan selalu mencintai dan menemanimu sampai mana Tuhan mengijinkan kita untuk bersama.
••
__ADS_1
Tombol like dan komentarnya ya guys.
Tbc