
Sore ini setelah administrasi pembayaran rumah sakit selesai, Darren mengajak Calista pulang ke rumah mereka. Meski sempat terjadi adu mulut antara Aeron dan Darren, pada akhirnya tetap Darren yang menjadi pemenangnya, tentu saja itu juga atas permintaan Calista.
Sepanjang jalan Darren tersenyum bahagia, sembari tangannya menggengam erat tangan mungil istrinya, di kursi depan tampak Wildan tengah menyetir melajukan mobilnya menuju kediaman Darren.
Darren tersenyum gila membayangkan perdebatan dengan ayah mertuanya tadi.
Flashback on
"Calista, sebaiknya kau pulang saja ke rumah ayah nak.."pinta Aeron sembari melirik tajam ke arah Darren.
Darren terhenyak, "tidak bisa dong ayah, Calista istriku dan aku suaminya, jadi biarkan dia pulang bersamaku.."kekeh Darren.
Aeron mencibir, "sekarang baru mengaku suami, kemarin-kemarin kemana..."semprotnya membuat Darren tergelak.
"khilaf.."lirih Darren, ia menatap istrinya dengan sendu, ucapan ayah mertuanya merupakan tamparan yang telak, tak salah semua itu memeang benar adanya.
"Ayah, sudahlah jangan berdebat. Biarkan aku pulang bersama Mas Darren, lihatlah wajah suamiku bahkan belum sepenuhnya pulih, sebagai seorang istri aku harus merawatnya kan.."tutur Calista.
Suamiku, entah kenapa saat bibir mungil istriku mengucapkan kata itu terdengar begitu manis di telinga Darren, hatinya seakan membuncah bahagia.
Usai membuat wajah dan tubuh menantunya babak belur itu, Aeron memang tidak pernah lagi memberi pelajaran pada menantunya itu, tapi bukan berarti ia bisa memaafkan kesalahan Darren begitu saja. Semua ia lakukan demi Calista, putri tunggal yang sangat ia cintai, bahkan sekalipun dirinya harus mengorbankan nyawanya Aeron rela, lalu bilamana Darren adalah sosok pria yang dapat membuatnya bahagia, Aeron pun akan berbesar hati merelakan Calista kembali pada pria itu.
"Ayah..."lirih Calista menatap ayahnya penuh permohonan.
Mona mengelus lengan suaminya sembari menganggukan kepalanya, "baiklah, kau boleh pulang bersamanya..."serunya.
Darren menghela nafas lega, sementara Calsita menghambur memeluk ayahnya, "terimakasih ayah, kau memang terbaik.."ucapnya.
Aeron membalas pelukan putrinya, sementara matanya tetap menatap tajam Darren, "tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa ayah..?"tanya Darren.
"Jika suamimu itu kembali melakukan kesalahan dan membuatmu menangis, Ayah tidak akan biarkan dia hidup, akan Ayah penggal kepalanya.."ancamnya, membuat Darren bergidik ngeri, ia menelan salivanya dengan susah.
"Aku janji tidak akan kembali mengulangi kesalahan itu lagi ayah.."balasnya mantap.
"Baguslah, pria sejati itu harus menepati janjinya. Awas saja jika kau ingkar,.."
Flashback off
Calista menatap heran pada mimik wajah suaminya yang berubah-ubah, terkadang ia akan tersenyum sendiri, tak jarang ia akna bergidik takut.
"Apa yang kau fikirkan mas...?"tanya Calista heran.
Darren melirik ke arah Calista, lalu menggelengkan kepalanya, membuat Calista membuang pandangannya ke arah jendela, menatap lalu lalang kendaraan, sesaat kemudian ia terhenyak begitu menyadari kemana arah mobil yang kini ia tumpangi.
"Mas, ini bukan jalan menuju rumah kita kan..?"tanya Calista, ia sibuk menengok kanan dan kiri, sekali lagi memastikan bahwa dugaannya itu tidak salah.
"Tapi..."
Darren membawa Calista ke dalam dekapannya, "duduklah yang tenang sayang, kita tidak mungkin salah jalan.."
Perlahan tangannya membelai lembut semurai indah milik istrinya, "Sayang, kenapa rambutmu begitu tipis,..?"tanya Darren.
Deg...
Calista terhenyak lidahnya kelu, otaknya berputar untuk mencari alasan yang akan ia berikan pada suaminya, "ini kan memang...."
Dahi Darren mengernyit, ia menatap istrinya penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Dokter mengatakan hormon kehamilan dapat membuat rambut seorang ibu rontok..."jawab Calista, saat ini hanya kata itu yang terlintas di otak Calista, ia berharap suaminya itu percaya.
"Benarkah..?"desak Darren.
Calista mengangguk, "iya mas, apa kau tidak percaya padaku..?"
"Percaya, aku hanya takut kau mengidap penyakit yang berbahaya, aku tidak kehilangan dirimu.."ujar Darren sendu.
"Mana mungkin terjadi, aku sehat mas sangat sehat malah. Bukankah kau tau, bahkan si baby sangat tenang dalam perutku, bila dekat denganmu aku tidak mual lagi.."tutur Calista.
Darren tersenyum, ia mengulurkan tangannya membelai lembut perut istrinya yang tampak sedikit membuncit.
Maafin aku mas...gumam Calista, wanita itu membuang pandangannya ke jendela, sekuat tenaga ia menahan air matanya jatuh saat itu juga.
•••
Maaf ya gak pernah up? kemarin ponsel eror, tubuh juga ikutan eror jadi harus bedrest.
Ada yang punya aplikasi kuning gak ? mampir di ceritaku ya kalau mau, hihihi nanti aku publish mulai tgl 1. Tampilannya seperti ini ya
Novel itu menceritakan tentang poligami, hihi. Nama penaku Arsyla Azzahra di sana ya.. Aku hanya ingin mencoba platform baru guys.
Follow fb ku ya guys.
Fb : Ara
Makasih
__ADS_1
Tbc