Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Tolong bertahanlah


__ADS_3

...Bahwa balas dendam,...


...hanya akan menutup banyak pintu....


...Menghilangkan banyak kesempatan,...


...mengungkungnya pada satu tujuan,...


...yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan...


...KEPUASAN SEMU....


🌹🌹


Mobil terus melaju dengan kencang menuju rumah sakit, sepanjang jalan Calista terus terisak melihat keadaan suaminya yang sudah babak belur tak berdaya, pun tak sadarkan diri.


Bibi Nancy menatap keduanya dengan iba, melihat raut wajah Calista yang pucat, ia merasa tak tega. Sebelumnya, ia sudah menyuruh Calista untuk tetap tinggal di rumah saja mengingat keadaan Calista yang lemah, namun wanita itu bersikeras ikut.


"Mas bangun, ku mohon. Buka matamu, jangan seperti ini, anak kita masih membutuhkan dirimu mas..."isaknya, apapun caranya ia tidak rela jika suaminya sampai kenapa-napa. Calista tidak akan tenang, bagaimana anaknya harus lahir tanpa sosok ayah, andainya Tuhan juga tak memberi kesempatan ia untuk hidup kembali, Calista hanya meminta anaknya sehat dan Darren akan merawatnya, dia akan tumbuh dalam naungan kasih sayang ayahnya, sedari awal Calista juga tau Darren bukanlah tipe pria yang kejam saat itu ia hanya di butakan kesalahpahaman dan dendam, dia pasti mampu menjadi ayah yang baik untuk anaknya.


"Tenanglah Calista, Darren baik-baik saja. Dia hanya pingsan.."Bibi Nancy mengelus punggung Calista memberikannya pengertian, meskipun ia sendiri saat ini juga dalam kondisi terluka melihat keponakannya tak berdaya.


Calista menggelengkan kepalanya dengan kuat, sungguh hatinya merasa sangat sakit melihat keadaan suaminya kini. Perasaan kecewa itu sudah lenyap berganti dengan rasa takut. Rasa cinta telah mengalahkan segalanya.


Tolong bertahanlah, aku hanya ingin merasakan setitik bahagia dari cintamu, di ujung usiaku mas..lirihnya


Calista memeluk badan suaminya dengan erat, sambil terus terisak.


"Pak tolong di percepat mobilnya..."teriak Calista pada sopirnya, suaranya terdengar kencang sedikit serak, mungkin karena ia terlalu banyak menangis. Badannya tampak gemetar.


Setakut itukah ia kehilangan Darren ? bahkan mungkin jika aku yang menjadi Calista aku tidak akan mengampuninya, biarlah ia menderita. Bukankah harusnya melihat kondisi Darren seperti ini Calista bahagia, tapi saat ini yang ku lihat dia tampak hancur. Ya Tuhan... terbuat dari apa hatimu Calista ? Darren kau sangat beruntung mempunyai istri yang berhati tulus seperti dirinya, dan bodohnya kau telah menyakitinya..gumam Bibi Nancy menatap Calista sendu.


Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, Bibi Nancy segera keluar memanggil perawat untuk membantunya membawa Darren. Segera, para perawat mengambil brankar lalu membawa memindahkan Darren di sana, kemudian mereka membawanya masuk dengan cepat menuju ruang UGD.


Calista meremas tangannya takut, ia tidak dapat menyalahkan ayahnya, bagaimanapun ia tau apa yang di lakukan ayahnya memang wajar, ia terlalu kecewa pada Darren.

__ADS_1


Rasa kalut, cemas kini menjadi satu perlahan kepalanya berdenyut sangat sakit, Calista menahan tubuhnya dengan memegang erat pada sandaran kursi tunggu depan ruang UGD.


"Calista, wajahmu sangat pucat nak. Kamu pulang aja ya, biar bibi yang menunggu Darren.."ujar Bibi Nancy pada Calista ia merangkulnya memberikan usapan lembut.


Calista menggeleng, "Tidak Bibi, aku baik-baik saja. Aku hanya..."


Huek... huek..


Calista menutup mulutnya, rasa mual kini kembali menderanya, segera ia berlari ke toilet untuk memuntahkan isinya.


Bibi Nancy berlari menyusul Calista dengan cemas, ia ingin menghampiri Calista namun wanita itu menutup pintunya rapat-rapat.


Huek.. huek... Calista memuntah segala isi perutnya, ia tidak terkejut begitu mendapati darah pun ikut keluar dari mulutnya, hal ini sudah sering terjadi padanya. Namun anehnya begitu berada di dekat suaminya rasa mual itu tidak ia rasa, bahkan lenyap begitu saja.


Calista memegang perutnya yang masih tampak rata, "Aku hanya berharap Tuhan tetap memberikanku kesempatan sampai kamu lahir nak..."lirihnya denga air mata mengalir.


"Calista...."suara Bibi Nancy di balik menyadarkan dari lamunannya.


Calista segera mengguyur muntahannya, juga membasuh mukanya dengan air.


Ceklek...


"Enggak Bibi, aku mau tetap di sini. Aku ingin lihat keadaan Mas Darren,.."


"Baiklah kalau begitu kamu harus di infus kalau kau masih bersikeras di sini. Darren pasti juga akan sedih jika melihatmu begini, tubuhmu belum vit dan sangat lemah nak."tutur Bibi Nancy.


"Aku masih ingin tau keadaan mas Darren dulu Bi.."serunya lemah.


Bibi Nancy menghela nafasnya pasrah, ia mengijinkan Calista menunggu Darren namun setelah memastikan keadaan Darren baik-baik saja, ia akan menyuruh Calista untuk melakukam infus.


•••


Aeron masih memijat kepalanya yang terasa berdenyut akhir-akhir ini ia merasa banyak beban, pun gampang emosi.


"Ayah, apakah tidak sebaiknya kita susul mereka ke rumah sakit..."tanya Mona sambil meletakan secangkir kopi di meja suaminya.

__ADS_1


Aeron masih tak bergeming, ia khawatir jika melihat Darren saat ini ia akan lepas kendali, jujur saja perasaan marah itu masih melekat pada hatinya. Mona menatapnya dengan sendu, sebelum kemudian ia akan kembali berbicara.


"Ibu tidak akan memaksa ayah untuk kesana, tapi ijinkan ibu untuk kesana ya. Ibu merasa khawatir, Ayah tau kan kondisi Calista saat ini benar-benar lemah.."tuturnya lembut, ia berharap suaminya tetap mengerti dirinya.


Aeron mendongakan wajahnya menatap wajah istrinya yang tampak sendu, Aeron tau semua ini juga berat untuk dirinya, "Pergilah.."ucapnya singkat.


Mona hanya tersenyum tipis sebelum kemudian ia berpamitan pergi.


•••


Dokter yang memeriksa Darren melihat wajah babak belurnya dengan tatapan ngeri. Entah apa yang terjadi hingga pria itu mengalami hal yang mengenaskan begitu. Merasa sudah selesai ia pun membuka pintu ruang UGD, begitu pintu di buka terlihat di sana Calista dan Bibi Nancy bergerak mendekat.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya.."tanya Calista.


"Tenanglah Nona, dia baik-baik saja. Hanya mengalami luka luar, dia pingsan karena merasa kelelahan juga. Saya pikir akhir-akhir ini ia mengalami stress jadi kemungkinan ia tidak makan dengan baik, saya sudah menyuntikan vitamin juga memberinya infus. Setelah ini perawat akan memindahkan ia ke ruang perawatan, kalian bisa menemuinya di sana nanti.."tuturnya.


Calista menarik nafas lega, ia mengelus lembut perutnya.


•••


Di tempat lain Caren memasang wajah smirknya, setelah ia mendapatkan laporan dari seseorang.


"Neraka sedang menunggumu Calista.."ucapnya.


Segera ia bersiap-siap mengganti pakaiannya, sebisa mungkin ia mengubah penampilan dirinya agar tak di kenali seseorang ataupun polisi.


"Bahkan bila perlu aku juga akan melenyapkan dirimu dan suamimu Calista, kalian benar-benar tidak berguna, kalian hanyalah sampah yang membuatku muak.."ucapnya.


Kini ia kembali teringat kedua orang angkatnya, ia yakin saat ini mereka pun sangat membenci dirinya. Tapi Caren tidak peduli, yang penting ia puas dan senang.


•••


Bosen gak nunggunya ? hihi


Maaf ya kesibukan dunia nyata kadang emang menyita waktu, ara nulisnya juga nyicil-nyicil tapi sekali up panjang kok 1000 kata😊, jangan bosen ya.

__ADS_1


Yuk tekan like, komentar, hadiahnya


Tbc.


__ADS_2