Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
SENJA


__ADS_3

Dengan tubuh yang lemah Calista menatap wajah suaminya yang kini berada di dekatnya, ia mengangkat tangannya membelai wajah suaminya, "K-kamu menangis..."tanyanya lembut.


Darren menggeleng, "A-aku hanya.."


Merasa bahwa keduanya butuh privasi, semua yang berada di sana pun memilih untuk segera keluar dari ruangan itu.


"Aku takut sayang.."ucap Darren.


"Kenapa? aku masih di sini.."sahut Calista. Darren terdiam mengangguk.


"Aku tak kan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini mas.."sambungnya. Calista melepaskan tautan tangannya, lalu membelai perutnya yang kini tampak rata, terasa sedikit nyeri di sana.


"Mas, bayiku di mana?"tanya Calista dengan terkejut, sejak tadi ia tidak memperhatikan perutnya.


"Sayang tenanglah.."Darren berusaha menenangkan istrinya.


"Apa yang tenang mas? kamu membunuh bayiku mas, di mana dia, katakan..? kenapa kau mengambilnya?"cecar Calista dengan amarah serta tangisan yang menggebu-gebu. Wanita itu berusaha mendudukan dirinya.


"Di ada sayang! dia masih ada, tenanglah.."tutur Darren ia berusaha menenangkan istrinya.


"Di mana? katakan cepat...?"pinta Calista, ia menaikkan suaranya. Bayangan sebuah kehilangan terlintas dalam benaknya, sungguh tak kan sanggup jika harus kehilangan putrinya, selama ini ia berusaha mati-matian menjaganya.


"Dia ada ruang inkubator sayang, dia lahir prematur jadi harus mendapatkan perawatan intensif.."kata Darren, sambil memeluk erat istrinya.


Inkubator? Calista berusaha mencerna penjelasan suaminya.

__ADS_1


"Jadi, putriku tidak sehat?"ucap Calista menatap suaminya.


"Awww sakit...." jerit Calista menjerit kesakitan lantaran kepalanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit.


"Sayang..."Darren panik, dengan cepat ia memanggil dokter.


Teriakan Darren tentu saja mengejutkan semuanya. Darren di minta keluar oleh Dokter, lalu mereka memeriksa Calista.


"Saya sudah memberikan obat pada istri anda, saat ini ia sedang kembali tidur. Di mohon jangan membuatnya stress.."ucap Dokter.


•••


Darren menatap sendu bayi mungil yang berada dalam sebuah kotak transparan itu, dari balik kaca ia terus melihatnya. Ada rasa haru saat ia melihatnya, putrinya begitu mirip wajahnya dengan Calista, istrinya.


"Darren kau di sini...?"Aeron menghampiri membantunya.


Darren hanya mengangguk dengan mata yang terus menatap ke arah putranya itu, Aeron melihat ada sebuah cinta yang begitu besar dari Darren untuk Calista juga cucunya itu, betapa pria itu sangat bersyukur kini.


"Setelah ini apa rencana mu, mengenai penyakit Calista...?"tanya Aeron, meski ialah ayah kandung Calista, namun Aeron tetap harus menghargai Darren yang notabennya sebagai seorang suami bagi putrinya.


"Mengobatinya.."sahut Darren.


Aeron mengangguk, "ayah setuju apapun keputusanmu. Dokter bilang penyakit Calista itu sudah-"


"Tidak ayah, aku yakin istriku pasti sembuh..."sela Darren, sebelum ayah mertuanya itu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Aeron menunduk, semoga ya, ayahpun berharap hal yang sama Darren, gumamnya.


"Bila perlu aku akan mencari dokter terbaik di muka bumi ini, demi istriku ayah.."seru Darren.


"Ayah akan membantumu..."sahut Aeron, kini matanya beralih menatap cucunya yang terbaring di sana.


"Dia begitu mirip dengan Calista.."ucap Aeron mengalihkan ucapannya, Darren hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


"Kau beri nama siapa Darren..."sambungnya, Aeron kembali bertanya perihal nama sang cucu.


"Senja Nora Wilson.."sahut Darren, ada senyum mengembang saat ia mengucapkan kata itu.


"Senja? kenapa kau memberinya nama itu..?"tanya Aeron.


"Ayah tidak setuju...?"tanya Darren.


Aeron menggeleng, "bukan maksud ayah..."


Darren mendesah, "nama itu sudah jauh hari Calista persiapkan untuknya ayah, dia begitupun mendambakan senja lahir ke dunia ini. Ayah tau, sejak Calista sakit saat aku pulang kerja di sore hari, aku pasti melihat Calista tengah duduk di kursi luar hanya menunggu senja di sore hari itu datang. Ya, Calista begitu menyukai senja, untuk itu ia memberi nama putrinya itu Senja.."ujar Darren dengan mimik wajah yang berubah-ubah terkadang ia akan tersenyum tak jarang ia akan menatap sendu.


Aeron mengangguk, "senja itu indah. Semoga dia akan membawa keindahan dan kebahagian untukmu dan Calista. Kita berusaha bersama-sama ya, yakinlah bahwa Tuhan pasti mempunyai rencana yang indah dari balik semua ini.."ujar Aeron menepuk pundak Darren.


Darren mengangguk, setelah itu pembicaraan keduanya usai, Darren kembali ke kamar Calista.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2