Balada DENDAM Dan CINTA

Balada DENDAM Dan CINTA
Tak sadarkan diri


__ADS_3

Sejenak kita lupakan soal Leno ya, biarkan dia menata hatinya yang berantakan akibat siapa? Author lahπŸ˜‚.


β€’β€’


Waktu terus bergulir cepat, kini kandungan Calista sudah menginjak usia lima bulan. Usai pembicaraan dengan Calista saat di cafe itu, Leno benar-benar menepati janjinya, pria itu benar-benar kembali ke Amerika, tak mengganggu rumah tangga Darren dan Calista. Ia kembali menyibukkan dirinya dengan bekerja dan terus bekerja.


Ada perasaan lega di hati Darren, meski begitu dalam sudut hati kecilnya, Darren teramat merindukan kakak sepupunya itu. Kepergian Leno meninggalkan sejuta luka untuk Nancy dan Randy, entah apa yang terjadi Leno hanya meninggalkan sepucuk surat untuk kedua orang tuanya. Lalu untuk Darren, Leno hanya mengirimkan sebuah pesan singkat.


Jaga Calista dengan baik. Aku percaya kau mampu membuatnya bahagia. Aku pergi.


Begitulah bunyi pesan yang ditinggalkan Leno untuknya.


Fajar telah menyingsing di pagi hari. Darren sudah rapi dengan pakaian kerjanya, hanya tinggal bersiap untuk berangkat kerja. Sejenak tatapannya berhenti menatap sang istri yang masih telelap. Melangkahkan kakinya ia mendekatinya, tangannya membelai lembut wajah cantiknya, menyibakkan sehelai rambut yang menutupi wajah Calista. Usai itu ia mencondongkan bibirnya, mengecup lembut pipi istrinya.


Aktivitasnya sama sekali tak membuat istrinya terbangun. Darren terkekeh, "ngantuk banget kayaknya."


Darren kembali melanjutkan langkahnya bersiap berangkat kerja tanpa membangunkan sang istri. Sampai di ambang pintu ia kembali berhenti memutar tubuhnya menatap Calista.


Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak.. Ah mungkin hanya perasaanku saja, gumamnya.


Meski ragu, Darren tetap kembali melangkah meninggalkan istrinya bekerja, ia harap semua akan tetap baik-baik saja.


β€’β€’β€’

__ADS_1


Calista duduk di meja sembari menikmati sarapan paginya dengan di temani Dita. Tidak perlu di tanya kemana Darren, semalam suaminya itu sudah memberi tahunya lebih dulu bahwa pagi-pagi sekali ia akan menghadiri rapat direksi untuk itu ia tidak dapat menemaninya sarapan.


Meletakkan sendok dan garpunya, tanda dirinya telah usai sarapan, ia mengambil satu gelas susu khusus ibu hamil, perlahan ia meneguknya hingga habis.


Dita tersenyum senang melihat majikannya kini makan lebih banyak.


"Kenapa kau senyum-senyum Dita, seperti orang jatuh cinta saja,"kata Calista heran.


Dita tersenyum kikuk, "saya senang karena nyonya makan sampai habis," balasnya membuat Calista mengangguk mengerti.


Calista memijat kepalanya yang tiba-tiba merasa begitu pusing, perlahan ia pun merasakan perutnya bergejolak.


Uwek.. uwek..


"Nyonya..."


Dita menyusul Calista dengan perasaan cemas.


Uwek.. uwek.. Calista memuntahkan segala isi perutnya, matanya terbalalak begitu merasakan cairan darah mengalir dari lubang hidungnya. Tak sanggup untuk membersihkannya, Calista justru memegang kepalanya yang terasa semakin sakit.


Perlahan, detik demi detik rasa sakit itu semakin mendera. Secepat itu, ia merasakan cahaya kian meredup, lalu menggelap begitu saja.


Bugh, sedetik kemudian ia merasakan sekujur tubuhnya melemas, tak sanggup lagi ia menopang tubuhnya, sampai pada akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Nyonya...."jerit Dita histeris, begitu mendapati majikannya tak sadarkan diri usai memuntahkan segala isi perutnya. Rasa takut kian hinggap pada seorang gadis berseragam pelayan itu. Sekuat tenaga, ia mencoba mengguncang tubuh majikannya dan menepuk pipinya, berharap majikannya akan bangun saat itu jugam


"Nyonya, bangun nyonya apa yang terjadi.."isaknya, tangannya tampak gemetar takut. Kini wajahnya memucat begitu melihat cairan darah keluar dari hidung majikannya.


"Da-darah..."gumamnya terkejut.


"Tolong...."teriak Dita, rasa kalut semakin hinggap. Ia harap takkan terjadi apapun pada majikannya itu.


Tak lama Bi Nah datang bersama Mama Mesya.


"Nyonya..."


"Calista..."


β€’β€’


Like


Komentar


Hadiah


Vote

__ADS_1


Tbc


__ADS_2