
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Matahari mulai merangkak naik ke atas, terik matahari perlahan mulai masuk melalui celah jendela yang tertutup dengan gorden.
Kedua mata Melodi mengerjap dengan sempurna, ia merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa....."teriaknya.
Gludag bugh....
"Awww, setan!"umpat Jona kala ia terjatuh di lantai akibat dorongan Melodi dengan sekuat tenaga.
Melodi sontak bangun, melirik ke arah bawah di mana tadi ia mendorong tubuh Jona hingga terjatuh.
"Lho kok gak bangun, jangan-jangan dia...."
Melodi menelan ludahnya dengan susah, menebak bahwa kemungkinan Jona pingsan akibat ulahnya, buru-buru ia menjuntai kan kakinya ke lantai.
Ia menepuk kedua pipi Jona, "Jo bangun Jo, jangan buat aku takut dong, aku gak sengaja dorong kamu..."ucapnya sambil terus berusaha membangunkan Jona.
"Kok gak bangun ya, masa iya kasih nafas buatan.."Melodi bergidik, mengenyahkan pikirannya itu, ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tapi karena Melodi merasa bersalah, akhirnya Melodi mulai mencondongkan wajahnya dengan harap-harap cemas.
Grep.. Melodi terkejut saat sebuah tangan kekar justru menariknya dengan kuat.l
Hahhaha.. Jona justru terkekeh, membuat Melodi terkejut.
"Jona kamu..."
"Gue pengen tau apa yang mau Lo lakuin kalau gue pingsan. Gak taunya Lo mau nyoba cium gue, gue malah pengen ketawa Mel, gue pingsan jatuh Mel bukan karena tenggelam. Astaga...."ujar Jona dengan gelak tawa.
"Lepas, aku tuh gak mau cium kamu. Cuman mau liat wajah kamu aja dari dekat.."kilahnya, Melodi berusaha melepaskan tangan Jona, ia hendak bangkit, namun Jona kembali menariknya, lalu mengukung Melodi di bawah tubuhnya.
__ADS_1
Krekkk.. pintu terbuka seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu.
"Jonaaaaa....kamu ya..."teriak Mama Liliana begitu di ambang pintu.
Sontak Jona buru-buru bangkit, begitupun dengan Melodi yang menghela nafas lega saat keringat dingin mulai mengalir dari dahinya.
Mama Liliana mendekat lalu menarik telinga Jona, "kamu ya, memang gak bisa di percaya. Gak bisa gitu kalau mencari kesempatan dalam kesempitan.."cecar Mama Liliana.
Jona meringis, "lepas ih ma, aku bukan anak SD ma. Ngapain sih jewer segala. Malu tau ma di liat melodi.."serunya.
"awwww...."
Bukannya di lepaskan Mama Liliana justru menariknya lebih kencang, "biarin. Kamu bilangnya gak mau macam-macam, terus apa tadi kalau mama gak datang habis melodi di lahap kamu..."
"Lahap, emang melodi makanan apa..? Lagian aku kan bilangnya bukan gak mau macam-macam, tapi satu macam.."bela Jona, benar kan emang semalam cuman satu macam tidur sambil memeluk Melodi.
Mama Liliana melepaskan tangannya dari telinga Jona, sementara Melodi tampak tertunduk malu.
"Itu mah semalam kan hujan deras ada petir, mati lampu juga, aku gak sengaja dengar melodi teriak-teriak ketakutan, ya udah aku masuk buat nenangin dia gitu, eh gak tau keterusan tidur di sini.."jelas Jona.
"Benar begitu melodi..?"tanya Mama Liliana.
"Iya tante, Semalam memang Melodi-"
Mama Liliana menghela nafasnya mendekati Melodi, "jadi trauma kamu itu belum sembuh juga..?"tanyanya.
Jona menatapnya dengan bingung, "ya kadang masih suka begitu Tante.."
"Mama dong masa Tante sih, kamu kan calon menantu saya.."
"I-iya ma.."
__ADS_1
"Ngapain masih di sini, sana keluar,.."usir mama Liliana pada Jona.
"Berasa anak tiri gue.."gumamnya sambil melangkah keluar.
.
.
.
.
Setelah pergulatan panas yang kedua ciptakan, lalu mandi bersama kini Leno dan Dita tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah Dita.
"kamu gak masalah kan, jika nanti aku membawamu tinggal di Amerika.."tanya Leno membuat Dita terkejut.
"Amerika maksudnya? jadi-"
Leno berjalan mendekati Dita, "pekerjaanku ada di sana sayang, aku tidak mungkin terlalu lama di sini.."ujarnya.
"Tapi bagaimana dengan ayah?"lirihnya pilu, ia mengingat bahwa ayahnya hanya mempunyai dirinya, jika ia pergi bagaimana dengan dirinya.
"Nanti kita bicarakan lagi ya, coba kita ngomong dulu sama ayah kamu. Kalau dia mau ikut kita di sana juga enggak masalah.."tutur Leno, bagaimana pun ia tau tak mudah bagi istrinya meninggalkan ayahnya sendiri di sini.
"Kalau misalkan aku tetap mau di sini gimana?"tanya Dita, ia ingin egois tak ingin meninggalkan ayahnya sendiri di sini, membuat kening Leno mengkerut.
"Terus kita LDR an gitu. Astaga! buat aku nikah sayang.."seru Leno kesal, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.
Kini keduanya saling diam, larut dalam pikriannya masing-masing.
Tbc
__ADS_1