
Terlihat semua para tamu sudah memenuhi ballroom hotel bintang lima itu yang telah di sulap dengan sedemikian rupa, terlihat mewah namun terkesan elegan.
Lalu lalang orang berjalan keluar masuk dari gedung itu, demi memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Ada yang memakai jas, ada yang memakai dress, tak sedikit pula yang memakai pakaian batik, semua menghiasi keramaian pesta pernikahan itu, tawa senyum bahagia menjadi satu.
Ya, satu jam yang lalu Leno dan Dita telah resmi menyandang status sebagai pasang suami istri. Tak sia-sia momen yang di tunggu untuk mereka, tanpa ikatan pacaran keduanya memilih untuk segera menempuh jenjang pernikahan.
"Huh, akhirnya..."Leno menarik nafas lega lalu mendudukan dirinya di kursi pelaminan yang telah di sediakan oleh pihak WO.
"Kenapa..?"gadis halalnya itu melirik dengan heran saat melihat pria yang baru satu jam yang lalu menyandang status sebagai seorang suami itu mendesah lega.
Leno menggeleng sembari tersenyum menatap lembut wajah cantik dan anggunnya Dita di balik gaunnya yang ia kenakan, "kamu capek gak...?"ia justru berbalik tanya.
Dita mengangguk, "sedikit, kakiku pegal. Karena gak biasa pakai hak tinggi gini kali ya? Aku biasanya pakai sandal jepit soalnya..."sahutnya sambil tergelak.
Leno terkekeh gemas, Dita memang beda dia itu apa adanya, "iya, nanti kalau udah selesai ganti sandal jepit..."
Dita mengangguk tersenyum manis pada Leno, anggaplah dunia sedang milik berdua, "entar malam aku pijit deh, kalau kamu pegal.."
"Pijit doang kan...?"tanya Dita dengan serius.
Leno mengangguk, "emang kamu maunya apa?"goda Leno sambil mencubit gemas pipi istrinya, lalu mendudukan nya di pangkuannya.
"Ih sakit tau..."cebik Dita sambil berusaha turun dari pangkuan suaminya.
"Mau yang enak gak?"tanya Leno.
__ADS_1
"Kalau enak siapa yang gak mau, pasti maulah ..."sahut Dita penasaran.
"Entar malam aku kasih yang enak..."ujar Leno.
"Kenapa gak sekarang aja...?"sahut Dita membuat Leno melongo lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia sebenarnya gak tau apa emang pura-pura gak tau sih, pikirnya.
Cup.. Leno mendaratkan kecupan singkat di pipi istrinya, "sekarang cium pipi aja deh, takut keterusan gak mau berhenti deh.."sahutnya membuat wajah Dita merona.
•
•
•
•
Deheman seseroang mengejutkan keduanya.
"Tuan, Nyonya.."ucap Dita yang terkejut mendapati Darren dan Calista berdiri di depannya.
Buru-buru Dita turun dari pangkuan Leno dengan perasaan canggung. Leno sendiri hanya memalingkan mukanya, padahal dalam hati jelas ia merasa malu.
"Aku gak pernah tau kakakku dekat dengan wanita, tapi sekalinya dekat langsung ngajak nikah. Aku bangga, btw selamat ya semoga selalu bahagia..."ucap Darren pada keduanya.
Leno menyambut uluran tangan Darren, lalu memeluknya, "terimakasih, kau juga harus bahagia.."balas Leno, Darren menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Calista tersenyum manis, "selamat ya Kak Leno, Dita aku merasa bahagia. Maaf aku baru hadir kamu tau lah kondisiku bagaimana..."
"Terimakasih Nyonya..."sahut Dita.
Calista terkekeh kecil, lalu menghambur memeluk Dita, "jangan panggil nyonya, sekarang kau itu kakak ipar ku. Panggil aku Calista..."
Dita menggeleng, "itu tidak sopan...."sahutnya.
•
•
•
•
Usai memberikan ucapan pada kedua mempelai itu, Darren membawa Calista turun lalu duduk di pojokan.
"Mau pulang..?"tawar Darren, ia tak mau membuat istrinya itu lelah.
"Sebentar lagi mas. Bukankah kau bilang Jona juga datang bersama calon istrinya, kok dia gak kelihatan.."ujar Calista.
Darren menghela nafasnya, ia merogoh ponselnya berusaha menghubungi Jona.
•••
__ADS_1
Tbc