Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
BERAPA KILO?


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Matahari kian terbenam, selesai sudah pesta pernikahan yang di gelar.


Ceklek.. pintu kamar terbuka, menampilkan dekorasi kamar pengantin yang begitu indah, semerbak harum bunga mawar yang di taburi di atas ranjang tercium, lalu di atasnya terdapat sebuah handuk yang berbentuk angsa yang sedang berhadapan membuat Dita terkikik geli.


"Kenapa?"tanya Leno mendengar istrinya terkikik geli, Leno membuka jas yang membalut tubuhnya juga jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Dita duduk di pinggir ranjang dengan gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya, "ini., bunganya banyak banget. Kira-kira berapa kilo ya buat bikin beginian..?"sahutnya membuat Leno tergelak.


"Enggak tau lah sayang, aku mandi dulu ya?"ucap Leno, Dita menganggukkan kepalanya, "apa mau bareng aja?"tawar Leno.


Dita menggeleng, "enggak, aku malu..."jawabnya membuat Leno terkekeh.







Ceklek.. Leno keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih yang membalut tubuhnya tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Kening mengkerut mendapati ranjang yang semula penuh dengan kelopak bunga kini sudah bersih.


"Lho bunganya kemana?"tanya Leno bingung.


"Aku buang,"

__ADS_1


"Kenapa?"tanya Leno.


"Mana enak sih tidur di atas kelopak bunga, udah kaya ulat aja.."cebiknya.


Leno menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan istrinya, sembari memerhatikan tangan istrinya yang tampak sedang sibuk dengan handuk di atas ranjangnya.


"Mandi gih sana?"titahnya.


"Sebentar, aku masih penasaran.."sahutnya tanpa melirik ke arah Leno.


Leno hanya menghela nafasnya, di usainya yang sudah kepala tiga sedangkan Dita yang baru menginjak dua puluh tiga tahunan, Leno paham harus banyak sabar, mengingat usianya terpaut jauh dengan istrinya.


Leno mendekat, ikut duduk di pinggir ranjang bersama istrinya, "sedang apa Hem?"


"Ini gimana cara bikinnya ya?"tunjuknya pada handuk di tangannya, "udah aku bongkar mau aku buat lagi tapi enggak bisa.."sambungnya membuat Leno melongo.


Dita melepaskan handuk di tangannya lalu menatap suaminya dengan tanya, "emang kita mau main apa?"


"Naik naik ke puncak gunung, nanti turun ke lembah.."sahut Leno dengan tergelak pengingat penjelasan konyolnya. Dita masih terdiam sibuk dengan pemikirannya.


Leno segera menyeret istrinya duduk di kursi rias, ia membantu nya melepaskan satu persatu hiasan di kepala istrinya.


"Bisa buka sendiri gak bajunya..?"tanya Leno.


Dita menggeleng, mengingat gaun yang ia kenakan resletingnya berada di belakang punggungnya.


"Mau di bantu..?"tawar Leno.


"He'em, bantuin ya. Enggak papa kan..?"seru Dita.

__ADS_1


"Iya sayang..."


Leno pun membantu Dita untuk membuka resleting gaunnya, ia harus menahan ludahnya saat melihat punggung istrinya yang putih mulus terpampang nyata di depannya. Rasanya enggak akan cukup ya kalau enggak pegang. Tak sadar Leno meletakkan tangannya di sana, meraba punggung mulus istrinya, merasa hasratnya kian bangkit Leno mencondongkan tubuhnya untuk mengecup sedikit di sana.


"Geli mas.."ucap Dita membuat Leno tersadar.


"Eh lupa, kamu kan mau mandi ya.."ucap Leno.


Dita mengangguk malu, perlahan ia melangkah masuk ke kamar mandi. Leno menghela nafasnya kasar, mengingat dirinya hampir saja lepas kendali. Bergegas ia membuka koper miliknya mengeluarkan pakaian ganti untuknya.


Seorang room service tiba, mengantarkan pesanan makan Leno.


"Makasih.."ucap Leno.


Leno menyiapkan makanan itu di atas meja.






••••


Nungguin ya? nungguin adegan anu-anu ya apa naik-naik ke puncak gunung .wkkwkkwk


Tbc

__ADS_1


__ADS_2