Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Aku hanya ingin Calista


__ADS_3

Usai semua fakta kebenaran itu terungkap polisi segera bergerak menangkap Caren, namun sayang Caren telah lebih dulu kabur entah kemana.


"Cepat cari perempuan keparat itu sampai ketemu..."tegas Aeron memberi perintah yang langsung di angguki oleh dua polisi.


Ia tidak akan pernah puas dan tenang sebelum Caren berhasil di tangkap. Ia juga memberi hukuman pada Darren dengan melarangnya menemui Calista maupun menghubunginya, pun demikian Aeron juga membuat perusahaan Wilson dalam masa sulit sebagai bentuk perhitungan. Menurutnya, apa yang ia lakukan bahkan tak sebanding dengan penderitaan putrinya selama ini, saat harus menghadapi sikap ketidakadilan dari semua orang yang menuduhnya sebagai tersangka.


Meysa kerap kali datang ke rumah Aeron meminta untuk bertemu Calista, namun berulang kali juga ia menolak dan mengusir wanita itu mentah-mentah.


Yang lebih membuat Aeron cemas kini kondisi Calista yang kesehatannya semakin menurun, semenjak hamil dirinya pun susah sekali menelan makanan. Pun dengan Mona yang telrihat cemas dan tak pernah terlihat tersenyum melihat keadaan putrinya yang begitu memprihatinkan. Lalu, setiap kali Aeron bertanya pada istrinya mengenai keadaanya ia hanya akan menjawab baik-baik saja.


"Kabari saya jika perempuan itu sudah di tangkap, kerahkan lebih banyak orang untuk mencarinya.."perintah Aeron.


"Baik Tuan..."


°°°


Setelah mengetahui kenyataan sebenarnya, Darren seolah menyiksa dirinya sendiri dengan beban perasaan bersalahnya pada Calista. Ia tau seberapa banyakpun ia meminta maaf pada istrinya itu tidak akan pernah ada artinya, kesalahan yang ia perbuat terlalu fatal.


Bibi Nancy melihat keadaan Darren dengan tatapan sedih, keadaan Darren sama seperti ketika ia harus kehilangan kedua orang taunya juga Breana. Darren bahkan tidak mau makan sedikitpun, pria itu terus terdiam dengan pikiran kosong.


Meski ia merasa kecewa pada keponakannya itu, tapi ia tidak sampai hati untuk membencinya. Sejak kecil Darren hanya mempunyai dirinya. Di usia dini seorang anak kecil yang seharusnya hidup dalam naungan kasih sayang ayah dan ibunya, tapi Darren tidak mendapatkan hal itu, kedua orang tuanya meninggalkan dirinya. Ia hidup dalam kesepian, lalu tiba-tiba datanglah Breana wanita, sosok wanita yang tulus, lemah lembut yang mampu membangkitkan semangat hidup Darren kembali, sayang takdir kembali merenggut kebahagiaan Darren, ia kembali kehilangan orang yang ia cintai dengan sebuah insiden yang tak terduga.


Kemudian tidak berselang lama ia kembali di pertemukan Calista, sosok yang baik tak jauh beda dengan Breana, namun karena dendam menjadikan ia lupa segalanya, bahwa benci dan cinta itu hanya berjarak tipis. Ia tidak menyadari bahwa perlahan dengan pasti sosok Calista telah mampu menggeser posisi Breana di hatinya, tapi berkali-kali pria itu mengelak.


Andai, ia mendengarkan nasehat Bram, jika pertemuannya dengan Calista bukanlah sosok kebetulan semata. Calista hadir sebagai jodoh sebenarnya untuk dirinya, sayangnya karena perbuatannya ia telah menyakiti hati istrinya. Dan kini ia hanya bisa meratapi penyesalannya.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini Darren..."ujar Bibi Nancy yang kini duduk di tepi ranjang Darren, ia menatap keponakannya itu dengan sendu.


Darren menggeleng, "Aku hanya ingin Calista, bibi.."perlahan cairan bening itu kembali menetes, pria itu kembali terisak hatinya teramat sakit, namun ia juga tau jika kini ia telah menuai karma akan apa yang ia perbuat.


Menghela nafasnya Bibi Nancy kembali berucap, "Kau pikir dengan kau terus seperti ini, Tuan Aeron akan tiba-tiba datang membawa Calista untukmu, Bibi jamin itu tidak akan mungkin.."


"Perusahaanmu bahkan di ambang kehancuran, lalu kau berdiam diri seperti ini. Bagaimana jika Calista kembali, akan kau kasih makan apa istri dan anakmu nanti.."sambungnya.

__ADS_1


"Bibi, bisakah kau membawaku untuk bertemu dengan Calista.."pintanya dengan wajah memohon.


"Darren, kau tau bukan bagaimana Ayah mertuamu, dia pasti tidak akan membiarkan dirimua bertemu Calista dengan mudah.."tuturnya.


Darren mendesah kecewa, wajahnya kembali menggelap menunjukkan betapa tersiksanya ia kini, "aku ingin sekali bertemu dengannya, aku merindukannya. Aku ingin melihatnya bibi, meski hanya sebentar. Aku sungguh menyesal bibi, bahkan sekalipun Calista membunuhku aku rela, asal ia mau memaafkanku...."seru Darren lirih.


Bibi Nancy menunduk menimang-nimang jawabannya, sedetik kemudian ia kembali menatap keponakannya, "Baiklah, bibi akan membawamu bertemu Calista. Ayo sekarang persiapkan dirimu..."ucapnya.


Wajah yang semula mendung kini terlihat bersinar bahagia, "Ayo bibi..."


"Kita di antar sopir aja ya. Bibi takut kenapa-napa kalau kau menyetir sendiri.."ucapnya, ia memberi pengertian pada keponakannya itu dengan lembut.


"Iya Bibi.."


Selama dalam perjalanan Darren hanya terdiam diri dengan pandangan kosong, pikirannya kembali berputar akan percakapan bersama Jona saat itu.


Breana meninggal bukan kecelakaan yang di sebabkan oleh Calista. Namun semua itu ada sesuatu yang memang telah di rancang oleh seseorang, dengan sengaja. Dia berniat mencelakai Breana sejak awal. Namun, aku belum mengetahui pelakunya, kasus ini teramat sulit untuk aku ungkap. Tapi aku yakin seseorang yang berniat mencelakai Breana adalah sosok terdekat kalian, dan lo baca map ini.


Darren membeliakkan matanya saat melihat bukti-bukti itu, memori otaknya langsung berputar bagaimana ia memperlakukan Calista selama ini.


"Kita sudah sampai, kamu dari tadi lumanin apa..?"ucap Bibi Nancy.


"Maaf bibi..."Darren memandang sekeliling nya dengan gelisah. Saat ini ia sudah pasrah akan apa yang terjadi.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja.."


Turun dari mobil, Bibi Nancy bergerak mendekat ke gerbang lalu meminta pak satpam membukakan pintu. Pak Satpam itu terlihat kaget dan membeliakan matanya.


"Bisakah, bukakan pintu..."pinta Bibi Nancy.


Satpam itu berfikir lalu mengambil telponnya untuk menelpon seseorang, tak lama ia mengangguk dan menutup telponnya.


Kemudian ia pun membukakan pintu gerbang, dan menyuruh keduanya untuk masuk.

__ADS_1


•••


"Calista ada Bi..."tanya Darren pada seorang asisten rumah tangga di sana. Pembantu itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Di ruang tamu, terlihat sudah ada Mona yang menunggu kedatangan mereka dengan senyum kakunya.


"Silahkan duduk.."ucapnya, Bibi Nancy bergerak memeluk Mona seakan mengerti keresahan nasib anaknya.


"Maafin keponakannku ya Mona.."ucap Bibi Nancy dengan terisak. Darren terdiam kaku, ia kembali menyalahkan dirinya semua terjadi karena perbuatan dirinya, saat ini semua ornag yang cintai bersedih.


"Bu, bisakah Darren menemui Calista..."pintanya setelah di rasa keadaan kembali tenang.


"Cepatlah temua dia, sebelum ayahnya pulang..."seru Mona tegas, segera Darren berdiri dan berjalan ke kamar Calista.


Membuka pintu, ia bergerak lemah. Tatapannya terlihat miris, kini ia melihat Calista sedang tergolek lemah dengan selang infus yang tertancap di pergelangan tangannya. Darren terisak lemah. Berjalan mendekat ia menunduk lalu mengenggam jemari lembut Calista dan membawanya ke bibirnya ia mengecup sekilas sambil terisak.


"Mas..."lirih Calista begitu ia membuka kedua matanya. Ia melihat suaminya tengah mengecup tangannya dengan air matanya yang mengalir.


"Maafkan aku sayang..."ucap Darren, kini ia mendudukan dirinya di sudut ranjang dan membawa Calista ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Calista terisak keras dalam pelukan suaminya, meski kecewa dan sakita hati, namun ia merasa nyaman bahkan rasa mual yang sejak kemarin hinggap saat berada dekat suaminya itu tidak lagi ia rasa, seolah lenyap begitu saja.


"Jangan menangis sayang, ku mohon. Aku minta maaf, sudah cukup air mata yang kau keluarkan karena pria brengsek seperti diriku..."ujar Darren lirih, Calista semakin mengeratkan pelukannya. Keduanya berpelukan cukup lama seolah sedang menyalurkan kerinduan yang telah lama mendamba. Melepas pelukannya, kedua tangan Darren kini membingkai wajah Calista dan menatapnnya lembut, tak lama ia mendaratakan kecupan singkat di dahi, hidung, pipi, dan bibir istrinya.


"Maaf..."lirihnya.


Pintu kamar terbuka Bibi Nancu datang di ambang pintu, "Darren ayo kita pulang.."


Darren menggeleng, "Tidak Bi, aku mau di sini saja. Aku mau rawat istriku. Aku gak mau kehilangan dia..."ucapnya.


"Berani sekali kamu datang kemari.."teriak Aeron dengan emosi yang menggebu-gebu. Hal itu sukses membuat Darren dan Bibi Nancy terdiam kaku.


•••


Jangan lupa komentar, like, hadiahnya

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2