
"Dari mana kamu..."
Sebuah suara bariton mengejutkan Jona yang baru masuk ke dalam rumah.
"Pah, aku tadi-"
Plakk..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya di susul dengan tatapan tajam. Pria paruh baya itu menyambar sebuah amplop di atas meja, lalu mengeluarkan isinya, dan melemparkannya pada Jona.
"Begini kelakuanmu di luar sana? Sampai kapan Jona, kau membuat papa malu..."bentaknya.
Beberapa lembar foto yang sempat di lempar di wajahnya terjatuh tepat di bawah kakinya, Jona membulatkan matanya, itu merupakan foto dirinya dan Angela tadi siang, bagaimana papanya bisa tau.
"Jawab!!"
Apa yang mesti di jawab, percuma jika Jona bicara toh papanya sudah tau semuanya.
"Selama ini papa diam mengenai perilaku itu, tapi kau bukannya makin sadar, kau justru makin menjadi, papa tak tau pola pikir mu. Jika kau terus seperti ini, papa akan mencabut seluruh fasilitas mu beserta jabatan mu di kantor..."ancam Julian pada sang putra.
Jona terkejut mendengar ancaman papanya, "jangan begitu dong pa-"
"Jauhi dia Jona, putuskan hubungan kalian, dia bukan wanita yang baik.."
"Tapi aku tidak mau.."
"Kalau kau tidak mau, papa akan dengan senang hati melakukan ancaman yang tadi papa buat..."
"Pa ada apa sih ini, kok ribut-ribut.."Liliana datang mendekati keduanya.
Julian mendesah, menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur emosinya kini, "putuskan dia, dan persiapkan dirimu Minggu depan papa akan membawamu bertemu calon istrimu.."perintah Julian.
"Calon istri..?"Jona terkejut.
"Ya, papa sudah putuskan. Kau harus segera menikah.."jelasnya.
"Menikah? Pa aku tidak mau..."Jona berusaha menolak.
Julian tersenyum sinis, "aku tidak butuh persetujuan mu, mau tak mau kau tetap harus menikah dengan gadis pilihan papa.."
__ADS_1
"Aku akan menikah pa, tapi dengan gadis pilihanku bukan karena di jodohkan.."kilah Jona.
Julian terkekeh, "gadis pilihanmu? Seperti apa? maksudmu ******-****** yang selama ini memuaskan mu.."sindirnya yang membuat Jona terdiam.
"Pa.."panggil Liliana pada suaminya, Julian mengangkat tangannya menyuruh istrinya untuk diam.
"Nasehati putramu,.."titahnya pada sang istri sebelum dirinya melangkah menjauh dari sana.
"Ma aku tidak mau..."
"Menurutlah sayang. Mama yakin pilihan papamu yang terbaik, dia tak akan mungkin membuat kamu kecewa.."tutur Liliana pada putra tunggalnya itu, ia menepuk pundak putarnya, "sekarang bersihkan dirimu, setelah itu makan.."sambungnya.
Jona melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Aaaaaaaaa.. sial! Papa benar-benar mengancamku.."Jona meremas rambutnya frustasi.
••
"Kenapa? datang malam-malam itu mengganggu,.."cetus Darren saat melihat wajah Jona tepat di hadapannya sahabatnya itu terlihat sedang frustasi.
Tanpa menjawab Darren, Jona melangkahkan kakinya masuk ke dalam, lalu mendudukan dirinya di sofa.
"Gue datang bertamu, Lo bukannya ngasih gue minum atau makanan gitu, ini malah ngomel-ngomel.."
"Gak-gak, gak ada makanan atau minuman, ntar Lo makin lama di sini, gue capek ngantuk.."seru Darren.
"Setan! btw di mana Calista.."tanya Jona.
"Lo gak lihat ini jam berapa? dah tidurlah semua, Lo sih bertamu gak tau waktu..'
Jona melirik arloji di tangannya, memang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, "gue di suruh nikah.."
"Nikah?"
Jona mengangguk.
"Ya udah tinggal nikah doang kok ribet.."
"Masalahnya gue gak tau mau di nikahkan dengan siapa?"
__ADS_1
"Jadi-"
"Gue di jodohin.."ucapnya, sontak Darren tertawa terpingkal-pingkal.
"Setan! malah ketawa lagi.."
"Terus gue harus gimana, bukannya emang harusnya gini ya, gue seneng kali, sahabat gue mau nikah.."
"Gue gak mau nikah.."ucap Jona kesal.
"Kenapa?"
"Aku gak siap untuk komitmen, males. Tapi kalau gue gak nuruti kemauan papa, gue bisa di depak dari ahli waris, gak lucu kan kalau Jika yang tampan ini jadi gelandangan.."tuturnya sembari mengusap wajahnya.
"Lalu kau ingin bagaimana? kabur.."
"Pengen, tapi.."
"Jangan jadi pengecut, menurut gue ni ya. Lo terima saja perjodohan itu. Memangnya Lo mau menunggu nikah dengan siapa lagi, banyak wanita yang ku kenal darimu hanyalah wanita-wanita yang seperti itu lah, gue takut kelamaan Lo celup sana celup sini Lo kena hukum karma Jo.."
"Setan! Lo nyumpahi gue.."seru Jona.
Darren terkekeh, "gue ngingetin doang kali.."
"Gue pikirin lah nanti saran Lo. Btw gue tidur sini ya.."
"Gak, enak saja sana pulang.."usir Darren.
"Males ah, gue ngantuk. Gue kangen ponakan gue, gue tidur sama Senja deh.."pinta Jona.
"Sejak kapan anak gue punya om kaya Lo, gak Sudi gue... Pulang sana.."
"Ish.. Gini-gini gue bakal jadi om kebanggaan Senja nanti..."ucap Jona percaya diri.
"Serah Lo deh, sana pulang. Gue mau tidur.."
"Dasar teman gak ada akhlak, gue lagi sedih bukannya di hibur malah di usir.."decak Jona sembari melangkahkan kakinya keluar dari rumah Darren.
••
__ADS_1
Tbc