
Beberapa hari berlalu kondisi Senja pun sudah membaik, berat badannya sudah naik. Darren dan Calista memutuskan untuk membawanya pulang, menurutnya terlalu lama berada di rumah sakit juga tak baik untuk Senja.
Darren membujuk istrinya untuk tetap berada di rumah sakit, agar dokter terus memantau kesehatannya, namun Calista menolak dengan tegas.
"Aku ingin pulang mas, ku mohon.."pinta Calista dengan sedikit memaksa.
"Tapi sayang, bukankah jika berada di sini akan lebih baik untukmu, dokter akan dengan gampang memantau kondisi tubuhmu..'uajr Darren yang tengah berusaha membujuk istrinya.
Hiks.. hiks.. Calista mulai terisak.
"Jahat!.."ucapnya pada suaminya.
"Kau ingin aku mati terus berada di rumah sakit ini, aku benci mas. Kau tau aku merasa tak bebas bernafas selama berada di sini, dengan aku terus berada di sini, aku seperti teringat bahwa aku akan mati mas.."ucap Calista.
Darren menggeleng, "kenapa bicaramu begitu? Jangan katakan apapun tentang kematian, aku tak mau mendengarnya.."
"Memangnya apa yang harus aku katakan, aku tau penyakit yang ku derita ini sudah parah, hanya kemungkinan beberapa persen aku sembuh mas, aku ingin menghabiskan sisa umurku dengan putriku mas, ku mohon.."pinta Calista.
Darren mengepalkan tangannya, sungguh ia merasa tak suka saat sang istri mengungkit kata kematian. Emosinya kian melanda.
Nancy mendekati Darren lalu mengelus lengannya, seolah menyuruhnya untuk tenang menahan emosinya. Darren menatap wajah ayah mertuanya, Aeron tampak menganggukkan kepalanya ia memberi kode lewat kedua matanya pada Darren.
"Baiklah, aku akan bicarakan pada dokter.."seru Darren.
•••
Mobil mercy tiba di depan kediaman Darren, seorang penjaga bergegas membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
Senja yang berada dalam gendongan Mona pun tampak tertidur lelap, bayi mungil itu sama sekali tak terusik. Darren membantu Calista untuk turun dari mobil. Ya, usai pembicaraan dengan dokter, Calista di perbolehkan pulang.
Meski begitu pihak keluarga sudah menyiapkan dokter pribadi untuk Calista. Serangkaian jadwal pengobatan untuk Calista pun sudah ia susun rapi, tak tanggung-tanggung Darren mencarikannya seorang dokter dari luar negeri demi istrinya, ia harap Calista dapat sembuh. Meski begitu rasa takut kerap hinggap pada hatinya, saat kembali mengingat penjelasan dokter.
Mengingat riwayat penyakit Nyonya Calista yang cukup parah, kemungkinan hanya beberapa persen untuk sembuh, kami tak bisa menjamin kesembuhannya, tapi ini dapat mengulur waktunya. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan.
Darren menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala pikirannya itu, apapun itu Calista harus sembuh.
"Mas..."panggil Calista, ia menepuk tangan suaminya membuat Darren terlonjak.
"Ya sayang, ada apa?"jawab Darren.
"Kamu ngelamunin apa sih?"
"T-tidak, aku hanya-"
Darren menghela nafasnya, "kamu bicara apa sih sayang? kalian itu segalanya buat aku ,"ucapnya.
Darren kembali mendorong kursi roda Calista menuju kamar Senja, membuka pintu mereka dapat melihat dekorasi kamar itu yang berwarna pink, dengan aneka gambar di temboknya.
Oek.. oek...
Terdengar tangisan Senja dalam gendongan Mona.
"Kenapa Bu? Dia rewel..?"tanya Calista cemas.
Mona tampak berusaha menenangkan sang cucu, "tidak sayang, dia hanya lapar dan haus. Ini biasa untuk seorang bayi..."
__ADS_1
Tak lama Dita muncul dengan membawa sebotol susu formula, "ini Nyonya.."ucapnya sembari memberikan botol susu itu.
Mona menerimanya, lalu memberikannya pada Senja, Mona membawanya duduk di pinggir ranjang, tampak Senja tengah menghisap botol susu itu dengan rakus. Semua itu tak luput dari tatapan Calista, ia memandang sedih ke arah putrinya.
"Aku ibu yang tak baik ya mas. Harusnya sebagai seorang ibu aku bisa merawat dan memberikan dia ASI.."seru Calista dengan perasaan bersalah.
"Tidak sayang kamu ibu yang baik dan hebat, percayalah Senja juga akan merasa bangga mempunyai ibu seperti mu..."ujar Darren.
••
"Maaf ya Dita aku menambah pekerjaanmu, kamu harus merawat Senja juga.."ucap Calista pada Dita, ia melihat Dita dengan cekatan memandikan Senja, mengganti pakaian dan popoknya.
"Nyonya ini sudah menjadi pekerjaan saya, jadi jangan merasa bersalah, saya senang melakukannya. Nona Senja begitu lucu..."sahut Dita.
"Aku mungkin akan sering merepotkan mu dalam merawat Senja, karena aku pasti akan sering keluar masuk rumah sakit.."seru Calista.
Dita tersenyum mengangguk, "pikirkanlah kesehatan anda Nyonya, anda harus semangat untuk sembuh demi Nona Senja.."
"Aku tau, terimakasih..."
Dita membawa Senja untuk ia letakkan di box tempat tidurnya, "kau begitu cekatan dalam mengurus bayi, nanti saat kau punya bayi sendiri kau pasti sudah terbiasa.."seru Calista.
Dita tersenyum kecut, bayi? benarkah ia akan mempunyai bayi? hah dengan siapa pikirnya.
••
Tbc
__ADS_1