
Darren mencondongkan wajahnya pada istrinya, jarak yang kian menipis membuat hembusan nafas keduanya saling beradu. Aroma maskulin menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Calista, membuat kulitnya meremang.
Calista yang mengerti akan kode suaminya, memejamkan matanya, bersiap menerima ciuman yang sebenarnya. Kini, saat bibir keduanya bersiap untuk saling menempel.
"Tuan, Nyonya!"
Sebuah panggilan membuat Calista terkejut, sontak ia mendorong tubuh suaminya hingga Darren terjerembab jatuh.
Bugh, "aww, yank kenapa sih pakai dorong mas segala,"cetusnya kesal.
"Maaf mas, itu ada Dita,"seru Calista menunjuk Dita yang kini tengah berdiri menatap keduanya dengan perasaan malu bercampur bersalah. Bergegas Darren bangkit sembari menatap tajam Dita.
"Ck, mengganggu saja. Dita sialan!"umpatnya, membuat Dita menunduk.
"His ngomongnya,"seru Calista. Darren menghela nafasnya kembali berusaha mengendalikan emosinya saat itu juga.
"Ada apa Dita??"tanyanya datar dan tajam, Calista mengelus lengan suaminya, "ih tanyanya yang lembut mas, kamu gak lihat dia ketakutan liat kamu begitu,"seru Calista.
Ck, Darren hanya berdecak selembut apa dan bagaimana? Calista tau jelas sifat dirinya itu seperti apa. Lembut seperti apa? sifat lembutnya hanya akan ia berikan pada istrinya.
"Maaf Tuan, Nyonya mengganggu. Itu di depan ada kurir yang mengantar bunga,"tutur Dita.
Bunga? Calista menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Itu bunga dariku mungkin yank, coba kau ambil gih,"titahnya. Darren ingat pagi tadi ia memang memesan bunga untuk istrinya, kata Jona biar romantis.
Calista mengangguk lalu ia berpamitan untuk keluar mengambil bunga. Ia berjalan melewati Dita.
Sampai di depan bergegas ia mengambil bunga itu dari kurir.
"Makasih ya Pak,"kata Calista.
"Sama-sama Nyonya,"
Usai itu, Calista kembali masuk ke dalam rumah di depan pintu ia berhenti sejenak, dengan senyum cerah ia mengambil kartu ucapan yang terselip dalam buket bunga itu. Wajah yang semula bersinar cerah, kini mendadak menjadi gelap saat membaca rangkaian kata yang tersusun rapi dalam kartu itu.
"Gimana sayang, kamu suka kan?"tanya Darren yang baru muncul di depan istrinya. Calista menatap suaminya dengan pandangan yang memucat.
Kening Darren mengkerut, otaknya di penuhi tanda tanya, saat melihat wajah istrinya ia yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Sret, Darren mengambil alih buket bunga itu tak lupa merampas kartu ucapan yang masih dipegang Calista.
__ADS_1
Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik.
Selamat pagi Calista.
Leno
Begitulah kata yang tersemat di sana, membuat emosi Darren kian mendidih, ia mengepalkan tangannya kuat, meremas kartu ucapan itu, tak lupa membanting buket bunga itu.
"Brengsekk,"umpatnya dengan lantang dan keras. Melihat amarah suaminya, Calista beringsut takut.
"Dia terang-terangan ingin menusukku dari belakang,"sambungnya dengan pancaran wajah memerah.
"Mas jangan marah aku tidak,"kata Calista tersendat-sendat.
Sejenak Darren kembali menguasai dirinya, kini ia sadar bahwa istrinya tengah takut melihat kemarahan dirinya.
Darren mendekat dan membawa Calista ke dalam dekapannya, "maaf. Maaf membuatmu takut, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya-"Darren tak kuasa melanjutkan ucapannya.
Calista terisak dalam dekapan suaminya, melihat amarah suaminya membuat ia kembali mengingat lukanya, ketika bagaimana dulu Darren membentak dan bersikap kasar padanya, ia takut jika suaminya tak percaya padanya.
Sejenak Darren terdiam ia menyesal, ia membelai lembut punggung istrinya.
"Maaf mas, aku beneran tidak tau jika kakakmu itu-"
"Aku percaya padamu sayang,"tutur Darren membuat Calista merasa lega.
Melonggarkan pelukannya Darren menatap wajah istrinya, perlahan tangannya menghapus air mata istrinya. Ia lupa, kini istrinya tengah hamil muda hormon hamilnya terlalu sensitif.
His, ini semua karena Leno, gara-gara ia dirinya terpancing emosi dan membuat istrinya menangis.
Kau telah membuat istriku menangis karena takut, awas saja kak akan ku beri pelajaran padamu? Sekalipun kau kakakku, aku tidak akan melepaskan dia untukmu. gumam Darren.
Usai kedua menetralkan emosinya, bell pintu rumah kembali berbunyi, seorang pelayan datang membawakan sebuket bunga. Kali ini benar dari suaminya.
"Makasih ya mas?"ucap Calista.
"Suka?"tanyanya lembut, Calista mengangguk senang.
Darren menyelipkan rambut Calista yang tampak menutupi wajahnya, "kalau begitu aku akan mengirimkan bunga untukmu setiap pagi,"sambungnya.
"Benarkah?"Calista menatap suaminya antusias, Darren menangguk.
__ADS_1
Cup, Calista mengecup lembut pipi suaminya membuat Darren terdiam mematung wajahnya bersemu layaknya seorang abg yang baru jatuh cinta. Calista berjalan menjauh meninggalkan suaminya seorang diri.
Ini bukan hal biasa bagi Darren, tapi luar biasa. Calista mencium dirinya lebih dulu atas kemauannya sendiri bahkan di situ masih ada beberapa pelayan yang sedang bekerja membersihkan rumahnya.
"Astaga! jantungku mau lepas rasanya,"ucapnya ia memegang dadanya berdetak lebih kencang.
Sesaat kemudian ia menyadari istrinya telah berlalu pergi, kini pikirannya kembali menerawang bagaimana ia akan bersikap pada kakak sepupunya? haruskah dengan kekerasan atau bicara baik-baik.
Baik-baik, Darren tak yakin ia bisa bersikap demikian mengingat sifat dirinya yang sedikit tempramen. Mengingat namanya saja emosinya kini meluap.
Darren memilih menyusul istrinya ke kamar, ia berniat untuk berpamitan kerja.
"Jaga diri ya? hari ini cukup di rumah saja,"titahnya pada istrinya yang tengah memakaikan dasinya.
"Iya mas,"
"Minta pada Dita jika kau memerlukan sesuatu, ingat kau hanya boleh istirahat, jangan melakukan macam-macam."
"Iya-iya, kamu kenapa sih bawel banget,"
Darren terkekeh, "jarang lho aku bicara panjang lebar begini, cuman sama kamu."
"Tau aku, udah sana pergi."
"Cium dulu"Darren menunjuk bibirnya.
Cup, Calista mengecup bibir suaminya namun Darren menahan tengkuknya, ia memperdalam ciumannya, hingga keduanya saling *******, aliran darahnya kian mendesir. Bergegas ia melepaskan pangutan bibirnya sebelum ia lepas kendali.
Shittt...
"Aku berangkat dulu sayang,"pamitnya ia mengecup kening istrinya.
••
Like
Komentar
Hadiahnya
Tbc
__ADS_1