Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Dendam membara


__ADS_3

Caren terus terisak dengan wajah yang ia sembunyikan di antara dua lututnya, badannya tampak bergetar. Ia meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan, berada dalam sudut sel penjara, belum lagi mengingat kejadian yang begitu menjijikan saat ia harus digilir pria-pria bajingan itu.


Tiga hari usai tak sadarkan diri, Caren terkejut saat menemukan dirinya berada dalam rumah sakit, yang lebih mengejutkan lagi baju tahanan yang kini telah membalut tubuhnya, hal itu membuat ia berteriak histeris lantaran tak percaya akan nasibnya yang berujung pada penjara.


Usai dokter mengatakan keadaan Caren stabil, polisi baru memindahkannya ke dalam sel tahanan. Lantai dingin, lembab, dan gelap membuat Caren bergidik ngeri, jika membayangkan dia harus menghabiskan sisa hidupnya pada tempat itu, mengingat kejahatan apa saja yang telah ia perbuat, pasti tak akan mampu siapapun membebaskannya.


Tak ada siapapun yang menengok dirinya di sana, ia kembali hanya sebatang kara, mama papa angkatnya tentulah tak akan sudi melihatnya.


Caren terus teriak-teriak frustasi meminta penjaga untuk membuka sel itu, namun usahanya itu sia-sia. Mengingat kegagalannya dalam menghancurkan rumah tangga Daren dan Calista membuat ia begitu geram dan frustasi.


"Sial.."umpatnya,


Kini ia kembali berfikir pada siapa ia harus meminta bantuan, ia terus memutar otaknya mencari ide. Tak lama sesuatu nama terlintas dalam otaknya, Mario ya hanya Mario harapannya kini, partner bercintanya ia pasti akan melakukan apapun demi dirinya.


Caren meminta penjaga untuk mengijinkannya menelpon pada seseorang.


Tunggu pembalasanku Calista, tak kan ku biarkan kau hidup tenang.


Caren yakin Mario pasti akan segera datang lalu membebaskannya dari penjara gelap itu. Nyatanya, meski telah mengalami hal yang sadis dan mengerikan tak membuat Caren jera.

__ADS_1


Benar dugaanya, usai Caren menelponnya Mario langsung datang menemuinya. Usai memberikan suapan pada petugas penjaga Mario masuk ke dalam ruang besuk itu, ia tak ingin kedatangannya di ketahui oleh publik lalu mencoreng nama baik keluarganya, cukup sekali ia melakukan kesalahan saat harus adu jotos dengan Darren pada waktu di klub saat itu hanya karena seorang wanita.


Mario menatap tajam pada wanita di hadapannya kini, namun hal itu sama sekali tak berpengaruh pada Caren, seakan rasa malunya sudah sirna. Caren berjalan santai mendekati Mario dengan senyum sensual dan menggoda, jika biasanya Mario akan tergoda, saat ini ia merasa sangat jijik padanya.


Dulu dia begitu memuja Caren, lantaran dialah yang pertama merenggut kesucian Caren, namun begitu melihat kekejaman Caren dan kelicikannya membuat Mario bergidik jijik, sunggu saat ia merasa begitu muak, lantaran Caren terus melakukan berbagai cara hanya demi obsesinya mendapatkan Darren.


Caren mencoba menggoda Mario dengan cara duduk di pangkuanya, tak jarang ia akan membelai sensual dada Mario, saat Caren hendak mencium bibirnya Mario memalingkan mukanya, rasa jijik perlahan menjalar pada setiap ulu hatinya.


"Untuk apa kau menyuruhku kemari..?"tanya Mario to the point, ia merasa sangat muak berada di sana dalam waktu lama.


"Apa kau tidak merindukanku Mario sayang? Kau tidak ingin menyentuh tubuhku, seperti biasanya..."rayunya, ia terus menggoda Mario.


"Kau benar-benar tidak tau malu Caren. Dan kau sangat menjijikan..."ucapnya dengan lantang.


Caren menatap Mario dengan tatapan bingung, "makudnya..."


"Oh kau benar-benar tidak tau, akan ku tunjukkan sesuatu padamu..."Mario mengambil ponsel miliknya, lalu memutarnya tepat di hadapan Caren.


Caren menggelengkan kepalanya tak percaya, "i-ini..."

__ADS_1


Mario menatap Caren miris, "beritamu ini bahkan sudah trending sangat panas di luaran sana. Orang menganggapmu mempunyai perlaku *** yang menyimpang dan menjijikan.."sarkas Mario, membuat Caren terhenyak.


Mario memmundurkan tubuhnya ia menggenggam kursi dengan erat, ia berusaha mengontrol emosinya kini, sungguh ia teramat kecewa lantaran merasa sangat dikhianati oleh Caren.


"I-itu, bagaimana mungkin..."Caren masih berusaha menyangkal.


Mario tersenyum mengejek, ia melemparkan koran yang ia bawa tentang berita panas pada pagi ini,.


Caren langsung shock, ia menjerit menangis histeris tertunduk di lantai sembari menjambak rambutnya sendiri.


"Tidakkkkk....."teriaknya, hancur detik itu ia dirinya merasa hancur.


Usai memanggil penjaga, perlahan Mario bergerak menjauh pergi dari hadapan Caren. Ia dapatn mendengar jelas tangisan pilu Caren saat itu, dapat ia dengar wanita itu terlihat begitu hancur.


"Selamat tinggal Caren.."gumam Mario dengan setetes air mata jatuh di pipinya, segera ia menghapusnya lalu berjalan menjauh dari sana.


•••


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2