Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Pamit


__ADS_3

Calista tengah berjemur di taman belakang dengan di temani Dita. Usai pembicaraannya dengan Leno semalam, Calista merasa rileks dan lega.


"Saya pikir nyonya saat ini sedang bahagia,"kata Dita sembari meletakkan sepotong kue di atas meja.


Calista menatap Dita seraya tersenyum tipis, "iya Dita, aku merasa lega tak punya beban, aku sudah menyelesaikan masalahku dengan Kak Leno.."


"Leno.."lirih Dita masih tak mengerti.


"Iya Leno, pria yang kau maksud Tuan pebinor,"jawab Calista terkekeh.


Dita menggaruk tengkuknya dengan canggung, "syurkulah nyonya saya juga senang mendengarnya.."


"Iya, meskipun setelah itu entah kapan kami akan kembali bertemu, sebenarnya aku merasa bersalah tapi itu mungkin memang jauh lebih baik.."ujar Calista.


Meski tidak begitu paham apa maksudnya Dita hanya mengangguk mengerti. Entah kapan akan bertemu? sebesit pertanyaan itu mengganggu pikiran Dita, itu berarti Leno akan pergi jauh.


Semoga kau menemukan pengganti yang lebih baik Tuan, lirih Dita.


"Dita..."


Merasa tak mendapatkan respon Calista melirik ke arah Dita, terlihat Dita sedang melamun seperti tengah memikirkan sesuatu. Calista memilih untuk menepuk pundak Dita.


"I-iya nyonya.."ucapnya setelah tersadar.


"Kau memikirkan apa?"tanya Calista selidik.


"T-tidak nyonya..."elaknya.


Calista terkekeh, "aku pikir kau sedang memikirkan Kak Leno.." ucapan Calista mampu membuat rona merah di pipi Dita muncul, segera gadis manis yang baru menginjak usia 22 tahun itu memalingkan mukanya.


"Nyonya tadi memanggil saya ada apa? Apa nyonya menginginkan sesuatu..?"tanya Dita ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan keduanya.


"Kau tau di depan supermarket ujung sana ada penjual rujak serut kan.."ucap Calista, Dita mengangguk mengerti, "tolong belikan itu ya, tiba-tiba aku ingin makan itu. Sekalian masuk supermarket kau belikan aku ice cream. Aku bisa saja menyuruh koki membuatkan rujak itu, tapi aku hanya ingin rujak yang berasal dari sana,"sambungnya.


"Baik nyonya..."


"Ini uangnya Dita.."


"Tidak perlu nyonya, Tuan Darren sudah memberikannya untuk jaga-jaga jika anda menginginkan sesuatu.."sahut Dita.


Usai itu, Dita berpamitan pergi. Keluar dari rumah menggunakan motor scopy miliknya yang kemarin sudah di antarkan pihak bengkel suruhan Leno.


•••


Sembari memesankan rujaknya, Dita masuk ke dalam supermarket untuk membeli ice cream.


"Nyonya aneh, kenapa tidak meminta ice cream yang berada di stand-stand terkenal. Dia memang sederhana, pantas Tuan Leno pun mencintainya.."gumam Dita.


Usai membuka frezzer salah satu merek ice cream, Dita mengernyit bingung saat harus memlih rasa, ia lupa tidak menanyakannya. Gadis itu merogoh sakunya, berniat mengambil ponselnya, namun ia tak menemukannya.

__ADS_1


"Ck, aku lupa tidak membawa ponsel. Ponselku kan sedang di charger,"gumamnya bingung.


Sedetik kemudian, Dita menatap bingung saat seseorang menyodorkan ponsel di hadapannya.


"Kau butuh bantuan? Pakailah ponselku nona.."ucap seorang pria tampan berkaca mata.


Dita menatap bingung ke arahnya tanpa sepatah kata, kemudian pria itu membuka kaca mata hitam miliknya, "T-tuan.."pekiknya.


"Hai nona..."sapa Leno dengan senyum manisnya.


Ada yang beda, biasanya Leno akan memanggil dirinya gadis pelayan, saat ini dia memanggilnya Nona hal itu tentu saja membuat Dita merasa tak nyaman.


"T-tuan sedang apa di sini?"tanya Dita canggung.


Leno terkekeh, "Whay? bukankah ini tempat umum.."


Dita mengangguk, "i-iya sih.." Dasar payah bagaimana Dita bisa segugup itu, berhadapan dengan sosok Leno yang bersikap manis, nyatanya justru menimbulkan perasaan canggung.


Leno menggelengkan kepalanya melihat Dita tengah sibuk dengan pikirannya, pria itu bergegas mengambil sebotol air mineral lalu ke kasir membayarnya.


Grep


"Ikut aku sebentar..."Leno menarik tangan Dita membawanya keluar dari supermarket itu.


"T-tuan lepas, saya harus-"gadis itu berusaha berontak melepaskan cekalan tangan Leno dengan geram. Pria itu tetap sama seenak jidatnya menarik-narik Dita.


••


"Ada apa? cepat katakan Tuan. Saya harus cepat kembali, Nyonya Calista pasti sudah menunggu saya..."cecar Dita setelah kini mereka berdua duduk di sebuah bangku tidak jauh dari supernarket tadi.


Leno menghela nafasnya, "aku hanya mengatakan terimakasih padamu, sebelum aku benar-benar meninggalkan negara ini..."ucap Leno.


Dita melirik ke arah Leno, "terimakasih, memangnya saya berbuat apa..?"


"Ya berkat nasehatmu kini aku sadar bahwa aku memang tidak seharusnya merusak rumah tangga adikku. Aku ikhlas melepas Calista untuk Darren, jaga Calista dengan baik ya.."


"Tanpa tuan minta saya juga pasti akan melakukannya.."sahut Dita.


Leno mengangguk mengerti, pria itu mengeluarkan sekotak persegi dari sakunya lalu memberikannya pada Dita.


"Apa ini?"tanya Dita saat Leno menyodorkan sebuah kota padanya.


"Hadiah.."


"Untuk siapa? untuk nyonya Calista ya.."


Leno terkekeh, nyatanya gadis di depannya itu memang masih polos, "berapa usiamu..?"


"22 tahun.."

__ADS_1


"Pantas, kau memang masih kecil.."ucapnya membuat Dita mencebik kesal.


"Memangnya anda om-om.."sahutnya enteng, membuat Leno tergelak.


"Ini hadiah untukmu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih aku padamu."


"Itu tidak perlu Tuan.."Dita berusaha menolak, nyatanya Leno tetap memaksa.


"Apa Tuan akan pergi?"tanya Dita akhirnya.


"Iya, urusanku di sini sudah selesai..."


"Apa Tuan tidak akan kembali kesini lagi?"ceplosnya, Astaga bagaimana bisa aku bertanya seperti itu, gumamnya. Dita merutuki ucapannya barusan.


Leno menatap Dita sejenak, "memangnya kau ingin aku kembali.."


"Em i.. t-tidak..."


"Yah, aku kecewa deh.."candanya.


Leno melirik arloji di tangannya, bergegas pria itu bangkit dari tempat duduknya,"oke, urusanku sudah selesai. Aku minta maaf ya pernah membuatmu kesal dan marah. Jaga dirimu dengan baik."Leno mengusap kepala Dita dengan lembut.


"Apa setelah ini kita memang tidak akan pernah bertemu.."tanya Dita, entah dorongan apa yang membuatnya mampu bertanya hal demikian.


Leno tersenyum tipis, "kita tidak akan tau apa yang terjadi besok, lusa dan kedepannya kan Nona Anandita Damara."


Deg, panggilan itu dapat membuat Dita terkejut, bagaimana Leno mengetahui nama lengkapnya.


"Aku tidak bisa berjanji untuk itu, biarkan takdir yang menuntunku bagaimana nanti aku akan pulang."sambung Leno.


Dita mengangguk, "baiklah. Terimakasih, tuan hati-hati.."seru Dita.


Usai itu pembicaraan keduanya berakhir, Leno pamit menuju mobilnya, Dita menerima kotak hadiah pemberian Leno. Kini tidak ada lagi Tuan pebinor yang selalu Dita katakan.


Dita menatap kotak hadiah dalam tangannya pemberian Leno, entah apa isinya. Setelah itu ia kembali ke supermarket untuk membeli pesanan Calista, ice cream dan rujak serut.


••


Baka ketemu lagi gak tuh mereka?


LIKE


KOMENTAR


HADIAH


Vote


Tbc

__ADS_1


__ADS_2