
Matahari kian merangkak naik, sarapan telah tersedia di atas meja dengan para koki handal yang menyajikannya, Senja dan Daniel tiba di meja makan.
"Daddy tumben turun,"kata Senja heran, karena biasanya Daddy-nya itu paling tepat dan jarang melewatkan sarapan.
Daniel menarik kursi, "mungkin masih tidur sayang! Karena kelelahan. Dan kau bisa memanggilnya sayang,"ujar Daniel lembut.
Senja terdiam entah kenapa firasatnya tak enak, "kau benar. Aku akan memanggil Daddy. Tunggu sebentar,"serunya, sambil berlalu menuju kamar Daddy-nya.
Ceklek..
"Dad,"panggil Senja begitu sampai di kamar Daddy-nya, ia membuka pintu dan melihat keadaan kamar yang gelap, lalu melihat Daddy-nya masih tidur dengan nyenyak.
Senja menghela nafasnya, dan perlahan ia beranjak ke jendela menyibak gorden, membiarkan sinar matahari masuk. Usai itu ia beranjak mendekati ranjang, mematikan lampu tidur yang berada di atas nakas.
"Dad! Udah siang lho. Bangun yuk sarapan"ucap Senja.
Namun Darren masih tak bergeming, ia tetap terlelap, Senja melihat sang Daddy tidur dalam keadaan memeluk bingkai foto istrinya.
"Dad ayo bangun,"sekali lagi Senja berucap, kali ini ia memberanikan diri mengguncang tubuh Daddy-nya dengan gerakan pelan. Ketakutan demi ketakutan ia rasa, saat merasakan tubuh Daddy-nya yang terasa dingin, ia menggelengkan kepalanya tak sadar kedua matanya kini sudah meneteskan air matanya.
"Daddy bangun! Jangan bercanda,"pintanya sekali lagi.
Masih tak menyerah wanita itu kembali memeriksa denyut nadi sang ayah.
Deg...
"Tidakkkkkkkk!!! Daddy bangun,"teriaknya kencang yang berhasil menggetarkan seluruh penjuru rumah.
Prang... Gelas di tangan Daniel tak sengaja jatuh tepat di telapak kakinya, tak memperdulikan lukanya, pria itu segera berlalu mendengar teriakan istrinya.
"Sayang! Ada apa?"seru Daniel dengan nafas yang tersengal-sengal, di sana ia melihat istrinya tengah memeluk tubuh Daddy mertuanya.
"Daddy bangun, jangan bercanda ku mohon,"Senja terus menggunakan kalimat itu berulang kali, bahkan tak segan ia memeluk dan mengguncang tubuh Daddy-nya.
__ADS_1
Daniel terkejut ia melangkah pelan, mendekatinya, "sayang!"
Mendengar suara suaminya Senja pun menoleh, "Kak coba bangunin Daddy, dan katakan untuk jangan bercanda seperti ini,"pintanya.
Daniel mengambil lengan Darren memeriksa denyut nadinya, ia juga menempelkan jari telunjuk di hidungnya.
Deg, Daniel menoleh ke arah istrinya, "sayang, Daddy sudah meninggal,"lirihnya pelan dengan nada bergetar.
"Tidakkkk...."
Bugh.. Senja jatuh tak sadarkan diri saat itu juga.
***
Keluarga Wilson kembali berduka dengan meninggalnya Darren. Di atas makam yang masih basah, Senja terus terisak memanggil Daddy-nya.
Upacara pemakaman Darren telah usai, sebagian orang banyak yang sudah meninggalkan makam.
Leno mengusap sudut matanya yang basah, melihat sang keponakan kini terlihat begitu memprihatinkan, Dita berjongkok membelai punggung Senja, "sayang! masih ada kami. Ada suamimu, keluarga suamimu. Ada papi Leno, ada mami, ada Ansel. Kau tak sendiri sayang, kami semua menyayangimu! Mami mohon ikhlaskan kepergian Daddy ya?"tuturnya ia menarik Senja membawanya ke dalam dekapannya.
Leno menatap prihatin ke arah Senja, lalu kembali memandang dua gundukan di depannya, yang satu makam Darren yang masih baru, yang satu makam Calista, keduanya saling berjejer, "Apa kalian bahagia? Baiklah aku ikhlas, kami berjanji akan menyayangi Senja."gumam Leno.
Kak, aku jika suatu hari sesuatu terjadi padaku, berjanjilah tetap menyayangi Senja seperti putrimu sendiri, jangan biarkan ia benar-benar kehilangan sosok seorang orang tua,pesan Darren saat itu. Dan Leno tak menyangka bahwa semua itu sebuah firasatnya, dia seolah sudah mempersiapkan kepergiannya.
Daniel menunduk matanya tampak memerah tubuhnya terasa lemas, "Aku janji Daddy, akan selalu mencintai senja, hanya akan ada dia di hatiku, pergilah tenang dan damai,"lirihnya.
Kau mencintai Senja? Bisakah kau terus mencintai dan menyayanginya, aku sungguh tak akan ikhlas jika kau sampai menyakitinya, tolong buatlah ia selalu bahagia, jangan biarkan dia menangis dan tersakiti, ucap Darren kala itu saat Daniel bermaksud melamar putrinya.
Jona melepaskan kaca mata hitamnya, lalu menghapus air matanya, "aku bahagia pernah mempunyai sahabat seperti dirimu Darren. Ya Cinta kalian benar sejati. Tenang di sana ya kawan,"lirihnya.
Aku merasa hidupku tak akan lama lagi Jo! jadi sebelum aku benar-benar pergi, bisakah kita bertemu dalam pesta pernikahan putriku,ucap Darren pada Jona saat itu.
"Kita pulang sayang ya,"bujuk Daniel pada istrinya.
__ADS_1
Senja menggeleng, "aku mau di sini, aku mau menemani Daddy,"jawabnya sambil terisak.
Daniel menatap langit yang perlahan mulai menggelap, dan dapat ia duga sebentar hujan akan turun, "kita bisa kesini lagi besok, ayo sayang sabentar lagi hujan. Jika kau terus seperti ini Daddy juga akan sedih! tolong ikhlaskan kepergian Daddy sayang!"bujuk Daniel.
"Baiklah, Daddy Mommy, Senja pulang dulu ya,"ucapnya.
Daniel membantu Senja berdiri, Senja merasakan kepalanya begitu sakit dan perlahan pandangannya gelap.
Bugh
"Senja.."
"Sayang.."
Dia jatuh pingsan, mengingat seharian ini perutnya tak terisi asupan apapun. Daniel menggendong Senja, membawanya ke mobil lalu pulang.
***
TAMAT
Akhir kata aku ucapakan terimakasih men-temen yang sudah Sudi mampir membaca karya recehku, yang tulisannya masih amburadul. Terimakasih bagi yang tetap baca hingga ending, tak jarang juga banyak yang berhenti di tengah jalan. Terimakasih yang tetap mau Like, komentar, kasih aku hadiah makasih banget.
Dan ini adalah sebuah cerita yang sedikit ku angkat dari sebuah kisah nyata lalu aku kembangkan sedikit di beri bumbu-bumbu biar lebih menarik, sebuah penyakit kanker, ketika di vonis penyakit itu sepupuku hanya bertahan sekitar lima tahunan, dia meninggal dunia meninggalkan putranya yang baru berusia sepuluh tahun.
Maaf sekali lagi, jika harus sad ending. Ini novel pertama yang ku tulis harus berakhir sad ending, nulis novel ini justru banyak menguras air mata.
oke sampai jumpa di lain waktu, sementara aku akan Hiatus dari pf, Mau nyelesain novel sebelah.
'Pada akhirnya , setiap orang adalah perjalan bagi manusia lainnya, dan setiap perjalanan terdiri dari dua hal : pertemuan dan perpisahan.
Salam sayang
Arsyazzahra (Ara)
__ADS_1