
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Selamat membaca
β’β’β’β’
Bugh..
"Ops sorry..."ucap Jona kala tubuhnya menabrak seorang di depannya.
"Tidak masalah Tuan.."
"Wildan, Darren nya ada....?"tanya Jona pada Wildan.
"Ada..."
Tanpa berucap lagi Jona meneruskan langkahnya menuju ruangan Darren, Wildan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabat atasannya itu penampilannya kini tampak berantakan.
β’
β’
β’
Brak.. pintu ruangan Darren terbuka dengan dorongan yang kencang.
"Setan! ngagetin gue aja Lo nyet..."umpat Darren kala melihat Jona lah yang masuk membuat dirinya kaget.
Tak membalas umpatan sahabatnya itu Jona melenggang masuk begitu saja mendudukan dirinya di sofa panjang yang ada di ruangan sahabatnya itu.
Darren mengerutkan keningnya, meletakkan bolpoint yang di tangannya lalu membereskan dokumen-dokumen yang berada di atas meja. Kemudian, ia menghela nafasnya saat melihat raut wajah sahabatnya itu yang terlihat sedang begitu banyak beban.
Darren menegakkan tubuhnya melangkah mendekati Jona.
"Kenapa? ada masalah..?"tanyanya.
__ADS_1
Jona yang semula memejamkan matanya kini kembali membuka matanya melirik ke arah Darren, tak lama ia meringsek memeluk sahabatnya itu, membuat Darren bergidik ngeri lalu mendorongnya secara kuat.
"Jijik gue Lo peluk-peluk gini. Gue masih normal gak butuh pisang Lo..."kata Darren.
"Lo kira gue mau apa sama Lo,.."bantah Jona sambil membenarkan posisinya menjadi lebih nyaman.
Darren terkekeh, "gue lagi pusing, butuh sandaran.."
"Makanya nikah.."sahut Darren.
"Nanti, bulan depan.."sahutnya.
"Apa???"pekik Darren, Jona mengangguk lemah.
"Cepat amat, kelihatan banget kamu gak sabar mau bercocok tanam ya.."ejek Darren.
"Setan! otak Lo benar-benar kalau udah menyangkut gue pikirannya mesum mulu ya..."decak Jona kesal.
Darren terkekeh, "eh tapi emang gimana calon istri Lo, cantik kan? cantik pastilah gue yakin kok pilihan om Julian gak bakalan salah.."
"Serius..?"
"Emang tadi gue ngomong apa?"tanya Jona.
"Lo bilang dia cantik.."
"Seriusan? enggak lah dia biasa aja gak cantik.."bantahnya.
Darren jadi bingung yang jujur yang mana coba, sedangkan Jona kembali teringat pertemuannya semalam, gak ada acara tawar menawar kedua orang tuanya telah menetapkan tanggal pernikahannya.
"Tapi serius Lo mau nikah bulan depan..?"
"Heem, tapi.." Jona kembali berfikir.
"Apa lagi? baguslah gue seneng dengarnya.."
__ADS_1
"Gue pengen kabur aja, enggak mau nikah ama dia..?"
"Alasannya? jangan katakan Lo gak mencintainya, itu basi karena gue tau banget Lo. Sebelumnya Lo bahkan meniduri wanita tanpa embel-embel cinta..."
"Lo tau gak sih wanita itu, kenapa gue gak pengen gitu nikah sama dia.."ucap Jona.
Darren menggeleng.
"Gue udah sering ketemu dia berantem mulu, kesel rasanya, sikapnya itu gak ada manis-manisnya, bilangnya pegawai bank, tapi galaknya minta ampun.."ujar Jona.
"Wah hebat tuh cewek, jarang-jarang ada wanita bersikap gitu sama kamu. Udah terima aja jalani.."saran Darren.
"Ya udah gue mau cabut dulu.."Darren bangkit dari tempat duduknya.
"Kemana?"tanya Jona
"Mau jemput Calista di rumah sakit, hari ini gue gak bisa nemenin dia kemoterapi, jadi sama Bibi Nancy deh.."
Jona mengangguk mengikuti langkah sahabatnya itu keluar.
β’
β’
β’
"Sudah nunggu lama sayang..?"tanya Darren usai dirinya sampai di rumah sakit, terlihat di sana Calista bersama bibi Nancy.
Calista menggeleng, "baru lima belas menit Darren.."jawab Bibi Nancy.
"Maaf ya, menunggu lama. Tadi ada ngobrol dulu sama Jona.."Jelasnya Calista mengangguk.
β’β’β’
Tbc
__ADS_1