
πΊπΊπΊπΊπΊ
Prull.. uhuk . uhuk...
Melihat penampilan Dita di depannya membuat pria itu terbatuk-batuk saat sedang meminum minumannya.
"Kamu.."
Keduanya sama-sama terkejut, di susul dengan tawa yang menggelegar dari seluruh penjuru ruangan itu.
"Kamu mau jadi ondel-ondel Dit.."ejek Wildan.
Dita merenggut kesal, menatap tajam sang kakak sepupunya itu, Widya menggaruk lehernya yang tak gatal, Ayah Dita hanya menggelengkan kepalanya.
Jika saja dandanan Dita saat ini natural pasti akan terlihat merona wajahnya karena malu. Dita memutar tubuhnya, bersiap untuk lari dan pergi dari sana.
Bruk..brak..
"Aduh.."ringisnya kala ia terjatuh menabrak sebuah meja hias di depannya.
Pria itu tersenyum tipis, ia meletakkan secangkir teh nya di atas meja, kemudian meneggakkan tubuhnya, berjalan menghampiri Dita.
__ADS_1
Ia mengulurkan tangannya berniat membantu Dita untuk berdiri, "hallo calon istri.."ucap tanpa dosa.
Dita melengos meski dalam hati terasa senang, "Calon istri...?
"Iya dong, aku datang untuk melamar kamu. Gimana terkejut gak..?"tanyanya.
Dita mencebikkan bibirnya kesal, ia berniat berdiri menatap pria di depannya itu sinis, "ini lagi wajah di kasih apaan? tebal banget, bibirnya juga merah amat? mau kondangan, terus ini juga rambut di apain? astaga! Dita.."
"Aku mau jadi biduan nanti,.."jawabnya.
"Leno, Dita sini ih ngapain malah berduaan gitu.."teriak Nancy memanggil keduanya.
"Kamu hutang penjelasan sama aku, Tuan Pembinor.."serunya.
β’
β’
β’
Calista tengah duduk di ruang tamu menunggu suaminya pulang.
__ADS_1
"Kok belum tidur, gak baik lho tidur malam-malam.."tegur Mona pada putrinya.
"Aku gak tenang kalau mau tidur, sebelum mas Darren ada di dekat aku Bu.."sahutnya.
Mona menghela nafasnya, tampaknya kehadiran Darren memang sangat berarti untuk putrinya, Calista berkali-kali menatap pintu masuk berharap suaminya itu akan muncul, "Senja udah tidur ya Bu..."tanya Calista.
"Udah, dia pintar banget ya enggak rewel.."kata Mona sembari mendudukan dirinya di sebelah putrinya, ia membelai lembut punggung putrinya yang tampak ringkih, Calista jauh lebih kurus dari sebelumnya, ada rasa sesak yang hinggap dalam hatinya. Matanya tampak berkaca-kaca ingin sekali rasanya ia menangis, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia harus kuat demi putrinya.
"Iya, Senja memang anak yang baik Bu, pengertian banget, ia gak jarang nyusahin aku selama di kandungan, bahkan sampai ia sudah hadir di dunia ini, dia jarang rewel, dia tau kalau Mommy-nya emang gak sehat.."ujar Calista dengan nada bergetar.
Mona menggenggam tangan putrinya, "enggak sayang, kamu pasti bisa lewati semua ini. Ingat banyak yang sayang sama kamu,.."ucapnya sementara satu tangannya menggenggam tangan putrinya, satunya lagi ia gunakan untuk menyibak rambut putrinya.
Calista menghambur memeluk Ibunya, "kadang aku merasa lelah Bu dan ingin menyerah, aku merasa bosan meminum obat-obatan itu, belum lagi aku harus menjalani kemo hampir setiap hari. Tapi aku ngerasa belum ada perubahan apa-apa? Aku tau Bu diam-diam mas Darren sering menangis sendiri, melihat kondisiku ini.."Calista terus mencurahkan isi hatinya.
Tak sadar air mata Mona menetes saat itu juga, "jangan nyerah sayang. Kamu pasti bisa? Putri Mama itu anak yang kuat.."lirihnya sembari mengusap air matanya.
Calista mengurai pelukannya, lalu menatap wajah ibunya, tangannya terangkat untuk menghapus air matanya, "maaf membuat Ibu sedih.."
Mona menggeleng, "kamu segalanya buat ibu sayang, andaikan rasa sakitmu bisa di bagi, ibu mau menerimanya.."
"Enggak, ibu itu harus tetap sehat, selalu sehat ibu haru liat cucu ibu itu tumbuh besar..."serunya.
__ADS_1
β’β’β’
Tbc